Attraction

Waktu itu, gue dan seorang sahabat baik sedang ngopi di salah satu kedai kopi di Kemang. Di antara berisiknya lalu lalang kendaraan di luar jendela kaca, kami bertukar cerita. Kali ini, topik pembicaraan kami masih sama.

Wanita.

Dalam kondisi resah, dia sedang menceritakan situasi yang sedang dialaminya ke gue, bagaimana susahnya dia mengubah status yang awalnya ‘kasual’ berubah menjadi sesuatu yang lain terhadap seorang wanita yang sedang dia suka.

“Ya lo ajak keluar lah!” kata gue waktu itu.

“Udah. Tapi perginya selalu rame-rame ama yang lain.”

“Nggak pernah berdua?” tanya gue.

Dia cuma menggeleng.

“Sini, kirim chat ke dia sekarang. Ajak keluar minggu depan. Udah umur segini gak usah lah bersembunyi dibalik status pertemanan kalau emang suka ama cewek.”

“Tapi terlihat pengen… Lanjut ta.. | 16 Comments

She Has Everything

Beberapa minggu yang lalu, gue lagi dekat dengan seorang wanita yang gue tulis di sini. Dia, kalau bisa gue bilang, hampir mendekati sempurna. Hal senada juga diucapkan teman-teman gue setiap kali gue menceritakan hal ini.

“Gila, Ta. Ada ya cewek kayak gini? Kok mau dia nanggepin elo?” kata temen gue waktu itu. Gue hanya bisa senyum-senyum bego mendengar komentar teman-teman gue.

Dia menanjak pasti di daftar cewek paling mustahil yang bisa gue dapat, tepat di bawah Raline Shah.

She’s definitely out of my reach. Serius.

Belum pernah gue ngerasa kayak gitu. Biasanya sih gue pede-pede aja untuk ngedeketin cewek mana pun yang gue suka. Gue pun berpikir keras dan mulai menyusun rencana.

I need to impress her! Like any other men would do when they

Rentak Harmoni – Sebuah Review

Beberapa hari yang lalu, gue mendapatkan undangan untuk menyaksikan Rentak Harmoni di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Gue dan beberapa blogger/penulis lain seperti Roy, Sarah dan Kang Adhitya Mulya udah janjian untuk nonton bareng di TIM.

Rentak Harmoni ini adalah pagelaran drama musikal tentang pendidikan yang dibikin oleh Alumni Pengajar Muda Yayasan Indonesia Mengajar.

Pagelaran Rentak Harmoni di hari Sabtu kemarin sebenarnya ada dua kali. Acara yang siang lebih ditujukan untuk keluarga, pers dan media. Sedangkan acara yang malam ditujukan untuk umum. Beberapa hari menjelang acaranya berlangsung, gue udah dapet kabar kalau tiketnya udah sold out.

Demand untuk acara musikal di Indonesia masih tinggi tampaknya. Apalagi event ini dibikin oleh sukarelawan sukarelawati Gerakan Indonesia Mengajar. Buat gue, acara ini tampak… Lanjut ta.. | 3 Comments

Tuhan Sedang Bercanda

Semakin kita tua, rasanya semakin sulit untuk jatuh cinta.

Ada aja penyebabnya. Mulai dari checklist yang semakin bertambah panjang, masalah kecocokan, hingga hal-hal yang sebenarnya nggak terlalu dipikirin sebelumnya seperti pekerjaan atau suku.

Gue sendiri merasakan hal ini.

Rasanya semakin susah aja buat gue untuk tertarik dengan seorang wanita. Banyak yang hanya berakhir di sebuah coffee date, tanpa ada kisah selanjutnya.

Terkadang alasannya dari pihak wanitanya, tapi sering kali, gue adalah penyebab utamanya.

Nggak tertarik. Se-simple itu, tanpa perlu menjelaskan lebih jauh.

Sejak kisah gue dengan Sepatu Kiri, hanya ada seorang wanita yang bisa membuat gue tergerak untuk mengejarnya lebih jauh.

Perkenalan gue dengan dia dimulai dari sebuah platform social media.

Posisinya sebagai salah satu orang yang berpengaruh di platform

Dua Ribu Enam Belas

Seperti sudah menjadi sebuah keharusan kalau di awal tahun baru gue menulis sebuah postingan untuk penutup dan pembuka tahun yang akan datang untuk blog ini.

Dimulai dari beberapa tahun yang lalu, kebiasaan ini menjadi semacam reminder buat gue tentang apa yang sudah gue lakukan dan apa yang akan gue lakukan tahun depan.

Kalau dilihat ke belakang, tahun 2015 telah berjalan sangat luar biasa buat gue. Di tahun 2015, gue berhasil mencoret beberapa bucket list yang selama ini masih menggantung. Mulai dari melanjutkan studi gue ke level master, menerbitkan buku, hingga melakukan eurotrip pertama gue.

Rasanya menyenangkan sekali bisa melakukan hal-hal yang selama ini sudah gue mimpikan. Hal-hal yang sudah masuk sebagai resolusi tahun baru gue sejak tahun 2011.

Gue rasanya… Lanjut ta.. | 6 Comments

One Year in Aberdeen

An amazing year with amazing people… Lanjut ta.. | 3 Comments

Goodbye Aberdeen

Beberapa malam yang lalu gue diundang ke acara ulang tahun temen gue. Acaranya sih biasa aja. Cuma nongkrong di pub sambil makan.

Ketika sudah menjelang tengah malam, gue ijin buat pulang duluan. Badan yang masih terlalu lelah akibat beraktivitas seharian tampaknya nggak bisa diajak kompromi.

Usia emang nggak bisa bohong.

Union Street, jalan paling ramai di Aberdeen, sudah tampak sepi. Ketika musim dingin seperti ini, orang-orang memang memutuskan untuk banyak berdiam di rumah. Bayangkan saja, matahari sudah tenggelam sejak pukul empat sore.

Gue menarik resleting jaket lebih tinggi hingga ke leher. Angin musim dingin yang berasal dari laut Utara mencoba menyusup masuk ke badan. Acara ulang tahun tadi yang sedikit bernuansa dadakan membuat gue tidak sempat untuk memakai jaket yang lebih tebal. Suhu udara mencapai nol… Lanjut ta.. | 11 Comments

Kampung Indonesia

Setelah hampir setahun meninggalkan Indonesia, dan mengunjungi belasan negara, ada satu hal yang aneh yang gue temukan.

Gue nggak bisa menemukan Kampung Indonesia, suatu daerah yang mayoritas ditinggali oleh orang-orang Indonesia.

Bandingkan aja ama Kampung China (Chinatown). Gue kira di kota mana aja, pasti ada daerah yang ditinggali oleh mayoritas orang China dan terasa seperti di China.

Di Chinatown, menemukan hal-hal dari Tiongkok itu gampang banget, mulai dari pernaik-pernik hingga makanan. Dan begitu juga dengan India. Rasanya gampang banget ketemu orang India dan makanan India di kota mana saja.

Tapi sepertinya halnya ini berbanding terbalik ama Indonesia.

Di Aberdeen aja misalnya, nggak ada restoran Indonesia. Lebih mudah buat kita untuk menemukan restoran Thailand atau Vietnam di sini. Banyak teman-teman gue yang penasaran dengan masakan Indonesia… Lanjut ta.. | 14 Comments

Kerja part-time di Aberdeen

Bekerja sebenarnya bukan hal yang baru buat gue. Keinginan untuk mandiri sudah ada di diri gue dari kecil. Mulai dari berjualan waktu SD hingga mencari orderan konveksi waktu kuliah di Bandung. Dan sepertinya, kebiasaan itu terbawa hingga ke Aberdeen.

Sebulan terakhir, ada kesibukan baru dalam hidup gue di Aberdeen. Bekerja part-time.

Kombinasi hobi traveling gue dan keparatnya Amazon dan eBay semakin menguras tabungan gue. Sebenarnya bisa aja sih gue survive di Aberdeen sampai selesainya masa studi nanti, tapi rasanya sayang aja gitu gue ngabisin tabungan dan gue gak pengen begitu balik ke Indonesia, gue harus makan nasi aking.

Alhasil beberapa waktu yang lalu, gue mulai nyari-nyari info lowongan kerja part-time di Aberdeen.

Secara garis besar, ada beberapa jenis pekerjaan part-time di Aberdeen untuk para mahasiswa. Ada yang… Lanjut ta.. | 22 Comments

Aberdeen Mengubahku

Tinggal dan belajar di Aberdeen mungkin sejauh ini menjadi salah satu fase dalam hidup gue yang paling menarik. Berbeda aja rasanya dari semua fase hidup lain yang sudah gue jalani. Menghabiskan waktu SD di Medan, SMP dan SMA di Banda Aceh, kuliah di Bandung hingga kerja di Jakarta.

Ada beberapa aspek yang berubah dari gue dan sudut pandang gue selama tinggal di Aberdeen.

Mungkin untuk yang membaca tulisan ini, sebagian akan terasa sangat remeh, tapi buat gue pribadi, hal itu menjadi hal yang lumayan signifikan.

Beberapa hari yang lalu, gue melakukan sedikit self-reflection dan kepikiran untuk membuat sebuah postingan blog untuk hal ini. Melihat kembali hidup gue setahun ke belakang, dan menyadari ada beberapa hal dalam hidup gue yang berubah, mulai dari hal-hal yang nggak penting ke hal-hal… Lanjut ta.. | 20 Comments