I don’t write about her often enough.

Nggak tau kenapa. Berbeda dengan semua pacar perempuan yang pernah dekat dengan gue, minimal pasti ada satu atau dua tulisan tentang mereka di blog ini.

But not with her.

Kenapa? Entahlah.

Mungkin gue sudah terlalu sibuk sekarang ini dengan kerjaan gue di kantor. Mungkin karena gue udah keseringan menulis buat Big Alpha. Or simply, because I just want to keep her for myself. This time I don’t want to share.

Sekaligus menghindari juga pertanyaan-pertanyaan kepo orang lain tentang identitas dia kayak yang udah-udah.

But let me share you a story.

Beberapa waktu yang lalu, dia main ke apartment gue. Seperti biasa, ini adalah rutinitas kami setiap akhir pekan. Dia akan datang dari rumahnya di ujung dunia sana (serius, rumahnya jauh banget!), ke apartment gue, untuk menyeret gue keluar dari tempat tidur.

Untuk latihan jalan.

Sejak divonis GBS 2 tahun yang lalu, kondisi gue belum pulih sempurna. Gue masih belum lepas dari kursi roda dan walker.

Dokter gue sendiri sudah pesimis gue akan bisa kembali normal, tapi tidak dengan dia. Setiap minggu dia akan datang, untuk menyeret gue keluar dari kamar, latihan jalan melatih otot kaki gue yang sudah terlanjur mengecil.

Dia datang ketika yang lain memutuskan untuk pergi. Dia singgah ketika yang lain memutuskan untuk pindah. Dan minggu ini juga sama.

Dia datang lagi.

Dan dengan rasa malas yang tidak terhingga, gue meraih KAFO yang tergeletak di ujung tempat tidur. KAFO (Knee Ankle Foot Orthosis) adalah semacam alat bantu yang membuat kaki kita tetap lurus. Seperti yang digunakan Forrest Gump ketika dia masih kecil.

Dengan tertatih-tatih, KAFO terpasang di kaki kiri, dan tangan yang menggenggam erat walker, gue mulai keluar dari kamar. Biasanya, gue akan berjalan mengelilingi apartement. Aktivitas yang terlihat sederhana memang, tapi dengan kondisi kaki seperti gue ini, keliling apartment terasa seperti keliling dunia.

Susah!

Tapi mau gimana? Hal ini gue terpaksa gue lakukan. Untuk kebaikan gue sendiri. Dan untuknya.

Tidak jauh dari pintu kamar, jari gue meraih tombol lift untuk memintanya terbuka.

Ding!

Dia lalu berjalan masuk duluan lalu menekan tombol agar pintunya tetap terbuka. Menahan agar gue bisa masuk secara perlahan. Di dalam ada beberapa orang lain yang juga ingin turun. Seorang ibu dan anak perempuannya tepat di belakang gue. Dan seorang pemuda dengan pacarnya di sudut paling belakang.

Seperti biasa, pandangan orang-orang asing ini sedikit mengganggu gue. Those pity looks. Looking at a man at his prime struggling to walk by himself.

Tapi gue sudah terbiasa.

Terdengar suara derak perlahan di atas kepala. Pertanda lift ini mulai bergulir turun ke bawah. Lift pun mulai bergerak perlahan. Dan sesampainya di lobby, masalah itu pun muncul.

Pintunya tidak mau terbuka!

“Coba tekan lagi.” kata gue.

“Nggak bisa. Nggak mau dia”

Pintunya masih tertutup.

“Coba pencet tombol bantuannya”

Terdengar bunyi dering telepon di ujung sana. Tapi tidak ada yang mengangkat.

“Ini udah mau dekat lebaran. Jangan-jangan udah cuti semua” gumam gue.

Keringat gue mulai keluar. Untuk yang kenal gue pasti tau kalau gue claustrophobia alias phobia tempat sempit. Gue merasa sangat tidak nyaman berada di dalam lift. Apalagi dengan kondisi sekarang, kaki lemah, dan berdiri bergantung pada walker.

“Coba lagi. Tombol bantuannya” pinta gue.

Dia memencet kembali tombol itu. Kembali terdengar dering telepon tetapi masih tidak ada yang mengangkat.

“Coba telepon ke lobby”

Dia meraih keluar handphonenya,

“Nggak ada sinyal.”

Oh great. Gue memejamkan mata. Menarik napas panjang, berusaha menghilangkan rasa cemas dan rasa bergejolak di perut gue.

Gue mau muntah!

“Gpp. Kamu udah ngerasa gak enak ya?” katanya melihat gue.

Gue hanya mengangguk sebagai bentuk afirmasi. Dia tau kondisi gue saat ini.

“Coba gedor aja pintunya”

Dang! Dang! Dang!

Tangannya menggedor-gendor pintu lift. Tapi tetap aja, tidak ada yang datang membantu. Udara di dalam lift mulai terasa pengap.

Lagi, gue menarik napas panjang. Gue mual!

“Ma, mau keluar.” anak kecil di belakang gue merengek ke ibunya.

“Iya, itu lagi dibikin ama om dan tante.” kata ibunya menunjuk kami dengan dagu.

Gue benar-benar mulai panik. Perut gue terasa diaduk-aduk. Keringat gue mulai menetes ke punggung. Gue mulai gak bisa berpikir jernih. Jika dibiarkan lebih lama lagi, gue pasti akan muntah di sini.

“Coba dibuka paksa aja, deh. Mas, cobain yuk ama saya” gue berpaling ke pemuda yang berdiri paling belakang.

Pemuda itu beranjak maju ke depan. Berganti posisi dengan dia yang dari tadi di sebelah gue. Dan bersama dengan gue mulai memasukkan jari ke sela-sela pintu lift yang tidak kunjung terbuka.

“Paksain mas, mulai terbuka nih.”

Dan benar saja, ketika kami paksa pintu lift akhirnya terbuka. Udara dingin menyeruak masuk ke dalam lift. Menghilangkan keringat melalui sela-sela baju.

Dan tidak sabar, gue langsung melangkah keluar.

Dan rasanya, gue nggak pernah selega itu.

***

Pengalaman terkunci di lift itu adalah pengalaman pertama gue. Dan semoga saja menjadi yang terakhir. Perasaan tidak nyaman terkunci dalam ruangan sesempit itu terasa sangat menyiksa untuk seorang claustrophobic seperti gue. Pikiran yang mengeruh, keringat yang mengucur deras, perut yang terasa mau muntah bercampur aduk menjadi satu.

Ditambah lagi dengan kondisi kaki lemah yang menopang badan ini.

Lalu, apa hubungannya semua cerita ini, Ta?

Begini,

As long as I remember, I haven’t dropped ‘The L word’. I have not said ‘I Love You’ to her.

Because for me, ‘Love’ is a big word.

Tapi jika nanti di masa depan gue gue terkunci di dalam lift lagi. Dan gue bisa memilih dengan siapa gue terkunci.

I hope she’s still there with me.