Semakin kita tua, rasanya semakin sulit untuk jatuh cinta.

Ada aja penyebabnya. Mulai dari checklist yang semakin bertambah panjang, masalah kecocokan, hingga hal-hal yang sebenarnya nggak terlalu dipikirin sebelumnya seperti pekerjaan atau suku.

Gue sendiri merasakan hal ini.

Rasanya semakin susah aja buat gue untuk tertarik dengan seorang wanita. Banyak yang hanya berakhir di sebuah coffee date, tanpa ada kisah selanjutnya.

Terkadang alasannya dari pihak wanitanya, tapi sering kali, gue adalah penyebab utamanya.

Nggak tertarik. Se-simple itu, tanpa perlu menjelaskan lebih jauh.

Sejak kisah gue dengan Sepatu Kiri, hanya ada seorang wanita yang bisa membuat gue tergerak untuk mengejarnya lebih jauh.

Perkenalan gue dengan dia dimulai dari sebuah platform social media.

Posisinya sebagai salah satu orang yang berpengaruh di platform itu membuat gue memutuskan untuk mengklik tombol ‘follow’.

I like her answers and her personality in that platform.

That’s it, tanpa interaksi tambahan.

Gue cukup tau menyapanya hanya akan membuat gue tidak lebih dari seorang penggemar (dari ribuan yang ada) yang terobsesi dengan wajah cantiknya.

Fast forward setahun kemudian, ketika rentetan likes darinya masuk ke laman gue. Sebuah peristiwa yang terlalu aneh jika disebut sebagai sebuah kebetulan. Hal ini membuat gue memberanikan diri untuk menyapanya.

“What do I owe for being followed by you in this platform?”

“Haha, nggak. Jawabannya emang bagus-bagus jadinya aku like” jawabnya singkat.

Respon yang ramah, yang membuat nyali gue muncul untuk sebuah pertanyaan tambahan. Dan pertanyaan tambahan berikutnya. Dan pertanyaan tambahan berikutnya.

Percakapan di tab questions itu akhirnya berlanjut ke Line. Ratusan baris percakapan akhirnya berlanjut ke suara yang bertukar di udara.  Perbedaan waktu antara Aberdeen dan Jakarta seolah bukan menjadi masalah untuk kami berdua.

Belakangan gue tau, dia baru saja putus dari pacarnya dan tentu saja gue sambut dengan rasa suka cita.

Dan tanpa disadari, I kinda like her personality in real life too.

Harus gue akui, nggak banyak wanita yang bisa membuat gue betah ngobrol di telepon hingga berjam-jam. Mulai dari ngobrolin hal-hal remeh seperti ‘siapa yang harusnya membayar di kencan pertama’ hingga hal-hal yang serius seperti isu-isu LGBT.

Semua percakapan mengalir lancar tanpa paksaan. Percakapan dengannya mengalir memicu diskusi tanpa harus menghakimi.

And to be honest, I am attracted to this girl in a very mysterious way.

***

Hari-hari terakhir gue di Aberdeen berlangsung lebih menyenangkan. Ada rutinitas baru yang mulai bisa gue nikmati.

My conversation with her becomes the highlight of my day. I don’t know how to define this feeling but, I like it.

And some little part of my heart says, I hope this ends well.

***

Sore itu gue dikejutkan dengan beberapa baris Line darinya.

Tanpa perlu gue tulis lebih jauh, intinya adalah bagaimana kebimbangannya menghadapi mantannya yang meminta untuk balikan. Dan dia meminta saran gue.

Gue menyadari sepenuhnya kalau dia belum benar-benar ‘pindah’. Dari rasanya nyaman yang sudah muncul dari hubungan sebelumnya.

Sebuah dilema mendadak muncul di hati gue.

Menyarankan ‘iya’ akan membuat gue kehilangan rutinitas yang selama ini mulai gue nikmati. Dan menyarankan ‘nggak’ akan mengubah gue sebagai pecundang yang hebat.

Hanya jawaban diplomatis yang bisa keluar dari mulut gue waktu itu. Memintanya untuk memikirkan semuanya secara baik-baik sebelum mengambil keputusan.

“Never make a permanent decision with temporary feelings” kata gue waktu itu.

Terdengar bijak yang jujur, terasa seperti dipaksakan. Karena memang sebagian kecil dari hati gue sedang merasakan kecewa.

Tuhan sepertinya sedang bercanda. Mengetahui ada satu insan-Nya yang sedang berbahagia, lalu Dia mengubahnya begitu saja.

Kabar berikutnya yang gue dengar, dia memutuskan untuk kembali dengan pria yang sama.

Dan dengan legawa, gue memutuskan untuk menjaga jarak. Mengurangi interaksi dengannya. Melangkah pergi dengan harga diri yang masih sedikit tersisa.

Dan kali ini gue benar-benar yakin, kalau Tuhan sedang bercanda.

Dia menjatuhkan gue kepada sebuah hati yang ada pemiliknya.