Hidup itu penuh kejutan. Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan. Kejutan menyenangkan itu datang setiap hari, tapi mungkin kita gak pernah memberikan cukup waktu untuk memperhatikannya. Kadang gue suka tersenyum sendiri ama yang hidup telah berikan ke diri gue.

Gue bakal cerita dari awal. Cerita dari waktu gue SMA.

Kita semua tau kalau kehidupan di SMA itu penuh kasta. Mulai dari siswa populer, siswa cerdas, dan batu kerikil. Mari kita bahas satu persatu.

  1. Kasta siswa populer : Kasta ini berisikan orang-orang paling gaul se-SMA. Tampan dan rupawan, ayahnya pejabat, jago basket, rajin nyalon, dan dikenal dari mulai anak kelas satu yang baru masuk hingga kelas tiga yang sudah hampir lulus. Pergi ke sekolah dengan mobil atau motor yang keren. Cowo-cowo yang tergabung dalam kelas ini biasanya berpenampilan bad boy yang menjadi idaman para wanita. Yang cewe-cewe pasti punya genk cantik luar biasa. Segala stereotype yang bisa kita lihat di layar kaca.
  2. Kasta siswa cerdas :  Golongan ini berisi orang-orang pintar dan cerdas. Juara olimpiade, ketua OSIS, juara lomba debat dan lain-lain. Kasta ini adalah kebanggaan para guru dan idola calon mertua.
  3. Kasta batu kerikil : Lo napas aja orang gak ada yang tau.

Gue termasuk yang mana?

Gue mengklasifikasikan diri gue ke dalam golongan batu kerikil. Gue bukan siapa-siapa. Gue bukan bintang kelas, gak pernah juara apa-apa, bukan ketua OSIS, apalagi jago basket. Postur gue kayak bolu kebanyakan baking soda. Bantet.

Gue emang tergabung dalam kelas inti, seperti yang pernah gue ceritain disini. Tapi itu juga kebetulan, dan di kelas itu, gue bukan siapa-siapa. Ada banyak anak yang lebih cerdas dari gue.

Intinya, gue adalah salah satu orang yang sangat medioker di masa SMA.

Kelas gue itu adalah kelas yang paling cupu waktu SMA. Cowonya cuma sebelas orang. Karena jumlahnya yang sedikit, gerombolan pria-pria telat puber ini selalu bersama kayak anak bebek. Sekolah bareng, les bareng, dan paling mentok main playstation bareng. Kami jauh dari kata keren. Postur tubuh kami kecil, lemas tak bertenaga. Untung kami gak ngambang di kali, bisa dikira tokai.

Kelas gue selalu jadi bulan-bulanan kelas lain ketika bertanding sepakbola. Selalu jadi lumbung gol. Bidang musik, apa lagi. We are shit!

Kami jauh dari kata gaul. Ketika pria-pria kelas lain nongkrong sehabis pulang sekolah, kami harus segera pulang untuk mengikuti les tambahan di sore hari. Ketika pria-pria kelas lain menghabiskan malam minggu bersama pacarnya, kami nonton bola di TV bersama-sama.

Itu yang kami lakukan hampir selama 3 tahun masa SMA. Jauh sekali jika dibandingkan dengan anak-anak lain dari sekolah gue. Ketika kuliah di Bandung, gue melihat anak-anak SMA yang cantik-cantik, modis, gaul, lengkap dengan acara prom night nya itu, gue sempat menyesali masa SMA gue yang berjalan sangat standar.

Waktu kuliah gue melihat contoh yang sama, kasta-kasta terbentuk. Ada anak pejabat yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan golongan yang ga pernah mandi kayak gue, yang masuk kuliah dengan kondisi gembel. Sedikit membandingkan, gue dan wanita-wanita cantik itu kayak langit dan sumur bor. Jauh banget. Dengan uang pas-pasan, muka pas-pasan, logat sumatera yang masih kental, wanita-wanita cantik itu benar-benar tak terjangkau.

Lalu kehidupan menunjukkan maksud yang sebenarnya ketika gue sudah kerja.

Sebuah nama melintas di news feed facebook gue, nama yang familiar karena masuk ke golongan cewe paling cantik di kampus gue. Dia kini kerja di salah satu kantor yang sangat biasa saja, kecantikannya hilang entah kemana. Jauh sekali dari kesan primadona waktu kuliah dulu.

Hal yang berbeda gue dapati dengan teman-teman gue yang dulu kuper di kampus. Sering sekali ketika reunian, gue dan teman-teman gue berbisik “Si Ini jadi cantik banget ya sejak kerja”

Kutu buku kampus yang dulu biasa saja, kini sudah menunjukkan wajah aslinya. Dulu dia yang berkutat di perpustakaan, kini kerja di perusahaan ternama. Wanita-wanita pintar yang dulu berkacamata, rambut lepek karena jarang tersentuh penata rambut profesional, baju casual tanpa merk, kini tampil cantik sekali dengan lensa kontak dan rambut terurai indah. Mereka yang dulu ngangkot ke kampus, kini sudah keluar masuk gedung bertingkat di antar oleh supir perusahaan.

Cantik, pintar dan sukses.

Keadaan benar-benar terbalik, yang dulu cantik, kini tak bersisa. Yang dulu keras berusaha, kini tengah menikmati masa jayanya. Roda kehidupan benar-benar berputar.

Hal yang sama gue alami dengan teman-teman SMA gue yang segerombolan itu. Kehidupan kembali menunjukkan tujuan terpendamnya kepada kami.

Waktu itu bulan puasa. Gue dan teman-teman SMA gue melakukan rutinitas buka puasa bersama yang rutin kami lakukan. Obrolan ngalor ngidul kemana-mana. Hingga pada akhirnya berujung pada suatu nama. Salah satu anak gaul di SMA gue dulu.

Nasibnya kini berubah drastis, kuliah seadanya, dan kini dia buka usaha cuci motor kecil-kecilan untuk menghidupi dirinya. Dia yang dulu gaul, idola adik-adik kelas, terkenal seantero sekolah kini harus luntang lantung mencari kerja.

Mendadak gue berpikir, dan membandingkan apa yang telah kami lakukan dulu dan apa yang kami alami sekarang. Pandangan gue berputar, melihat satu persatu teman-teman yang duduk disekeliling gue. Gerombolan pria-pria telat puber itu sekarang sudah dewasa.

Ulat-ulat bulu itu kini sudah bermetamorfosis sempurna.

Beberapa diantara kami kini menjadi dokter muda yang sedang menjalankan koas di rumah sakit, satu orang baru saja menyelesaikan S2 nya di Taiwan, yang satu sedang mengambil spesialisasi bedah jantung, yang lain telah menjadi air traffic controller bandara di Batam, satu orang lainnya menjadi programmer, satu lagi bekerja di Dirjen Bea Cukai, ada yang menjadi guru SMA, ada yang menjadi engineer MRT (kereta bawah tanah) pertama di Indonesia, satu orang menjadi engineer di perusahan telekomunikasi ternama di Indonesia, yang satu sedang bekerja sebagai technical landscape engineer di Texas, Amerika Serikat, teman gue yang lain jadi Operational Auditor di perusahaan perkebunan ternama di tanah air, dan gue sendiri kini menjadi model iklan jongos perusahaan minyak asing di Indonesia.

Gue kini sama sekali tidak pernah menyesal. Waktu-waktu gaul gue yang gue habiskan di lembaran buku-buku soal, masa-masa nongkrong yang gue tukar dengan waktu membosankan di dalam ruang kelas, cap gaul yang gue tinggalkan demi masa depan.

All the hard works are finally paid off!

Kami semua telah berubah, menjadi bukti nyata bagaimana sebuah ‘tangan yang tak terlihat’ bekerja dalam sebuah cerita kehidupan.

Life happens.

Roda kehidupan kalian bagaimana?

PS : Cerita bertema sama bisa dibaca di blog Adhitya Mulya berikut ini. Salah satu tulisan yang paling gue suka.