Kalian pernah nonton atau baca Wizard of Oz?

Dalam cerita Wizard Of Oz, ada satu karakter yang bernama Tinman. Bersama dua karakter lainnya, Scarecrow dan Cowardly Lion, dia menjadi satu dari beberapa tokoh penting dalam cerita ini. Masing-masing dari ketiga karakter ini memiliki kelemahan.

Cowardly Lion butuh keberanian (Cowardly Lion needs courage).

Scarecrow butuh kecerdasan (Scarecrow needs brain).

Dan favorit gue,

Tinman butuh hati (Tinman needs a heart).

 

Tinman berpetualang bersama teman-temannya ke Emerald City untuk bertemu The Wizard untuk meminta sebuah hati.

Awalnya, Tinman adalah seorang manusia normal seperti kita pada umumnya. Dia bekerja sebagai seorang penebang kayu di Oz, sebuah profesi yang diturunkan dari bapaknya.

Tinman dikutuk oleh seorang penyihir jahat hingga akhirnya berubah pelan-pelan menjadi sebuah manusia kaleng. Untuk bisa tetap hidup, dia memutuskan untuk mengganti semua organ tubuhnya dengan kaleng. Dan hingga akhirnya dia mengganti hatinya dengan kaleng. Ketika dia berubah menjadi manusia kaleng seutuhnya, dia tidak bisa lagi mencintai wanita yang semula disukainya.

Cerita yang keren kan?

Cerita ini membawa gue ke beberapa waktu lalu, ketika gue terlibat dalam suatu pembahasan hal yang gak penting diantara teman-teman gue. Sebuah percakapan sepulang kerja sebagaimana layaknya hidup kaum urban.

Suasana tempat ini riuh rendah dengan orang-orang yang saling bercakap satu sama lain. Kami yang duduk di bagian taman terbuka pun seakan tak mau kalah. Kadang terbahak sambil bertukar cerita seru dan melempar lelucon jorok diantara kami.

Tidak ada satupun wanita di meja ini. Hanya beberapa orang pria yang sedang berkumpul untuk saling menertawakan nasibnya.

Kami, barisan pria sakit hati, membicarakan apesnya kisah percintaan masing-masing. Mulai yang ditolak mentah-mentah, ditinggal kawin, dijadikan selingkuhan hingga diselingkuhi oleh wanita pujaan.

Pria-pria ini sakit hati karena wanita dengan caranya masing-masing.

Suatu kondisi yang selama ini gue kira monopoli kaum hawa. Di mana mereka akan selalu bercerita dari sudut pandang mereka sendiri sebagai korban dan menyalahkan kaum pria.

Tapi mendengar cerita teman-teman gue ini, gue menyadari bahwa ternyata pengkhiatan gak cuma milik kaum pria. Wanita juga ada yang sama brengseknya. Bahkan beberapa bisa lebih parah.

Teman-teman gue ini korbannya.

And knowing this fact, now I can say this to you girls. We are as fragile as you are. The difference is, we keep the damage that you made for ourselves.

Ceritanya teman-teman gue beragam, mulai dari cinta bertepuk sebelah tangan dan ditolak karena alasan tolol, hubungan yang awalnya berkedok “cuma temenan kok” hingga yang nekad menjalani sebuah hubungan yang berpondasi kebohongan.

Gue melihat mereka satu persatu, teman-teman gue ini adalah pria-pria baik, orang-orang yang memilih untuk tidak menjadi brengsek. Mereka yang hanya punya satu hati dan dulu memutuskan untuk memberikannya kepada seorang wanita yang mereka pilih. Jatuh cinta pernah sesederhana itu.

Tapi entah kenapa, kini hal itu tidak lagi sama. Rasa percaya itu harus dibuang. Mereka harus merasakan pedihnya dikhianati, dibohongi berulang-ulang, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti percaya.

Ini seolah menguatkan hipotesa gue bahwa :

Pria bajingan adalah pria baik-baik yang disia-siakan.

“Tenang Ta, ntar lo juga bakalan ngerasain. Akan tiba masanya dimana lo bakalan ngerasa pragmatis ama cinta. Cinta itu sebenarnya bullshit!”

Gue hanya tersenyum kecut. Mencoba mencerna kata-kata yang gue dengar barusan. Apakah gue akan mengalami hal yang sama? Gue yang selama ini cemen kalau menyangkut masalah perasaan akan berubah menjadi pragmatis?

Gue berusaha merefleksikan ke belakang, semua pengalaman pahit, manis jatuh cinta dan pedihnya patah hati. Dan ya, gue gak bisa bohong kalau semua itu memberikan pelajaran.

“Lo nanti akan mulai membentengi diri lo dari yang namanya cinta, dan lo gak bakalan mudah percaya lagi Ta. Istilahnya, lo jadi mati rasa. Jadi baal”

Dheg!

Baal? Mati rasa?

Sepertinya hal itu udah mulai gue alami. Entah karena kapok atau memang sudah menjadi dewasa tertempa oleh pengalaman. Tidak ada lagi excitement yang sama yang muncul dibandingkan gue yang dulu. Idealisme anak muda memandang cinta yang dulu sempat gue punya kini menguap entah kemana.

Falling in love has never been this hard.

Dan tidak bisa dipungkiri, gue mulai mati rasa.

Memikirkan hal ini, entah kenapa gue langsung mengingat cerita dalam Wizard Of Oz. Sebuah cerita yang pernah gue baca dulu sekali waktu gue masih kecil.

Seolah tertampar oleh realita, gue akhirnya menyadari satu hal : Pria-pria di meja ini adalah Tinman. Kami adalah manusia-manusia kaleng yang tidak lagi punya hati.

Beberapa memutuskan untuk menjadi brengsek, sedangkan beberapa lain memilih untuk berhenti percaya terhadap yang namanya cinta. Entah hanya untuk sementara atau selama-lamanya.

Tapi sebenarnya kondisinya sama, kami hanya sedang dalam sebuah perjalanan, berusaha mencari penyihir untuk meminta sebuah hati untuk bisa kembali percaya. Suatu saat nanti.

Gue mengambil green tea kaleng yang dari tadi tergeletak di atas meja. Uap air yang menempel di dindingnya sedikit membasahi tangan. Gue meneguk sebagian isinya sambil berharap cairan itu bisa sedikit melegakan rasa panas di dalam hati. Kaleng minuman itu gue letakkan kembali di posisi semula ketika isinya tinggal setengah.

Sambil mendongak ke atas, gue melihat langit cerah malam ini. Sebuah nafas panjang gue hembuskan sekuat tenaga. Sebagai percobaan melupakan sakit yang gue tau bakalan sia-sia.

Thank you for everything…

Dan entah sampai kapan, gue akan menjadi seperti ini. Menjadi sebuah manusia kaleng yang membutuhkan sebuah hati.

 ***

It’s times like these

I wish I were the tin man

You could hurt me all you wanted

I’d never even know

Well…I’d give anything just to be the tin man

And I wouldn’t have a heart and I wouldn’t need a soul