Selama gue sakit, fisioterapi adalah hal yang wajib gue lakukan untuk mempercepat penyembuhan. Maklum, sejak kehilangan kemampuan berjalan dua setengah tahun lalu, gue harus rutin mengerakkan kaki agar sendi-sendi tidak kaku karena lama tidak digunakan.

Karena apabila sendi-sendi di kaki gue itu dibiarkan terlalu lama tanpa gerakan, dia akan kaku, mengeras, dan harapan gue untuk berjalan normal pun harus pupus.

Oleh karena itu, gue nggak pernah berhenti melakukan fisioterapi sejak jatuh sakit dua setengah tahun yang lalu. Mulai dari akupuntur, fisioterapi hingga hydrotherapy (fisioterapi dalam kolam) sudah gue lakukan.

Awalnya sesi fisioterapi ini gue lakukan di rumah sakit selama dua minggu sekali, dengan bantuan terapis profesional di sana. Tapi mereka menyarankan gue untuk tidak hanya berlatih dua minggu sekali, melainkan harus setiap hari.

Frekuensi latihan gue harus ditambah demi progress yang diharapkan lebih cepat.

Karena saran itu lah, gue memutuskan untuk membeli sebuah sepeda statis beberapa bulan yang lalu. Harapannya sepeda statis ini bisa gue gunakan berlatih di kamar setiap hari tanpa harus repot pergi ke rumah sakit.

Gue sengaja beli yang kecil dan tidak dilengkapi pegangan karena ingin mengkhususkan latihan di bagian kaki. Lagipula, tangan gue juga nggak kenapa-kenapa, nggak kena GBS. Membeli sepeda statis yang dilengkapi latihan beban untuk bagian lengan malah ditakutkan akan membuat lengan gue semakin besar.

Ini aja udah kayak tukang pukul.

But anyway, pesanan sepeda statis gue ini sudah tiba dari Tokopedia beberapa bulan yang lalu. Dan begitu kotaknya terbuka, gue menyadari ada kenop yang bisa diputar untuk memperberat kayuhan sepedanya.

Total ada delapan level yang bisa gue atur. Dan pada saat pertama kali sepeda itu gue coba, level 1 saja sudah terasa sangat berat.

“Errgggghhhhh” kaki gue mengayuh sekuat tenaga sepeda level 1 itu.

“Kok berat banget ya?”

“Coba abang kayuh pake tangan” saran adek gue.

Dan benar saja, begitu gue mencoba mengayuhnya menggunakan tangan, level 1 itu ternyata nggak ada apa-apanya. Enteng!

Level 1 aja seberat itu, gimana level 8 nanti?!

Disitulah gue menyadari kalau gue telah kehilangan 90% kekuatan otot kaki gue dalam dua tahun terakhir. Sedikit ironis memang, mengingat gue dulu gue rutin latihan sepakbola, badminton dan muaythai yang mayoritas melibatkan footwork.

Dan memang, otot kaki gue sudah mengecil dari ukuran normal atau yang dikenal dengan istilah atrophy dalam dunia kedokteran.

Tapi hal ini tidak membuat gue patah semangat.

Setiap hari, gue duduk di pinggir tempat tidur, memasukkan kaki gue ke lubang pedal dengan bantuan tangan, lalu mengayuhnya perlahan-lahan.

Satu kali..dua kali…tiga kali…

Satu menit….dua menit….tiga menit.

Apakah gue pernah bosan dalam melakukannya?

Tentu saja. Ada masa dimana gue merasa lelah dan marah karena melihat kondisi kaki gue yang seolah tidak ada kemajuannya. Ada malam-malam dimana gue akan merasa malas dan memutuskan untuk tidur saja.

Dan bukan satu dua kali gue merasa ingin menyerah.

Tapi di kebanyakan malam lain, gue akan menyeret kaki kecil gue ini untuk kembali mengayuh.

Satu kali…dua kali…tiga kali….

Satu menit…dua menit…tiga menit.

Karena gue tau, yang gue butuhkan sekarang bukanlah perubahan yang drastis. Yang gue butuhkan sekarang adalah persistensi dan konsistensi.

Progress over perfection.

Bagaimana untuk terus konsisten mengayuh walau seolah tidak ada perubahan yang gue lihat dan alami.

Karena gue sadar, ini bukanlah ‘sepeda statis’ pertama yang gue alami.

Gue sudah berulang kali mengayuh sepeda ini. Dulu di SMA waktu gue kena tsunami dan ingin kuliah ke Jawa, gue juga punya ‘sepeda statis’ yang berbeda. Belajar mati-matian dengan penerangan liin demi tembus SPMB kuliah ke Jawa.

Waktu mengejar beasiswa S2 selama 5 tahun pun, gue juga punya ‘sepeda statis’ yang berbeda. Malam-malam yang dulu gue isi dengan mengerjakan essay beasiswa adalah bentuk lain dari ‘sepeda statis’ ini. Ada banyak ‘sepeda statis’ lainnya.

Kerja sambil kuliah di negeri orang dengan uang yang terbatas sudah sudah berhasil gue lewati.

Sudah seperti itu dan akan selalu seperti itu. Hanya kali ini sepeda statisnya berbeda bentuk dan kesulitan.

And yet here I am.

Empat bulan sejak sepeda statis itu dibeli. Massa otot yang sudah mulai kembali mengembang dan gue sudah berada di level 3.

I still have 5 more levels to go. It takes time, but I know I will get there someday.

Gue percaya hasil dari melakukan satu hal secara terus menerus. Gue percaya kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.

Dan gue juga percaya kalau prinsip ini tidak hanya berlaku untuk penderita GBS saja, tapi juga untuk hal lain. Untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.

If I can do it, then believe me, you can do it as well.

Do it slowly, and repeatedly.

You can’t make someone love you instantly. It’s the accumulation of little things you do that makes her love you.

You can’t get into shape by skipping a meal or two. It’s the consistency of working out and the diet you do that make it possible.

You can’t get things you want just by thinking about it.

Life doesn’t work that way.

It’s the consistency and the accumulation of things you do that make the difference. That what makes you stand out from the crowd. That one extra little step you take that makes you closer to your goals.

Jadi, untuk kalian yang sedang sangat menginginkan sesuatu seperti halnya gue sekarang yang bermimpi untuk bisa berjalan lagi.

Ambil ‘sepeda statis’ mu dan mulailah mengayuh.

Satu demi satu.