Well fuck. I am 30!

Selama beberapa tahun ke belakang, gue selalu berpikir umur 30 adalah angka yang masih jauh. Angka yang bikin mikir ‘ah, masih nanti lah itu..’.

Sebagai contoh, pertama kali gue nulis postingan ulang tahun di blog ini, umur gue masih dua puluh tiga. Dua puluh tiga! And suddenly, I am 30.

Di satu sisi, rasanya masih baru kemarin lulus kuliah, baru dua hari yang lalu ngerasain pertama kali masuk kantor, dan tiba-tiba lo udah tiga puluh.

Hidup emang nggak main-main berlalunya.

Seperti biasa, postingan gue ulang tahun selalu gue jadikan momen kilas balik. Melongok sebentar ke belakang, untuk melihat hal-hal apa aja yang sudah gue lakukan, belum gue lakukan dan akan gue lakukan ke depannya.

Di postingan ulang tahun, gue pernah patah hati paling hebat, gue pernah move on dengan tepat, bingung akan nasib gue di negara orang, dan pernah dalam kondisi sakit parah.

Delapan kali sudah gue menulis postingan ulang tahun, dan delapan kali pula gue bercerita hal yang berbeda.

Di umur 29, gue menghabiskan sepanjang tahun untuk belajar menerima kondisi gue. Kondisi sakit yang parah, yang menyebabkan kelumpuhan dan menyadari bahwa masih ada kemungkinan kalau gue nggak akan kembali ke kondisi semula.

And it’s fine now. I have already accepted that fact.

Gue menghabiskan umur 29 gue dengan mencari tau apa arti ‘acceptance’. Apa arti menerima, arti bersabar, dan apa arti bangkit. Gue belajar untuk berdamai dengan diri sendiri.

Gue selalu menghindari untuk tidak terlalu preachy, di blog ini. Gue nggak pengen kalau tulisan-tulisan gue isinya hanya khotbah ke orang-orang yang membacanya. Gue hanya ingin berbagi, dan syukur syukur kalau ada yang bisa relate dengan ceritanya.

Tapi kali ini biarkan gue sedikit berbeda.

Di umur 30 gue kali ini, let me share you some things I learned.

Pelajaran-pelajaran hidup yang berhasil gue kumpulkan selama 30 tahun ke belakang. Hal-hal kecil tapi krusial yang seandainya saja bisa gue sampaikan ke diri gue di awal dua puluhan beberapa tahun yang lalu.

So, stick with me:

  1. Time flies. Fast.

Gue nggak bisa lagi menekankan betapa benarnya kalimat ini. Waktu benar-benar terbang dengan cepat. Pastikan kita menggunakannya dengan baik. Lo baru akan sadar betapa cepatnya waktu berlalu ketika waktunya sudah terlambat.

Dan hal yang memperparah hal itu? Rutinitas.

Rutinitas membuat kita lalai dengan apa-apa yang harus kita lakukan. Rutinitas akan membuat kita selalu berpikir ‘Ah, nanti lah. Masih ada waktu ini.’ Padahal kenyataannya, waktu akan berlalu dengan sangat cepat.

Rutinitas gampang sekali membuat kita terdistraksi dan melupakan mimpi-mimpi besar yang ingin kita gapai.

Sekali waktu lo nulis postingan umur dua puluh tiga, tujuh tahun kemudian sudah sampai di postingan tiga puluh.

  1. There are things you can’t control. Accept that fact.

Ya kalau ada hal-hal yang nggak berada dalam kuasa kita, ngapain cemas? Buat apa memikirkan hal-hal yang nggak bisa kita kontrol. Mulai lah bisa menerima kalau memang ada keterbatasan dalam usaha manusia.

  1. Do not take things for granted.

I mean, everything. You have a healthy body, maintain it! You have a wonderful family, show your gratitude towards them. You have amazing friends, keep them around. Do not think it will stay like that forever.

  1. Good thing shall pass, so does bad thing.

Remember this one!

  1. Life ain’t fair. And it will never will.

Do you have a shitty life? Well, tough luck! Do you have an ugly face? You better be smart, or funny. The world does not owe you a damn thing. 

Stop using that victim card.

  1. Know your own pace.

Some people are excel in life, they get things early. Others, don’t.

Mulai lah bisa menerima fakta kalau hidup itu nggak berjalan beriringan buat semua orang. Orang-orang menikah di umur yang tepat, mungkin lo nggak. Orang-orang bisa tau tujuan hidupnya lebih awal, mungkin lo nggak. Orang-orang bisa punya rumah lebih cepat, mungkin lo nggak.

Sebagai contoh : orang-orang mungkin udah mulai mikir sekolah anak di umur 30, gue bahkan lagi belajar jalan.

And that’s totally fine.

Stop, breathe, look around. You are not in a race with anybody.

We have our own pace. Take it easy.

  1. Get out from your toxic relationship now!

I can’t stress this strong enough.

Kita semua pernah di dalam hubungan seperti ini. Diselingkuhin berkali-kali. DIkasarin berkali-kali. Putus nyambung berulang kali. And yet, selalu balikan dengan argumen ‘they will change’.

I shit you not. They won’t.

Salah satu satu penyesalan gue saat ini adalah kenapa gue dulu nggak langsung memutuskan toxic relationship gue lebih awal. Padahal gue tau itu nggak akan kemana-mana.

Gue rela berulang kali berkubang dengan permasalahan yang sama dengan harapan kalau suatu saat hal itu akan berubah. Pada kenyataannya, nggak. Gue hanya menunda suatu hal yang gue tau akan terjadi cepat atau lambat.

  1. Asking for help is not the sign of weakness.

It’s okay to ask for help if you need one. A professional one is better.

  1. Sick is damn expensive and it worries a lot of people.

Go get yourself a health insurance. At least it will take one out of things you need to worry when you get sick.

  1. You are the average of probably 5 people around you. Choose them wisely.

When we are in our twenties, it’s fun to have many circles of friends. You know a lot of people. It feels nice to know or to be known by many people you considered as friends.

In your thirties, it’s a different ball game. Your circle is getting smaller but your friendship is getting deeper.

You will realize that the word ‘friend’ has changed its meaning.

It is not ‘the one person that will be there 24/7 for you’, it is more like ‘I have my own life, so do you. I will not be talking to you every day, but if shit goes down, I am just one phone call away’.

***

Anyway, I am welcoming my thirty with open arms.

Gue tau kalau Allah nggak membawa gue ke umur ini tanpa tujuan. Diberikan sakit yang lebih dari orang kebanyakan tanpa ada maksud dan penjelasan.

Jika selama dua puluh sembilan tahun Allah menjaga gue, gue yakin Dia akan seterusnya ada untuk memberikan tuntunan.

Jadi ijinkanlah di tahun ini gue menuliskan satu tulisan tambahan lagi sebagai pengungkap rasa syukur atas napas tambahan yang sudah diberikan bertahun-tahun ke belakang. Dan semoga masih ada sambungan napas untuk tahun-tahun di depan.

Semoga di kepala 3 ini gue bisa menjadi jalan kebaikan untuk orang-orang di sekeliling gue. Sambil bisa melangkah perlahan dalam menjalani hidup.

Literally and figuratively.