Semua berawal dari ajakan si Roy untuk menghabiskan libur akhir tahun 2012.

“Ta, liburan yuk? Keliling Jawa. Naek kereta, mengunjungi kota-kota kecil gitu. Nanti di setiap kota kita ajakin follower buat ketemuan.”

“Yaelah Roy, lagak lo kayak selebtwit. Follower cuma seuprit juga. Boracay aja yuk?” bujuk gue.

“Boracay? Dimana tuh?” Roy ternyata anaknya kurang gaul, kelamaan di kamar mandi.

“Di Filipina, itu kayak Bali nya mereka.” Ujar gue mencoba meyakinkan.

“Hayuk deh.” Iman Roy ternyata gak sekuat itu.

“Dari tanggal berapa Roy? Gue ngikut lo aja deh.” tanya gue.

“Dari tanggal 24 aja ta. Ampe 29. Lima hari cukup kan?”

“Lah, lo gak Natalan?” gue heran.

“Enggak, gue udah natalan sebelumnya. Gereja gue lebih cepet.”

“Ohhh..” ujar gue singkat. Baru tau gue kalo Natal ada versi yang lebih cepat juga.

Dan begitulah rencana liburan kami dimulai. Sisanya tinggal proses mencari tiket pesawat, hotel, dan informasi objek wisata di Filipina melalui internet. Demi efisiensi biaya (maklum, turis miskin), kami berangkat via Kuala Lumpur dan lanjut ke Clark di Angeles City. Bukan dengan direct flight dari Jakarta ke Manila.

Oke, sebelumnya gue akan menjelaskan “kenapa harus pergi Filipina’’. Hal ini disebabkan karena  bujukan kolega kantor gue beberapa waktu yang lalu.

“Kalo lo ke Filipina, definisi lo akan kata cantik akan berubah Ta. Bayangin aja, orang Filipin itu gabungan antara ras Melayu, Cina, dan Eropa. Kebayang kan?”

Gue cuma mengangguk mendengarkan.

“Di Filipin, populasinya 70% adalah wanita. Dan dari 30% populasi prianya, setengahnya adalah gay! Lo bakal jadi idola disana!” temen gue mengeluarkan teori yang sangat diragukan keabsahannya.

Tapi karena sudah termakan bujuk rayuan, gue langsung bersemangat untuk mengunjungi Filipina. Berpikir ketika nanti tiba di Filipina, gue pasti akan menjadi rebutan di kalangan wanita seperti Adam Lavine. Mantap!

Tapi begitu tiba di Filipina, alih-alih menjadi Adam Lavine, gue lebih merasa mirip dengan Adam Suseno.

Hey ladies..

Foto diambil disini.

And that’s it! Boracay (Bali-nya Filipina) adalah tujuan utama kami.

Perlu gue kasi tau kepada kalian yang ingin ke Boracay. Pulau yang terletak di bagian selatan Filipina ini jauh. Banget.

Kalau ditotal, seluruh perjalanan yang kami tempuh membutuhkan waktu 26 jam dari pertama kali berangkat dari Jakarta hingga tiba di kamar hotel di Boracay.

Kami tiba di Kuala Lumpur jam 18.30 dan harus menunggu lagi penerbangan ke Clark sekitar jam 21.30. Perjalanan dari LCCT Kuala Lumpur ke bandara Clark memakan waktu 4 jam dengan menggunakan pesawat dan mungkin hanya sedetik jika menggunakan pintu kemana saja.

Begitu selesai makan dan cek-in dengan Roy (this sounds really wrong), gue mengecek kembali boarding pass yang gue terima. Ternyata tempat duduk yang tertera disana berbeda dengan apa yang didapatkan Roy.

Begitu memasuki kabin pesawat, dia duduk di sebelah pria India dan gue sedikit beruntung dengan duduk disebelah 2 orang cewek Pinoy imut yang ingin pulang kampung ke Manila. Gak terlalu cantik, tapi cukup sebagai teman sepanjang perjalanan.

Setelah selesai take off, gue gak mau kehilangan momentum. Karena perjalanan ini cukup lama, gue berinisiatif untuk menyapa gadis Filipin di sebelah gue. Siapa tau dapat tour guide gratis.

Setelah bertukar nama, akhirnya gue bertanya kepada mereka.

“What do you do in KL? Working or studying?” tanya gue.

“Ohh, we’re working.” Mendadak gue kagum dengan mereka, karena udah bisa kerja di luar negeri.

“Really? That’s great! Where?” gue penasaran.

“We are working as di eij di Kuala Lumpur.” kata mereka.

“Sorry, what?”

“Di eij.”

“Di eij?” tanya gue

“Yes, Di eij, Domestic Helper.”

Ohhh. De Ha. Domestik Help..wait. Oalaaaaahh, pembantu rumah tangga. Bilang dong, pake di eij di eij segala.

Dan disitulah gue menyadari satu hal. Apapun profesinya, kalo di-translate ke dalam bahasa Inggris, maka profesi itu akan terdengar keren. Satpam jadi security. Pelayan jadi waiter. Profesi apapun, you name it!

“What do you do for living?”

“Ohhhh..I’m the driver of a man powered vehicle for entertaining the children alias tukang odong-odong.”

“Where are you coming from?” tanya si gadis berambut pendek menyadarkan lamunan gue.

“Jakarta. Indonesia.”

“Ohh, I like Indonesian band. What you called it? The one who sing Demi Waktu.”

“Ungu?”

“Yes, Unggu. I like the vocalist. He is very cute. What’s his name?”

“Pasha?” gue mulai males menjawab.

“Yes.. Pasha Unggu.” Dia girang sendiri.

Akhirnya gue meninggalkan mereka yang tertawa-tawa memikirkan Pasha Ungu, dan memilih untuk tidur. Masih untung dia nanyain vokalis Ungu, jadi gue masih bisa jawab. Kalo dia nanyain Apoy gitaris Wali kan gue yang repot.

Tepat tengah malam, lampu kabin tiba-tiba menyala. Dan para pramugari berkeliling sambil membagikan kue. Ternyata ini adalah malam Natal. Keren aja inisiatif yang ditawarkan Air Asia bagi para penumpangnnya yang merayakan Natal di udara. Gue gak merayakan Natal, tapi siapa yang bisa menolak kue gratis?

Habis makan kue? Lanjut tidur, sebelum kembali ditanyain tentang Apoy gitaris Wali.

Sekitar jam 1.30 dini hari, kami tiba di bandara Clark.

Sebuah bandara militer peninggalan Amerika yang kini digunakan untuk penerbangan komersil. Bentuknya jauh dari kata bandara professional. Aura militernya masih sangat kuat terasa. Hangar-hangar yang kosong dan bangkai pesawat yang dibiarkan disana. Gak ada yang mau nyolatin atau nguburin. Kasian pesawatnya.

Karena bandara Clark adalah bekas pangkalan militer, yang mungkin dulu digunakan untuk pesawat-pesawat berbadan lebar, jarak antara runway bandara dan bangunan terminalnya itu jauuuuhhh banget.

Setelah mendarat, pesawat  harus berjalan cukup lama hingga tiba di terminal bandara. Saking jauhnya, mungkin kalo gue kenalan ama cewek pas mendarat, gue bisa menyelesaikan proses kenalan-pdkt-jadian-selingkuh-berantem-putus baru bisa nyampe di terminal.

Begitu nyampe Clark, kami harus memutuskan untuk  beristirahat, menunggu flight ke Boracay jam 2 siang nanti. Jadi kami punya 12 jam untuk menunggu. Jangan bayangkan Clark adalah bandara mewah kayak bandara Changi di Singapura, dimana pengunjung bisa beristirahat di ruang tunggu yang nyaman. Bandara Clark bahkan gak lebih bagus dari bandara di Banda Aceh.

Keluar dari imigrasi, Roy langsung nyari barisan kursi plastik yang bisa dipake buat tidur. Sementara gue? Nature calls. Panggilan alam.

Gue kebelet boker dan gak ada WC yang bekerja, karena sebagian bandara sudah tutup. Akhirnya Roy bisa tidur dengan pules, dan gue menghabiskan malam dengan berkeringat dingin menahan sesuatu yang mendesak agar gak keluar berceceran.

Ketika pagi datang, setelah menunaikan hajat, gue dan Roy memutuskan untuk melihat kota Angeles City sambil menunggu penerbangan siang nanti.

Oia, Filipina adalah negara yang tingkat kriminalnya cukup tinggi. Di Filipin, orang kalo pergi kemana-mana pasti bawa Peso. #Krik

Karena nilai tukar yang lebih lemah dari Rupiah, ketika menukarkan uang ke Peso, gue menjadi #HorangKayah. Dengan menukar 2,5 juta rupiah untuk modal selama di Filipina, kami mendapat sekitar 10,000 Pesos. Sebagai gambaran, untuk sekali makan cuma membutuhkan sekitar 300-500 pesos. Murah kan?

Angeles City pagi itu terlihat sepi. Mungkin karena Hari Natal, dan mayoritas dari mereka sedang merayakan lebarannya. Angeles City mirip seperti kota koboi, dimana banyak sekali tersebar bar-bar (mulai dari yang normal hingga gay bar) di beberapa sudut kota. Kenapa gue tau itu gay bar? Karena di pintu depannya ada beberapa baligo bergambar pria yang belahan kaosnya ampe puser.

Kota ini sangat timpang, gue melihat di salah satu pojok kotanya ada sebuah sekolah katolik, namun tepat di sebelahnya ada panti pijet plus plus. Mungkin kalo gak ada guru, murid-muridnya bisa kabur ke sebelah. Ide yang sebenarnya cukup brilian!

Akhirnya gue ama Roy memutuskan untuk pergi ke salah satu mall paling hip di Angeles City. Namanya SM Mall.

Satu fakta mengejutkan yang gue ketahui ketika mengunjungi SM Mall. Ternyata anak alay gak cuma ada di Indonesia, di Filipina juga banyak. Mall itu penuh dengan anak alay. Mereka menyebutnya Jejemon. Serius gue, ini artikel wikipedianya.

Di SM Mall juga dilarang untuk membawa pistol. Di setiap pintu masuk ada gambar pistol dicoret, dan pihak keamanan mall pasti akan melakukan body search kepada setiap pengunjung yang datang.

Hal ini membuat gue heran. Ngapain orang bawa pistol ke mall? Apa dengan bawa pistol bisa dapet diskon tambahan?

“Giordanonya kakak? Buy one get one kakak.”

“Saya mau kaos yang warna biru ditambahin diskon 20%!! Kalo tidak saya dor kepala kamu!”

Disana kami mengisi perut sebelum kembali ke bandara Clark untuk penerbangan ke Boracay. Dari SM Mall, kami bergegas kembali ke bandara dengan menumpang Jeepney. Kendaraan umum khas Filipin yang penampakannya seperti ini.

Jeepney

Foto diambil dari blog nya Roy Saputra

Karena gue dan Roy gak bisa desak-desakan bersama rakyat jelata, kami memutuskan untuk mencarter Jeepney ke bandara dengan ongkos sebesar 100 pesos saja. #Horangkayah

Kita berangkat dari bandara Clark ke bandara Calibo sekitar jam 2 siang.

Dari terminal bandara, gue kembali mengalami fase kenalan-pdkt-jadian-selingkuh-berantem-putus hingga pesawat gue siap untuk tinggal landas di runway bandara.

Karena kelelahan, gue langsung tertidur ketika selesai take off. Langsung nyampe Boracay? Belum, kami harus ke Kalibo dulu. Boracay masih 2 jam perjalanan darat dari Kalibo. Ditambah perjalanan 15 menit menggunakan kapal menuju pulau tersebut.

Jauh kan? Banget!

Dan tepat tanggal 25, pukul enam sore hari, gue menginjakkan kaki di Boracay.

26 jam total perjalanan dari Cengkareng terbayar lunas ketika aroma laut mulai tercium di hidung. Masuk memenuhi rongga dada seakan menyambut gue untuk petualangan berikutnya.

Mata yang kurang tidur, punggung yang masih pegal akibat memanggul backpack selama berjam-jam, hingga pantat gue yang udah sixpack, seolah tak berarti ketika melihat pasir putih di Boracay. Sebuah pulau cantik di Filipina, negara yang pulau-pulaunya terserak di Samudera Pasifik.

Boracay, I’m coming!