Sepatu – Sebuah Epilog

“Iya, ini lagi nunggu visa Schengen nya. Udah apply sih. Biar bisa euro trip libur kali ini” kata gue di salah satu sesi facetime kami.

Begitu semua awalnya bermula. Chatting gue dengan Sepatu Kiri.

Komunikasi yang dulu pernah berjalan sangat intens, kini sudah sangat jarang sekali terjadi. Bentuknya bisa hanya sekedar pertanyaan “kamu apa kabar?” via aplikasi chatting berwarna hijau sebulan sekali atau sesi Facetime seperti ini. Gue kini sepenuhnya paham kalau jarak memang bisa membunuh perasaan.

“Seru banget! Ke negara apa aja?” katanya penasaran.

“Amsterdam, Berlin, Budapest, Roma ….”

“Wait..wait… kamu… ke Budapest tanggal berapa?” dia memotong gue sebelum gue selesai bicara.

“Tanggal 13 sore sampai 16 April, tiga hari. Jadi ulang tahunku nanti di sana”… Lanjut ta.. | 33 Comments

My Other Social Media

Bagi yang nggak sabar nungguin postingan di blog ini yang cuma muncul seminggu sekali (kalau nggak males), gue sering main social media yang lain kok. Gue lagi memaksimalkan semua sosial media gue nih.

1. Instagram :

Di sini gue bermain bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kamera. Kebanyakan sih foto-foto hasil jalan-jalan gue. Siapa tau jadi travel writer nantinya.

https://instagram.com/romeogadungan/

2. Ask.fm

Di sosial media yang ini, gue ngejawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Suka random sih, mulai dari asmara, karir ampe isu harga bbm.

http://ask.fm/romeogadungan

3. Twitter

Kalau lagi pengen monolog, gue kadang suka ngetwit random di

https://twitter.com/romeogadungan

 

Silakan yang mau follow… Lanjut ta..

Kenaikan harga BBM, wajarkah?

Artikel ini gue buat untuk salah satu koran lokal di Aceh, berisi opini gue tentang kenaikan harga bbm. Kayaknya layak buat gue bagi di blog ini :

Kenaikan harga bbm seringkali disusupi oleh kepentingan-kepentingan politik pihak-pihak yang ingin menggoyang pemerintahan. Sudah sejak jaman dahulu kala, ‘emas hitam’ menjadi komoditas panas yang bisa memicu konflik antar dua pihak yang saling beradu kepentingan.

Begitu juga yang terjadi di Indonesia, setiap kali pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga eceran bahan bakar minyak, maka saat itulah gelombang penolakan langsung bermunculan. Dimulai dari politikus-politikus oposisi pemerintah, pengamat-pengamat dadakan hingga organisasi-organisasi mahasiswa yang langsung bereaksi keras terhadap kebijakan pemerintah ini.

Kenaikan harga bbm acapkali dituding memberatkan rakyat kecil karena berimbas kepada naiknya harga bahan-bahan pokok. Bukannya membedah masalahnya dengan objektif, isu bbm… Lanjut ta.. | 1 Comment

Dua Puluh Tujuh

Sepertinya ada dua tanggal dalam satu tahun yang selalu gue sempetin buat menulis postingan baru di blog ini. Tahun baru dan tanggal ulang tahun gue. Lima belas April.

Sudah jadi kebiasaan sejak bikin blog ini untuk menuliskan sesuatu di kedua tanggal itu. Tujuannya sih sederhana, buat jadi reminder pribadi gue untuk selalu tau apa yang gue mau dan apa yang gue harus lakukan.

Kali ini postingannya mungkin akan sedikit berbeda. Untuk pertama kalinya, gue merayakan ulang tahun di negara orang lain. Bukan Scotlandia tempat gue belajar saat ini, tapi Budapest, Hungary.

Oke, gue ceritain sedikit.

Kota ini menjadi serangkaian kota yang akan gue jalani dalam rangka eurotrip yang gue lakukan bersama teman-teman kampus. Mimpi untuk melihat dunia yang pernah gue tulis di… Lanjut ta.. | 11 Comments

Turnamen badminton di Scotland

Di Aberdeen, gue mencoba untuk terus mempertahankan hobi olahraga gue, salah satunya badminton.

Untuk menjaga kebugaran, gue bela-belain beli raket dan sepatu agar bisa tetap main badminton di sini. Awalnya gue agak bingung mau beli raket badminton di mana. Setelah nanya kiri kanan, teman-teman gue menyarankan untuk beli online di Amazon.

Ini adalah kali pertamanya gue belanja di Amazon.

Belanja di Amazon sudah dengan harga pas, nggak kayak belanja di Kaskus. Di Amazon nggak ada pertamax, no Rosa, no Afgan atau kirim-kirim cendol abis transaksi. Pokoknya tinggal pilih, bayar, jadi, dan tunggu barangnya diantar ke alamat.

Setelah beli raket dan sepatu olahraga, gue memberanikan diri untuk bergabung di klub badminton universitas. Tujuannya sih cuma buat latihan rutin biar gue tetap olahraga selain kuliah. Fasilitas olahraga kampus… Lanjut ta.. | 6 Comments

Salmon dan Garam

“Itu ikannya ditaro lemon ama garam duluuuu… biar gak amis.” dia memarahi gue.

Karena skill memasak gue emang hampir mendekati nol, gue cuma diam dan menuruti apa katanya. Dan dia adalah satu-satunya yang punya cukup kesabaran untuk mengajari gue cara memasak.

Sejak kuliah di sini, gue mau nggak mau harus belajar memasak. Selain harga makanan yang lebih mahal dan menyiksa uang beasiswa gue, perut gue sepertinya tidak bisa mentolerir lagi makanan-makanan bule yang tersedia.

Burger, pizza, atau pasta sudah tidak bisa lagi gue terima. Berat badan gue susut beberapa kilogram sejak tiba di sini. Jadi, belajar memasak adalah opsi yang paling logis yang bisa gue lakukan.

“Nantinya apinya jangan kegedean ya..” ujarnya mengingatkan.

“Siap chef!” ujar gue singkat.

Jemari gue sibuk melumuri… Lanjut ta.. | 7 Comments

Tipe-tipe pelajar di Aberdeen

Setelah hampir tiga bulan kuliah di sini, gue mulai bisa memahami krakter orang-orang dari setiap negara.

Perbedaan budaya tenyata bisa menjadi gap yang sangat besar dan butuh pengrtian lebih untuk saling mengerti karakteristik masing-masing orang. Hidup di lingkungan yang majemuk benar-benar jadi tantangan yang menarik buat gue.

Dengan kuliah di Aberdeen, gue mendapat kesempatan ini. Mayoritas siswa postgraduate di kampus gue emang mahasiswa internasional. Hampir nggak ada satu pun negara yang mendominasi di semua kelas yang sudah gue ambil.

Misalnya kelas Leadership Challenge yang baru gue selesaikan kemarin. Dari hampir seratus ribu dollar siswa yang mengikuti kuliah itu, mereka datang dari negara-negara yang berbeda. Ada hampir tiga puluh negara yang berpartisisapi mengirimkan siswanya ke kelas gue.

Ketika dalam kondisi mengantuk dan nggak konsen (yang biasanya akibat… Lanjut ta.. | 10 Comments

Kangen Indonesia

Setelah hampir tiga bulan meninggalkan Indonesia, beberapa hari ini gue homesick. Bukan, ini bukan homesick kangen keluarga. Tapi homesick kangen Indonesia.

Gue yang biasanya sedikit apatis terhadap nasionalisme semu, tapi beberapa ini gue malah mendadak cengeng terhadap Indonesia.

Dan beberapa hari lagi, PPI Aberdeen bakal bikin Wonderful Indonesia. Sebuah acara malam Indonesia yang terbuka untuk umum. Tujuannya agar memperkenalkan Indonesia ke orang-orang di Aberdeen.

Dan dengan adanya acara ini malah bikin gue kangen Indonesia.

Ntah kenapa, berada jauh dari Indonesia malah membuat rasa nasionalisme semakin tinggi. Rasanya rindu sekali dengan Indonesia. Makanannya, keramahannya, senyum orang-orangnya.

Ini seolah menjelaskan kenapa nggak banyak orang Indonesia yang merantau dan menetap di luar negeri. Rata-rata orang Indonesia yang sekolah ke luar negeri akan selalu kembali ke Indonesia. Tidak seperti… Lanjut ta.. | 2 Comments

Berbagi Dunia

Di Aberdeen, gue tinggal di Hillhead Flats, suatu akomodasi yang disediakan pihak kampus. Sebenarnya selain Hillhead, ada beberapa jenis akomodasi kampus yang tersedia. Beberapa letaknya lebih dekat, cuma sekitar lima menit berjalan kaki dari dan menuju kampus.

Karena gue masuk di bulan Januari, sebagian besar akomodasi yang dekat dengan kampus tadi sudah penuh. Yang tersedia cuma Hillhead Flats yang berada dua puluh menit dari kampus jika berjalan kaki.

Tapi malah Hillhead Halls adalah tempat tinggal utama bagi sebagian besar mahasiswa yang kuliah di University of Aberdeen. Jauh lebih ramai dari akomodasi kampus lainnya.

Di tempat ini, terdapat beberapa bangunan semacam apartement yang dibagi-bagi untuk tempat tinggalnya. Setiap flat biasanya terdiri dari lima kamar tidur, dua kamar mandi, satu dapur yang luas yang juga berfungsi sebagai communal area

Capek jadi pendukung Jokowi.

Sejak tulisan gue yang ini, banyak yang menduga dan mencap gue sebagai Jokowers, Pasukan Nasi Bungkus atau apapun gelar yang diberikan kepada para pemilih Jokowi oleh (biasanya) para pendukung Prabowo.

Nggak masalah buat gue, karena di pilpres yang lalu, gue memang mendukung Jokowi-JK di antara pilihan yang ada. Semua alasannya sudah gue jabarkan di tulisan tadi di atas. Gue rasa alasan-alasan gue cukup logis kok (Kalau belum baca, coba baca dulu gih!)

Tapi makin ke sini, gue makin ngerasain susahnya jadi pendukung Jokowi-JK pada pilpres yang lalu (gue sengaja meletakkan keterangan waktu di kalimat itu).

Gue capek jadi pendukung Jokowi.

Bukan karena menyesal udah mendukung dan memilih mereka, tapi karena lelahnya melihat kebencian yang disebarkan orang-orang yang tidak memilih Jokowi kemarin.

Iya, kebencian. Let me explain.

Gue bukannya memuja pemerintahan Jokowi-JK, tapi… Lanjut ta.. | 14 Comments