Bromo : chapter 1..

Beberapa hari yang lalu, gue dan beberapa teman kantor melakukan sedikit short break dari rutinitas kantor. Demi menghilangkan kejenuhan harian yang dimunculkan oleh sebuah kota besar, kita sepakat untuk kabur ke Bromo, Jawa Timur.

Mental egosentris kota besar langsung terbentur oleh keramahan orang daerah ketika menginjakkan kaki di bandara Djuanda. Saat keluar dari bandara dan menunggu mobil jemputan, seorang porter menghampiri kami.

Umurnya sudah agak tua. Gue taksir menjelang 50an. Tidak ada seragam porter yang biasa kita lihat di bandara, hanya pakaian biasa, tapi rapi. Dengan sangat sopan, dia berbicara kepada kami.

“Permisi pak, saya ingin mencari uang halal. Boleh saya bantu mengangkat tas-tas nya ke mobil? 5 ribu saja. Saya minta ijin dulu, soalnya kalo langsung diangkat ngga enak. Boleh?” kata dia sungkan.

“Iya pak Lanjut ta.. | 1 Comment