Di sela-sela kesibukan gue sebagai buruh korporat di siang hari, dan sebagai superhero pembela mbak-mbak frustasi di malam hari, gue selalu menyempatkan untuk traveling di sela-sela masa libur gue.

Hobi ini bermula ketika gue SD dimana, gue, literally, gak pernah kemana-mana.

Sodara-sodara gue rumahnya saling berdekatan. Jadi yaaa, ga ada tuh namanya pulang kampung pas lebaran atau liburan sekolah. Dunia yang gue tau cuma dari majalah Bobo yang gue baca dan siaran televisi yang gue tonton. Akhirnya, waktu gue kuliah, gue mulai bisa keluar dari tempurung gue dan mulai melihat dunia.

Waktu kuliah dulu, gue punya di target.

Jangka pendek : Keliling Pulau Jawa

Jangka menengah : Keliling Indonesia

Jangka panjang : Keliling Dunia.

Dan alhamdulillah, dalam jangka waktu disela-sela waktu kuliah, target jangka pendek udah bisa dibilang tercapai. Semua kota-kota utama di pulau Jawa sudah gue singgahi. Tinggal beberapa kota kecil saja seperti Solo dan Malang yang belum sempat gue tiduri.

Mulai dari naik bus bobrok ke Sukabumi, naek kereta ala gembel ke Jogja, road trip ama teman-teman kuliah ke Pangandaran. Bisa dibilang Pulau Jawa sudah selesai gue jelajahi.

Yang jangka menengah, udah hampir setengah jalan. Semua pulau besar kecuali Papua, Lombok dan Maluku udah gue datangi.

Untungnya, kerjaan gue sebelumnya memaksa gue untuk mengitari Indonesia. Mulai dari mengunjungi gudang coklat di Palu – Sulawesi Tengah, memanjat silo semen setinggi 80 meter di tengah malam di Cilacap, Jawa Tengah. Hingga mengecek tempat penyimpanan minyak terapung (floating storage) di Sungai Mahakam, Kalimantan.

Tinggal Papua saja yang harus gue singgahi, maka gue bisa menyebut diri gue anak Indonesia.

Untuk jangka panjang, ini masih kecil sekali. Bisa dibilang ini baru langkah awal. Pengalaman paling berkesan pada saat backpackeran gue April lalu. 4 negara, 10 hari, 3 orang, sejuta kenangan.

Tanpa memakai jasa tour, atau pemandu wisata apapun.

Cuma hasil googling. Setiap nyampe bandaranya, kita langsung nyari peta buat cari tau gimana cara tercepat dan termurah ke pusat kota. Uang tabungan gue kerja 2 tahun gue habiskan demi traveling. Dan sampe sekarang ngga pernah gue sesali.

Makanya gue bilang ama temen-temen gue. Kalo emang mau mengenal karakter orang, maka ajak traveling deh. Cape sama sama, marah sama-sama, laper sama-sama, miskin sama-sama.

Makanya emosi atau drama yang muncul di setiap episode the Amazing Race itu benar-benar ada. Gue ingat, hari terakhir di Singapore setelah backpackeran selama 10 hari tanpa henti.

Duit abis, tenaga terkuras, muka lusuh kurang tidur.

Karena udah ga ada lagi uang yang tersisa, dan semua tempat udah dikunjungi, kita udah nyampe di Changi dari pagi padahal flight pulang kita masih 5 jam lagi. Diruang tunggu bandara di negara orang lain, tanpa sanak saudara, membawa tas yang berisi baju kotor, oleh-oleh seadanya, memori kamera yang penuh oleh foto-foto.

Perut kosong belum terisi dari pagi.

Akhirnya, kita mengumpulkan beberapa koin dolar Singapore yang tersisa. Satu persatu dikumpulin. Yang cuma cukup buat beli 2 paket french fries.

Dimakan bertiga. Tapi ntah kenapa, saat itu kita sangat bahagia. Miskin di kantong tapi kaya di hati.

So, let’s traveling! :)

 

The World is a book, and those who do not travel read only a page.  ~St. Augustine