Beberapa hari yang lalu, gue melakukan short getaway ke Bali. Ya, Bali sepertinya sudah jadi tempat liburan wajib bagi orang Indonesia yang berusaha menghilangkan kepenatan yang muncul akibat rutinitas sehari-hari.

Gue gak akan cerita tentang Kuta, Ubud, Seminyak, Jimbaran, Sanur dan tempat-tempat familiar lainnya di Bali. Tempat ini sudah terlalu ramai, yang buat gue,sedikit mengurangi kenyamanan. Gue punya tempat favorit sendiri di Bali.

Uluwatu.

Uluwatu terkenal dengan tebing-tebingnya yang langsung menghadap ke laut. Kombinasi mematikan antara laut lepas dan tebing langsung memukau gue.

Dua kali ke Bali, dan gue selalu ke tempat ini. Uluwatu adalah kombinasi antara budaya dan pantai. Disini anda akan menemukan campuran yang memabukkan dari keduanya.

Gue tiba di Uluwatu agak sore, setelah paginya menghabiskan waktu untuk ke pasar seni dan foto-foto terasering (sawah bertingkat-tingkat) yang khas dari Ubud.

Some souvenirs at Pasar Seni Ubud..

Nyampe disana, gue langsung beli tiket untuk masuk ke dalam pura. Ongkos masuknya sekitar 15 ribu rupiah. Di Uluwatu, gue berencana akan menyaksikan secara langsung tari Kecak. Tarian yang dilakukan oleh sekitar 70 orang penari ( ya masak polisi? Itu mah razia). Yang sering disebut juga dengan Dance of Thousand Hands.

Untuk memasuki daerah pura di Uluwatu, semua pengunjung harus berpakaian sopan. Di bagian pintu gerbang, akan ada petugas yang mengawasi hal ini. Bagi yang memakai celana panjang, akan diberikan selendang sederhana yang diikatkan di pinggang. Bagi yang memakai celana pendek kayak gue, akan diberikan kain untuk menutupi kaki. Semacam sarung gitu.

Sebelum ke Uluwatu, kami sudah diperingatkan oleh pak Komang, supir yang kami sewa jasanya selama di Bali, bahwa kawanan monyet di Uluwatu suka bersikap usil kepada wisatawan. Mereka suka mengambil barang-barang yang gampang lepas yang menempel di badan. Jadi, bagi yang membawa kacamata, dompet, memakai sendal, harus ekstra berhati-hati terhadap kawanan ‘pencuri berbulu’ ini.

Nyampe diatas, pemandangan tebing yang langsung menghadap laut sudah menunggu. Gue cuma bisa sebentar menikmati pemandangan tebing uluwatu ini. Jadwal pertunjukan semakin dekat.

Gue langsung bergegas ke tribun tempat tarian Kecak. Karena penonton yang membludak, gue harus segera beranjak untuk mencari tempat duduk yang strategis.

Tribun ini berbentuk lingkaran, dimana ada semacam tugu ditengahnya. Gue duduk paling atas, agar semua arena dari panggung tidak ada yang terlewatkan dari pandangan gue.

Pemandangan matahari terbenam di atas permukaan laut yang dilihat dari atas tebing, benar-benar membuat gue menahan napas.

Sunset from the stage..

no editing at all..

 

It’s a breathtaking moment.

Sekitar pukul tujuh, ketika langit mulai gelap,  tarian dimulai. Seorang dukun/shaman masuk membaca doa di tengah lingkaran. Kemudian dia memercik-mercikan air ke para penari yang telah duduk melingkar di dalam arena menggunakan semacam sapu lidi kecil.

Alur cerita tarian kecak ini tentang Rama, Sinta, Rahwana dan Hanoman. Salah satu epos klasik dalam kebudayaan Hindu.

Yang bikin unik adalah bagaimana tarian ini diriingi oleh puluhan pria yang selalu berteriak ‘Cak’ atau ‘Cuk’, yang menambah ritmis tariannya. Mungkin inilah asal muasal kenapa namanya menjadi tari Kecak.

Yang hebat dari tarian Bali ini adalah bagaimana mata sang penari bisa berbicara kepada penonton yang menyaksikan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, penonton bisa mengerti arti dari tarian yang dilakukan.

The dancers..

Ketika dewi Sinta takut, sang Rama cemas, Rahwana yang marah, Hanoman yang usil, semua bisa dirasakan melalui tatapan mata para penarinya.

Rama and Shinta..

Dinamika tarian juga berubah-ubah sepanjang pertunjukan.

Tari kecak yang dinamis, digabung dengan tari gemulai dewi Sinta dan kemudian dikombinasikan oleh tarian usil si Hanoman yang tiba-tiba bisa muncul darimana saja. Dari atas pagar, atau berlari ke tengah tengah penonton, ataupun melompati api yang dibakar di tengah arena.

Sang penari berhasil menunjukkan bahwa sosok Hanoman memanglah seekor monyet yang usil. Semua pergantian ritme tarian berhasil menjaga emosi penonton agar tidak bosan.

Cahaya lampu yang temaram, panggung yang menyerupai pura, janur kuning yang menghiasi gapura panggung, obor-obor kecil yang menyala di sekeliling, aroma laut, dan matahari yang terbenam. Semuanya bersatu padu membuat suasana magis dari tarian-tarian yang dilakukan.

This is Bali..

Ketika tarian berakhir, tepuk tangan membahana dari sekitar seribuan penonton yang hadir.

Tanpa ragu, gue berani bilang kalau tari Kecak adalah tarian favorit gue yang kedua setelah tari striptease Saman.

 

Hari kedua gue gue nikmati di sebuah pantai kecil bernama Karma Kandara.

Gue gak terlalu tau apa nama pantai ini, Karma Kandara sendiri adalah suatu resort yang mengelola pantai kecil ini. Kita masuk melalu bagian dalam hotel dan harus membayar 250 ribu rupiah untuk biaya masuk. Uang ini sekaligus sebagai biaya welcome drink di restoran yang bisa diambil ketika tiba di bawah nanti.

View from the top..

Dari hotel di atas, kita bisa turun ke pantai dengan menggunakan lift yang disediakan hotel. Lift ini bergerak turun menuruni tebing curam dibawahnya. Agak serem juga begitu menuruni tebing kapur dengan menggunakan lift terbuka seperti ini.

Sebenarnya ada cara gratis untuk ke pantai ini, menuruni ratusan anak tangga menembus hutan, tapi karena efek males dan cape, gue memutuskan untuk membayar melalui hotel. Biar praktis.

 

Lift to the beach..

Sesampainya dibawah, pantai berpasir putih, dengan background restoran private, pantai yang sepi, dan tebing yang menjulang dibelakang, membuat suasana untuk bersantai semakin kental.

 

The private beach..

Pantai yang sepi memberikan suasana yang sangat nyaman, tanpa harus berdesakan dengan orang-orang lain. Bule-bule berbikini berlalu lalang semakin menambah suasana erotis nyaman di pantai. (mehehehe)

Uluwatu menjadi tempat favorit gue selama di Bali.

Tempat tempat sepi dan menyenangkan untuk nyepi,  melamun dan berkontempelasi.

Dan momen-momen merenung seperti inilah yang membuat gue mencintai traveling :)