Pernah ngga kalian merasakan perasaan yang aneh yang muncul pada saat membuka album foto-foto lama keluarga. Meliat muka-muka tersenyum disana. Terlihat tanpa beban. Semua tertawa melihat kamera. Dan pasti ada perasaan kangen yang muncul secara tiba-tiba.

Nah, gue merasakan perasaan yang sama, setiap kali gue pulang ke rumah di Banda Aceh.

Masa lalu adalah hal yang mengerikan. Terlihat sangat dekat, tapi terasa jauh pada saat yang sama. Hal yang sama berlaku untuk rumah gue di Banda Aceh. Rumah yang di ingatan gue, masih rumah yang sama saat dulu gue tinggalkan. Ramai, hangat dan terawat.

Kini rumah itu mulai tampak kusam, sepi dan dingin. Rumput di halaman yang mulai meninggi tak terawat. Debu yang mulai terlihat di beberapa sudut, sarang laba-laba yang sudah muncul di beberapa tempat.

Dulu, halaman rumah gue adalah tempat yang sangat menyenangkan untuk melamun. Duduk diteras rumah, ngeliatin sawah yang terhampar luas berlatar gunung sambil ngopi di sore hari. Wajah diterpa angin sepoi sepoi yang menenangkan. Bikin ngantuk.

Kini, di tempat yang sama, semuanya sudah berubah. Sawah yang dulu terhampar luas kini berubah menjadi perumahan warga. Gunung yang biasanya langsung bisa diliat dari halaman rumah kini terhalang oleh bangunan berlantai dua.

Ada beberapa hal yang tidak berubah. Cahaya bintangnya. Ngga seperti di ibukota yang kadar light pollution nya sudah tinggi, di Banda Aceh kita masih bisa melihat bintang di langit yang cerah. Semalam gue pergi ke warung untuk membeli sesuatu. Jalan kaki ke warung depan.

Di perjalanan pulang, gue mengadahkan kepala. Cahaya bintang-bintang yang indah, masih sama seperti cahaya yang gue liat setiap kali gue pergi ke meunasah (surau kecil yang ada di kampung-kampung) di bulan Ramadhan. Cantik luar biasa. Cahaya bintang seperti itu kadang membuat pikiran gue bergerak liar. Melanglang buana.

Pulang kampung, sering kali membuat gue khawatir sekaligus kecewa. Karena jauh di lubuk hati, gue masih berharap bahwa rumah yang gue tinggalkan kondisinya akan sama pada saat gue merantau tujuh tahun yang lalu. Orang tua yang masih muda seperti gue tinggalkan dahulu. Rumah yang masih sangat ramai seperti dulu. Suasana yang masih hangat.

Tapi pada kenyataannya, life goes on.

Siap atau ngga, hidup akan terus berputar. Orang tua gue yang semakin menua, orang-orang yang telah pergi, rumah yang kehilangan kehangatannya.

Khawatir dan membuat gue bertanya, apa saja hal-hal yang telah terjadi tanpa pernah gue sadari? Dan peristiwa apalagi yang harus gue lewatkan di masa depan?

Satu-satunya yang terlintas di kepala gue saat ini, mungkin sudah saatnya gue membuat rumah baru.

Dimana gue akan merasa hangat selamanya.