Dulu waktu di Aceh, komputer dan akses internet adalah hal yang langka.

Ntah karena waktu itu Aceh belum damai, ataupun karena infrastrukturnya yang belum mumpuni, di jaman gue, akses internet adalah suatu barang mewah.

Waktu gue SMA, sedikit sekali teman gue yang bisa mengoperasikan komputer, apalagi surfing di internet.

Satu-satunya temen gue yang bisa mengetik di komputer selalu menjadi sasaran jika kami ingin membuat makalah ataupun karya tulis.

Yang lainnya sama sekali ngga bisa ngetik, kayak kambing turun tangga. Lambat sekali.

Serius, gue bahkan ga bisa ngetik di komputer waktu SMA dulu. Yang bisa gue lakukan di komputer adalah sekedar maen pinball atau solitaire.

Namun ntah bagaimana, hal ini ngga menghalangi gue untuk lulus SMA dan kuliah ke Bandung.

Berbekal sebagai salah satu ‘angkatan tsunami’ dari SMA gue, gue memberanikan diri untuk hidup sendiri di Bandung.

Hal ini menjadi sangat rumit ketika gue dihadapkan oleh tugas-tugas kuliah yang harus diketik. Bahkan, di jurusan gue, ada satu mata kuliah yang bernama ‘Pengantar Aplikasi Komputer’.

Semacam mata kuliah dasar tentang pengenalan komputer dan sistem didalamnya.

Mata kuliah ini mewajibkan kita untuk mengikuti praktikum dan setiap kelas praktikum ditentukan oleh kemampuan kita dalam mengoperasikan komputer.

Maka, praktikan ini akan disaring sebelumnya.

Saringannya sendiri berupa familiarisasi dengan komputer. Sang asisten dosen akan membongkar satu unit PC, dan meminta kita menyebutkan apa komponen didalamnya dan apa fungsinya.

Yang buat gue, jangan kan tau komponen komputer, bisa ngetik 1 lembar sehari aja udah Alhamdulillah.

Maka datanglah gue di hari yang ditentukan.

Dihadapan gue ada satu unit PC yang sudah di bongkar.

“Kamu tau ini apa?” tanya si asisten dosen.

“ngga tau kang” kata gue pelan, dengan logat yang masih kental tentunya.

“Kalo ini?” tanya dia sambil menunjuk sesuatu plastik berwarna hitam.

‘aduh, apa itu ya? kok bentuknya kayak sisir? sisir kok ditaro di komputer? Apa komputernya ketombean?’ tanya gue dalam hati

“ngga tau juga kang” kata gue sambil menggelengkan kepala.

“Kamu asalnya dari mana?” akhirnya dia penasaran.

“Dari Aceh kang” kata gue.

“Ohhhhh, dari Aceh. (jeda sejenak) Hmmm..waktu tsunami gimana?”

“………………………….”

Dia malah nanya kejadian tsunami ke gue?!

Sesi seleksi itu sendiri berakhir dengan gue menceritakan kejadian tsunami ke dia.

Tanpa ada sesi tanya jawab lagi.

Akhirnya, gue masuk kelas praktikum yang paling bego, bersama anak-anak daerah lainnya.

Akhirnya dari sana gue mulai membiasakan sendiri untuk menggunakan komputer, dan membeli komputer bekas untuk gue gunakan selama masa kuliah.

 

Akses internet gue pertama kali juga waktu jaman kuliah, dulu masih ngetop-ngetopnya friendster.

Gue saat itu belum punya friendster. Waktu SMA gue pernah chatting make MIRC (who doesn’t?) dengan anak Jakarta, dan dia nanya.

“Lo punya FS?”

“FS itu apa ya?” kata gue bingung. Wong bisa matiin ini komputer aja udah syukur, kok ditanyain FS.

Ngga mudeng. FS menjadi misteri dalam hidup gue.

Dan akhirnya, gue mengetahui apa itu FS ditahun 2005.

Saya punya friendster!!!

Iya gue emang telat!

Itu pun diajarin oleh teman gue.

Diajarin bikin email, buat friendster, bikin profile, bikin testimonial. Norak ya? Hahaha.

Tentu saja dengan profile picture dengan foto ‘angle atas’ yang ntah kenapa dulu ‘terlihat’ sangat keren seperti ini.

 

Ati-ati naksir »

Ini foto jaman muda

Oh come on! Semua orang pernah mengalami masa-masa alay.

Alay adalah fase dari persinggahan dari remaja ke pemuda. Akui saja lah.

Kita semua alay yang berevolusi.

Akhirnya, karena punya friendster, gue jadi rajin ke warnet. Yang mungkin era ‘rajin-ke-warnet-hingga-lupa-mandi’ sebagian besar kalian alami di jaman SMA atau bahkan SMP.

Namun buat gue, masa itu gue lakukan di jaman kuliah. Ke warnet udah kayak minum obat. Sehari bisa 3 kali.

Cuma untuk sekedar ngecek testimonial atau bulletin board.

Dari sanalah gue mulai googling, nyari informasi, bikin blog gratisan, belajar HTML, coding, hingga berusaha nyari duit dari internet (dan berhasil).

Hingga munculnya era Facebook dan Twitter. Semakin dipermudah dengan munculnya mobile internet.

Akses internet yang membuat kita lebih mudah dan murah.

Kalo dilihat ke belakang, hal hal yang gue alami benar-benar lucu sekaligus menginsipirasi.

Bagaimana internet mengubah hidup sebuah anak daerah, dan membuatnya XLangkah Lebih Maju.

Dari yang sama sekali ngga bisa apa-apa hingga bisa mengecap kenikmatan akses teknologi.

Sekarang gue punya blog pribadi, account media social, memenangkan lomba blogging, hingga menerima pekerjaan menulis dari blog.

Bahkan, pekerjaan tetap gue saat ini didapat dari internet. Ntah apa jadinya

Kini, kebutuhan pokok gue ada 4. Sandang, Pangan, Papan, dan akses internet.

Jadi kalau dibilang internet membuat saya “XLangkah Lebih Maju”, itu salah.

Internet membuat saya ribuan langkah lebih maju.