Namanya Marni.

Sama seperti gue, dia bukan orang asli dari daerah ini. Mungkin dia langsung datang dari Tegal untuk berjualan di warung ini. Tapi yang jelas dia bukan pemilik warteg ini, dia hanya orang yang bekerja di sini demi lembaran-lembaran rupiah sebagai pengganti waktunya.

“Makan mas?” tanya Marni setiap kali pengunjung melangkahkan kaki ke dalam warungnya, termasuk gue di siang ini.

Pertanyaan yang cukup retoris mengingat gak mungkin gue datang kesini untuk latihan berkuda.

Warteg ini tidak terlalu besar, hanya berukuran sekitar 3 x 2 meter. Etalase kaca tempat menyimpan makanan sudah sedikit kusam dimakan waktu. Di beberapa pojok ruangan, terdapat beberapa tumpukan debu yang lupa dibersihkan. Meskipun kondisinya begitu, semua teknologi di warung kecil ini sudah touch screen.

Touch screen

gambar diambil disini. Terima kasih

Pengunjung cukup menyentuh kaca etalase sebagai metode pemesanan menu, dan Marni dengan sigap akan menempatkannya ke dalam piring.

Marni gak kerja sendirian, tapi dialah yang paling gue sering lihat disini dibandingkan pelayan-pelayan yang lain.

Wajahnya jauh dari kata cantik yang biasa kita definisikan. Rambutnya yang kadang jarang tersisir rapi dikuncir kebelakang. Badannya sedikit gemuk dan wajahnya polos tanpa polesan kosmetik. Logat bahasa Jawa Banyumasan masih terdengar kental keluar dari mulutnya. Dialek Ngapak yang berasal dari pesisir barat pulau Jawa. (Cilacap, Tegal, Banyumas hingga daerah Cirebon-Indramayu.)

Justin Bieber capek abis manggung!

gambar diambil disini. terima kasih.

Tapi jangan salah, meskipun Marni jauh dari definisi cantik yang paham kita anut, dia selalu menjadi idola tukang ojek atau tukang bangunan di sekitar sini. Mereka berlomba-lomba menggodanya.

“Ni, mangan. Karo telor, tempe orak arik.” pesan seorang tukang ojek yang baru datang sambil duduk di sebelah gue.

Marni langsung sigap mengambil piring dan menyajikan lauk-pauk sesuai pesanan. Gerakannya ulet dan sigap dalam melayani pelanggan yang datang.

Beberapa kali, gue melihat Marni tertawa kecil karena digoda oleh pengunjung warung ini. Ya, Marni menjadi menjadi idaman bagi tukang ojek, tukang bangunan, atau sekadar pedagang yang lewat dan menumpang makan disini.

Mereka melihat Marni dengan cara yang berbeda. Mungkin bagi mereka, makan siang adalah waktu yang mereka tunggu-tunggu sepanjang hari, karena mereka bisa melihat Marni dan bercanda dengannya. Maybe lunch is the highlight of their days.

Mungkin karena sikapnya yang ramah, atau sikap telatennya mendengarkan setiap pesanan yang datang, Marni jadi terlihat cantik di mata mereka. Mungkin Marni adalah kandidat luar biasa untuk istri mereka di kota besar ini. Kota yang dipenuhi jiwa-jiwa kesepian para perantau.

Marni kemudian menyajikan piring di atas etalase kaca yang kini sudah dipenuhi nasi putih yang masih mengebul, sebuah telor sambal dan tempe orak-arik yang berkumpul di pinggir piring. Mereka lalu biasanya akan melanjutkan mengobrol sambil berbasa-basi dalam bahasa Jawa yang gak terlalu gue mengerti. Sambil mengaduk sisa-sisa gula di dasar gelas teh manis, gue memperhatikan mereka.

Gue hanya bisa melamun sambil menyuapkan nasi ke dalam mulut. Mencoba untuk mendefinisikan kata cantik. Yang sekarang menjadi sangat erat kaitannya dalam kriteria mencari seorang pendamping hidup bagi sebagian besar pria.

“Cantik ya?” kata gue kepada Boy, sesaat sebelum bis yang kami tumpangi akan berangkat company visit ke Jakarta beberapa tahun yang lalu.

“Yang mana?” tanya Boy.

“Itu, yang pake jilbab.” Gue menunjuk arah perempuan itu dengan dagu.

“Oh, hmmmm. Gak tau ya Ta, gue gak terlalu suka aja ama cewe berjilbab” kata Boy sambil nyengir.

“Ohhh. Oke” sahut gue pelan. Mungkin Boy akan lebih tertarik dengan cowo berjilbab.

Lagi-lagi masalah selera bermain disini.

Makin kesini, definisi cantik buat gue akan semakin absurd. Seorang teman kantor gue, menyukai wanita yang berkaki besar. Atas keibuan, bawah kesebelasan.

Seorang teman lainnya, sedang tergila-gila oleh wanita yang terlihat sangat biasa saja. Jauh dari kata cantik ketika gue melihat fotonya.

“Ya, namanya juga udah nyaman Ta. Dia mau ngedengerin semua curhat gue. Itu cukup. ” alibinya setiap kali gue mempertanyakan sikap teman gue itu.

Dan sekarang, gue seolah mengerti.

Cantik itu memang relatif. Kata ‘cantik’ buat saya, anda dan dia akan berbeda.

Gak akan ada standar yang sama dalam mendefinisikan kata cantik bagi setiap pria. Apalagi jika sudah menyangkut masalah hati. Hati terlalu bodoh untuk bisa mendefinisikan kata cantik. Dia hanya tau arti rasa nyaman.

Itu juga yang berlaku buat gue sekarang.

Saat ini, gue hanya membutuhkan wanita yang setia dan mau berusaha bersama-sama. Setia berdiri di samping gue dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Memperjuangkan suatu hubungan yang disepakati untuk dimulai bersama-sama. Dan dia akan otomatis menjadi cantik di mata gue.

“Yuk kita coba sama-sama.” jawabnya atas pertanyaan gue malam itu. Dan entah kenapa, mendadak dia menjadi cantik sekali.

Gue meraih tangannya, mempererat genggaman dan tetap diam tanpa berkata sepatah kata pun. Gue hanya tersenyum sambil memandangi jalanan di luar jendela.

Karena ya, cantik itu sederhana.

Sesederhana, mau berusaha atau tidak.

Bersedia mendengarkan atau tidak

Atau mungkin, cantik itu sesederhana menyajikan tempe orak arik di dalam piring.