Selasa, 09.05 WIB

Setengah berlari, gue mengejar taksi burung biru yang berhenti agak jauh didepan. Kombinasi lembur tadi malam, dan handphone yang lupa di cas membuat gue sukses untuk bangun kesiangan pagi ini.

Untungnya, ketukan si bibik kosan yang meminta baju kotor di pintu kamar bisa membangunkan gue.

Minggu ini adalah minggu kedua gue kerja di kantor ini. Resign dari kantor yang lama dengan alasan ketidak cocokan dengan bos, membuat gue tidak berpikir dua kali dalam menerima tawaran kantor baru ini.

Lagi pula dengan posisi yang sama, ditawarkan gaji yang lebih baik. Not bad, huh?

Tapi sayangnya, kenaikan di sisi penerimaan bulanannya tidak berbanding lurus dengan kehidupan asmara gue. Oia sebelum curhat lebih jauh, kenalin, nama gue Yudha.

Tamat dari jurusan teknik informatika dari Institut Gajah Duduk dan menjadi seorang IT engineer ternyata gak cukup membuat gue ‘terlihat’ di mata wanita.

Ngga banyak cewe-cewe yang tertarik dengan seorang IT engineer.

Tidak seperti mereka anak hukum yang pintar bersilat lidah atau bahasa kerennya ‘sepik”, atau anak ekonomi yang gaul, anak IT cenderung lebih pendiam.

Ya kayak gue ini.

Efeknya, gue hampir tidak bisa menemukan topik yang nyambung ketika berbicara dengan wanita. Kayaknya ngga mungkin nemu wanita yang ngerti masalah server, jaringan atau coding. The point is, I’m so bad at romance.

Oh shit, kebanyakan melamun dan sekarang gue telat. Turun dari taksi, gue langsung sedikit berlari mengejar lift yang hampir tertutup.

“Hei, tunggu!” kata gue sedikit berteriak.

Dan lift itu nyaris tertutup, ketika kemudian pintu itu terbuka lagi.

Dan sebuah wajah cantik berdiri disana sambil jarinya menekan tombol “open”

“Thank you..” kata gue sambil membenarkan posisi  kacamata minus gue dengan napas yang tersengal

“Sama-sama” kata dia tersenyum.

Cantik!

Dia menekan lantai 8, dan gue sendiri lantai 15.

Dan keheningan aneh yang biasa terjadi didalam lift pun terjadi. Sekilas gue perhatikan gadis ini. Kemeja putih, rok selutut, rambut hitam serutan kayu yang diikat keatas.

Okay, yang ga tau rambut serutan kayu itu apa, bakal gue kasi tau. Rambut serutan kayu, adalah model rambut yang mirip kayu yang keluar ketika kita meraut pensil. Keriting-keriting melingkar gitu. Karena gue gak tau itu model apa. Gue kasi nama ‘rambut serutan kayu’.

Ding!

Lift berenti di lantai 8 dan si gadis keluar tanpa menoleh sedikit pun ke gue. Yup, Wajar. Di dunia asmara yang begitu kejam, gadis secantik itu berada di kasta tertinggi, ibarat seorang putri yang tinggal di puncak kastil sebuah istana. Sedangkan gue berada di kasta terendah sebagai bencong lampu merah.

Ding!

Lift terbuka lagi di lantai 15 dan sebagai anak baru, gue gak pengen telat.

Lari menuju cubicle gue!

Selasa, 23.27 WIB

Dengan mata yang berkantung dan tubuh yang lelah, gue menekan tombol lift. Ganggunan pada server perusahaan di Bangalore, di India sana, membuat gue terpaksa lembur lagi malam ini.

Dan teleconfrence dengan IT engineer di Bangalore bukanlah hal yang ingin gue anjurkan kepada kalian. Teleconfrence dengan orang India berlogat kental dan diriingi dengan suara piring berjatuhan dan anak kecil yang berteriak-teriak sebagai background, membuat kesabaran gue benar-benar diuji hari ini.

Yup, mengingat betapa murahnya ongkos tenaga kerja mereka, membuat gue sedikit memaklumi jika ‘kantor’ mereka berada di dapur rumah mereka sendiri.

Ding!

Pintu lift terbuka di lantai 8, menghentikan lamunan gue tentang orang India. And guess what?

Si gadis cantik yang tadi masuk ke dalam lift yang sama.

Ngga percaya dengan mata gue sendiri, gue melihat ke arah kakinya. Hampir tengah malam, di sebuah gedung yang sepi, wajar jika gue was-was. Ternyata heels yang dia pake nyentuh lantai.

Lega.

Gue memperhatikannya dengan lebih detil. Mukanya terlihat lelah tapi tetap kelihatan cantik. You know guys, ada beberapa momen dalam hidup seorang pria, dimana mereka akan bertemu seorang gadis cantik luar biasa dan ingin segera berkenalan dengan mereka.

Dan bagi para pria diluar sana, gue bisa bilang, tengah malam didalam sebuah lift, BUKAN SAAT YANG TEPAT!

Ga ingin kehilangan kesempatan, dengan mengumpulkan segenap keberanian dan nyali, gue akan menginisiasi percakapan.

“Lembur?” tanya gue

………………………………..

!@#$#%%&*&*())!!!

KENAPA GUE NANYA ITU??!! GA ADA PERTANYAAN YANG LEBIH BODOH LAGI?? MASA UDAH PULANG JAM SEGINI NGGA LEMBUR?!

MASA DIA MAU GENTAYANGAN?!

“Iya..” kata dia pelan sambil melihat ke gue.

“Ohhhh”

CUMA ‘OHHHH’??? KALO GINI KAPAN MAU JADIANNYA? PAS KIAMAT???

Kata gue menyesali dalam hati.

Ding!

Pintu lift kembali terbuka.

‘Mari..’ kata dia pelan sambil berlalu.

“Ok, hati-hati..” kata gue sambil mengumpulkan harga diri yang udah tercecer entah kemana.

Kamis. 08.46 WIB

Gue menekan tombol lift itu dan segera masuk ke dalam. Dari arah kiri, gadis cantik itu juga masuk lift yang sama. Kali ini ga ada sepatah kata yang keluar dari mulut gue. Cuma sebuah senyum simpul yang gue keluarkan ketika dia masuk lift ini. Wajar, kalo yang gue keluarkan dari mulut gue adalah dispenser baru agak aneh.

Seperti biasa, dia keluar di lantai 8. Dan gue, di lantai 15.

Dan gue mulai menikmati kebetulan yang menyenangkan ini.

Jumat. 08.50 WIB

Gue udah menunggu di depan lift ini selama lima menit, dan ga ada tanda-tanda si gadis cantik akan muncul. Berdiri sambil berpura-pura membuka smartphone gue, padahal ga ada satu sms pun yang masuk. Celingak celinguk kiri kanan, dan kini gue udah berubah dari professional engineer ke seorang professional stalker!

Ketika udah pasrah akhirnya masuk kedalam lift, pintu hampir menutup ketika gue liat dia disana. Sedikit berlari kecil menuju lift ini.

Sambil senyum gue tahan pintu lift nya.

“Thanks..” kata dia pelan..

“Gpp, gantian.” kata gue.

Senin, 13.53 WIB

Gue memutuskan untuk turun kebawah untuk beli kopi, yang sangat butuhkan untuk menghilangkan kantuk ini. Dengan kadar kantuk sedahsyat ini, gue kira gue akan memesan ukuran kopi ukuran venti! Biar mandi kopi sekalian.

Dan gue baru selesai bayar ketika gue melihat dia disana. Baru turun dari taksi dan kesusahan membawa 2 ordner besar dan sebuah tas laptop.

Gue putuskan untuk membantu.

“Sini gue bantuin..” kata gue ke dia.

“Wah, makasih..”

Dan disinilah gue membawakan ordner bertuliskan “Purwantono, Suherman & Surja”.

“Law firm ya?” tanya gue penasaran.

“Bukan, itu accounting firm. Gue auditornya PT. Selaras yang di lantai 8”

“Ohhh..kesini sendirian?” tanya gue penasaran, karena biasanya auditor kantor gue datangnya segerombolan.

“Ngga, bertiga sebenernya. Tapi manager gue jarang dateng, jadi cuma gue dan 1 staf”

“Hmmmm “ gue cuma bisa bereaksi itu. Gue gak tau banyak tentang dunia auditor.

Masuk di lantai 8. gue cuma mengantarkan sampai lobby PT. Selaras saja.

“Makasih ya..gue Lila” kata dia sambil menjulurkan tangan.

“Gue Yudha..”

Karena gue ga tau mau ngomong apa lagi, gue putuskan untuk pamit dan segera kembali ke lantai 15. Hilang sudah kantuk gue, tanpa perlu menyiramkan kopi panas ini ke mata gue. Entah kenapa, sebuah senyum lebar menghiasi wajah gue kali ini.

Rabu. 11.53

Gue berniat turun makan siang ketika lift berhenti di lantai 8. Disana, Lila masuk bersama beberapa ibu-ibu.

Gue cuma senyum ke dia dan dia membalas. Dilantai 6, lift berhenti lagi dan segerombolan bapak-bapak masuk. Lift semakin penuh, akibatnya gue makin mepet kesamping. Dan kini gue berdiri bersebelahan dengan Lila.

Bapak-bapak itu bercanda dengan sesama temannya dengan suara .  Dan ibu-ibu tadi juga ngobrol dengan gerombolannya. Kondisi berisik didalam lift kayak gini yang sangat gak gue suka.

“Makan sendirian?” tanya dia pelan secara tiba-tiba.

“Iya..gue anak baru di kantor ini, jadi..belum banyak kenal orang. Lo?”

“Iya kayaknya, staf gue gak dateng..”

Entah keberanian dari mana yang bisa membuat gue mengeluarkan kata-kata berikutnya. Kata-kata yang membuat gue berkeringat dingin menunggu jawabannya.

“Errr, mau bareng?” kata gue agak ragu.

Dan gue bisa bilang ke kalian. Itu adalah 1 detik terlama yang pernah gue rasain dalam hidup gue. Satu detik yang mempertaruhkan segalanya. Satu detik yang membuat gue mati rasa.

“Hmmmm, boleh” kata dia sambil senyum.

Dan, dunia gak pernah terasa lebih indah.

Sabtu, 13.12 WIB, 3 tahun kemudian..

Disinilah gue berdiri. Bersama Lila, menyalami para tamu di sebuah panggung kecil sederhana yang disulap jadi pelaminan yang mempesona.

Ga ada yang bisa gue ceritain lagi, selain makan siang 3 tahun yang lalu itu bukanlah makan siang kami yang terakhir. Masih ada makan siang makan siang indah lainnya yang gak bisa gue ceritain. Puluhan sobekan tiket bioskop yang terlewati. Dan ratusan kebersamaan yang dihiasi tawa, canda, pertengkaran dan air mata.

Yang buat gue, menjadi suatu kenikmatan jatuh cinta.

Fallin in love is not a liability, it’s a privilege. That comes into the right person at the right time.

Anda tidak bisa memaksakan kapan akan jatuh cinta.

Cinta hanya duduk menunggu diujung sana sambil menatap kita dan berkata ‘tidak sekarang’ lalu pergi ke orang lain yang sudah tiba waktunya.

Dan hingga kini, gue ga pernah berhenti mensyukuri, bahwa lift yang dulu gue naiki, selalu berhenti di lantai delapan.

Karena di lantai delapan itulah, cinta menyapa gue dan berkata.

“Sekarang waktunya!”

Ding!