Setelah hampir tiga bulan kuliah di sini, gue mulai bisa memahami krakter orang-orang dari setiap negara.

Perbedaan budaya tenyata bisa menjadi gap yang sangat besar dan butuh pengrtian lebih untuk saling mengerti karakteristik masing-masing orang. Hidup di lingkungan yang majemuk benar-benar jadi tantangan yang menarik buat gue.

Dengan kuliah di Aberdeen, gue mendapat kesempatan ini. Mayoritas siswa postgraduate di kampus gue emang mahasiswa internasional. Hampir nggak ada satu pun negara yang mendominasi di semua kelas yang sudah gue ambil.

Misalnya kelas Leadership Challenge yang baru gue selesaikan kemarin. Dari hampir seratus ribu dollar siswa yang mengikuti kuliah itu, mereka datang dari negara-negara yang berbeda. Ada hampir tiga puluh negara yang berpartisisapi mengirimkan siswanya ke kelas gue.

Ketika dalam kondisi mengantuk dan nggak konsen (yang biasanya akibat kebiasaan gue malas minum air putih sih), kadang materi di dalam keles mendadak menjadi membosankan. Gue biasanya mengamati tingkah laku teman-teman gue mencoba membunuh waktu sekalaian untuk belajar hal-hal baru.

Dan dari pojokan kelas, gue mulai mengamati karakteristik para siswa yang ada di kelas ini.

1. Amerika

Karakteristik negara superpower juga tercermin banget di pelajar-pelajar yang berasal dari US. Mereka biasanya sangat percaya diri, outspoken dan mempunyai dukungan finansial yang mumpuni.

Sering kali mereka lantang berpendapat di dala kelas dan kadang terasa sedikit mengintimidasi bagi siswa yang lain.

2. Arab Saudi

Nggak jauh berbeda dengan US, gue juga menjumpai beberapa mahasiswa Arab Saudi di kelas gue. Dan ada satu hal yang bisa gue bilang dari mereka….tajir banget euy!

They have oil money.

Mereka cenderung nggak peduli makan apa, harga buku berapa, yang penting langsung bayar lunas!

Ini beda banget ama anak-anak Indonesia (baca : gue) yang selalu berkelit ketika diajak makan di luar. Gue ampe ngejelasin kondisi makro ekonomi Indonesia

“I’m sorry guys, Ini masalahnya kartu atm gue rusak. Jadi gue harus ke bank, dan nukerin duit.. tapi exhange rate-nya lagi jelek jadi gue nunggu agak bagus. Impor kami lebih gede dari ekspor, jadi neraca perdagangan lagi defisit. Nanti nunggu Bu Susi ngeledakin kapal.”

Padahal mah ngirit!

Anak-anak Saudi ini bahkan seperti dijadikan ‘lumbung uang’ bagi universitas gue. Bayangkan, mereka bahkan rela datang ke Aberdeen hanya untuk mengikuti bebrapa bulan kelas persiapan bahasa Inggris. Padahal harga kelas nya mahal banget!

Bandingkan aMa gue yang dulu misuh-misuh bayar lima juta rupiah buat les preparation IELTS di Jakarta.

Kira-kira begini

Kira-kira begini

 

3. Jerman

Nggak ada yang bisa gue bilang untuk pelajar-pelajar Jerman selain : efisien. Mereka akan datang ke kelas paling pagi, membaca smua preparation materials paling awal, dan berada di library paling pagi buat ngerjain assessment.

Rasa malu akibat kalah perang di Perang Dunia II seolah membuat mereka jadi tau bagaimana caranya untuk bekerja dan belajar secara efektif dan efisien.

We called it German Efficiency!

Dan mereka kuat banget minum bir. Asli deh. Minum bir nya lebih kencang dari minum air putih.

4. Italia

Ini adalah negara yang dalam kondisi kritis. Mentalitas korup politisinya bikin negara ini hampir bangkrut. Dan mentalitas ini seolah menular ke para pelajarnya. Bukan, bukan mental korup tapi mental ngirit.

Kondisi ekonomi Italia yang mandek beberapa tahun terakhir membuat para pelajar Italia kesannya miskin banget. Mereka perhitungan banget masalah duit. Gue yang dari Indonesia aja kayaknya nggak gini-gini amat.

Dan mereka jujur aja gitu ngomongnya

“I have no money..”

Beda banget ama gue : “Ini atm gue lagi rusak, mau ke bank tapi exchange rate lagi jelek. Impor lebih gede dari ekspor. Neraca dagang defisit. Nunggu Bu SUsi ngeledakin kapal. Dia merokok. Tapi anaknya cantik.”

Tapi akhirnya gue ngerasa wajar, ekonomi Italia itu emang lagi goyang dombret banget.

Meskipun begitu, minat belajar mereka kuat banget karena mereka pengen jadi kaya dan mencari penghidupan yang lebih baik di luar Italia.

Umumnya, mereka sedikit pemalu di kelas untuk berani ngomong di depan umum. Faktor bahasa mungkin salah satu yang menjadi alasannya.

5. India

Kayaknya gue nggak perlu panjang lebat untuk ngomongin student dari India.  Hampir di semua universitas di Eropa pasti ada pelajar dari India. Mereka dikenal sebagai smooth talker. Faktor lancar berbahasa Inggris mungkin menjadi alasan kenapa mereka pede banget buat public speaking.

Tapi kadang jika diperhatikan, the only thing that they can do is talk.

Dan jadinya omongannya cenderung kosong tanpa esensi. Ketika berdebat dengan orang India, kadang kita harus menjadi cukup kasar untuk memotong omongannya. Karena kalau dibiarin, waktu diskusi bisa abis buat ngedengerin dia ngomong doang.

Satu hal yang paling gue respect dari orang-orang India adalah bagaimana mereka menghargai pendidikan.

Katanya, orang tua di India akan habis-habisan demi pendidikan anaknya. Nggak heran, teman-teman India gue di sini rata-rata lulusan UK untuk undergraduate-nya. Dan beberapa diantara mereka udah lulus master dan mengambil gelar master keduanya di Aberdeen di usia yang relatif masih muda.

Mungkin orang tua mereka udah ampe jual sawah dan kerbau buat kuliah anaknya. Nggak nunggu exchange rate, impor ekspor atau nunggu anak Bu Susi yang cantik.

6. Negara-negara Asia

Gue akan memasukkan Malaysia, Korea dan Cina di sini. Seperti pada umumnya, pelajar dari negara-negara ini agak pendiam di kelas. Mereka bukan tipe-tipe yang berani secara frontal untuk bertanya atau memberikan argumen. Tapi jangan salah, kemampuan berpikirnya nggak kalah kok ama siswa-siswa Eropa.

Mereka juga cenderung komunal dan hanya berkumpul dengan sesamanya. Kemana-mana perginya bareng mulu kayak kembar siam.

Lagi dan lagi, gue mencoba berpikir positif dan menganggap faktor bahasa menjadi penyebabnya.

7. Indonesia

Di kelas, anak-anak Indonesia adalah yang paling keren karena ada gue. Kapan lagi kan bisa sekelas ama gue? Iya gAk?

Seperti halnya negara-negara Asia yang sudah gue sebutkan di atas, siswa Indonesia juga sedikit komunal. Kemana-mana bareng. Kuliah bareng. Abis kuliah bareng lagi. Dan sayangnya, budaya jam karet masih kebawa ampe sini. Janjian ama anak-anak Indonesia mrupakan hal yang makan ati.

Ngaretnya parah!

8. Nigeria

Ketika gue kira Indonesia adalah bangsa yang paling parah masalah tepat waktu, di situ gue ketemu ama anak-anak Nigeria.

Lebih kacau cuy!

Mereka biasanya dateng ke kelas terlambat 15-20 menit dan tanpA perasaan bersalah. Lempeng aja gitu.

Memang sih ini agak mengenerarisir. Ada juga mereka yang tepat waktu, tapi jumlahnya lebih dikit dari yang jam karet yang gue liat.

 

Dan begitulah, sdikit observasi gue terhadap perilaku para siswa di kampus gue. Perlu gue ingetin, pendapat ini sangat subjektif sekali.

Tapi bagaimanapun, hal ini jadi pelajaran yang bagus buat gue. Jadi gue bisa menyesuaikan sikap jika ingin berkomunikasi atau memberikan argumen terhadap orang-rang tertentu. Kalian punya pengalaman yang serupa?

 

DISCLAIMER :

Kesalahan penulisan (typo errors) dalam blogpost ini sengaja dibuat untuk mengetes fokus dan konsentrasi kalian. #AdaAQUA

adaaqua-logo