“Itu ikannya ditaro lemon ama garam duluuuu… biar gak amis.” dia memarahi gue.

Karena skill memasak gue emang hampir mendekati nol, gue cuma diam dan menuruti apa katanya. Dan dia adalah satu-satunya yang punya cukup kesabaran untuk mengajari gue cara memasak.

Sejak kuliah di sini, gue mau nggak mau harus belajar memasak. Selain harga makanan yang lebih mahal dan menyiksa uang beasiswa gue, perut gue sepertinya tidak bisa mentolerir lagi makanan-makanan bule yang tersedia.

Burger, pizza, atau pasta sudah tidak bisa lagi gue terima. Berat badan gue susut beberapa kilogram sejak tiba di sini. Jadi, belajar memasak adalah opsi yang paling logis yang bisa gue lakukan.

“Nantinya apinya jangan kegedean ya..” ujarnya mengingatkan.

“Siap chef!” ujar gue singkat.

Jemari gue sibuk melumuri salmon yang gue beli kemarin dengan garam dan merica. Tanggal kadaluarsa yang tertera di labelnya memaksa gue untuk harus memasaknya hari ini. Entah apa yang akan terjadi jika gue memasaknya melewati tanggal kadaluarsanya. Mungkin ikannya menjadi busuk atau dagingnya menjadi asam.

Entahlah, pengetahuan gue tentang hal ini minim sekali.

“Nanti kalau udah dilumuri garam ama merica, masukin ikannya ke dalam kulkas sebentar sebelum digoreng.”

“Buat apa?” tanya gue.

“Biar meresap itu garam ama mericanya.”

“Hooooo” gue mengangguk percaya.

Setelah selesai melumuri salmon dengan air perasan lemon, garam, dan merica, gue memasukkan ikan itu ke dalam kulkas di atas sebuah piring kecil.

Oke, tinggal manasin minyaknya, ujar gue dalam hati.

“So, how was your day?” tanya gue kepadanya ketika beranjak dari lemari pendingin menuju layar laptop.

Sebuah jam kecil berdetik di bagian bawahnya. Menandakan aktivitas video call ini yang sudah hampir menyentuh tiga puluh menit.

“Nggak, tadi di kantor banyak kerjaaan, trus…” dia mulai bercerita tentang kegiatannya hari ini.

Gue cuma mendengarkan ceritanya dengan muka serius, tapi sejujurnya pikiran gue melayang entah kemana.

Dia adalah gadis paling rapuh yang pernah gue temui. Cantik, baik, tapi rapuh. Seolah ada tanda “Handle With Care” tertulis di hatinya. Butuh orang-orang yang tulus yang bisa dekat untuk merawatnya.

Entah kenapa gue mulai menyukai rutinitas ini. Rutinitas yang awalnya cuma berawal dari sebuah resep masakan. Butanya gue terhadap kegiatan memasak bertemu dengan passion-nya terhadap aktivitas ini. Semuanya menjadi klop, bersatu tanpa effort.

Pembicaraan kami mengalir lancar tanpa paksaan. Pembicaraan yang perlahan bercampur dengan perasaan. Seperti bumbu masakan yang perlahan larut dalam sebuah wajan.

Gue tau ada beberapa rahasia yang belum diceritakannya kepada gue. Mungkin butuh waktu, hingga akhirnya dia bisa percaya. Untuk berani membuka diri dan menurunkan “para penjaganya”.

Perbedaaan waktu dengan Indonesia seolah bukan menjadi masalah buat kami berdua. Dia rela begadang hingga diri hari hanya untuk mengajarkan gue memasak ketika gue pulang kuliah. Melawan rasa kantuknya hanya untuk tau bagaimana hasil akhir masakan gue.

Orang lain mungkin menyebutnya sebagai perhatian. Perhatian yang buat gue terasa hangat dan menyenangkan. Dan itu terasa spesial.

Beberapa percikan minyak panas menyadarkan lamunan gue. Air yang berasal dari wajan yang basah menyebabkan letupan-letupan kecil pertanda minyaknya sudah panas.

“Itu kayaknya minyaknya udah panas…” dia menghentikan ceritanya “…sekarang goreng ikannya ampe kulit luarnya coklat keemasan.”

“Iya, bentar ya. Aku goreng ikannya dulu.”

Gue meninggalkan laptop di atas meja lalu mulai menggoreng ikan salmon untuk menu makan malam gue kali ini. Nggak butuh waktu lama, hingga akhirnya ikan itu matang. Kulit luarnya kini berwarna coklat keemasan.

Sempurna.

Gue langsung meniriskannya ke dalam piring yang sudah gue siapkan. Bercampur dengan nasi putih hangat dan tumisan sayuran yang juga diajarkan sebelumnya.

Setelah semuanya siap, gue membawa piring itu ke dekat laptop agar dia bisa melihatnya.

“Nih liat, aku bisa masak lho!” kata gue.

“Siapa dulu yang ngajarin.” Katanya bangga.

“Iya dehhh…” suapan pertama langsung masuk ke dalam mulut gue.

“Enak?”

“Enak! Ini masakan paling enak yang pernah aku masak.” ujar gue sambil tersenyum dengan mulut penuh makanan.

“Yaiyalah, kamu kan nggak pernah masak sebelumnya.”

“Hahahaha. Iya juga. ” gue hanya tertawa lepas.

“…tapi ikannya dalemnya nggak terlalu mateng nih. Masih sedikit mentah.” sungut gue.

“Kan aku udah bilang tadi apinya jangan terlalu gede. Hadeeuhhhh, nggak nurut!” dia melampiaskan kekesalannya.

Dan setiap kali dia kesal, buat gue dia terlihat menggemaskan. Gue hanya bisa tersenyum lucu melihat tingkahnya.

“….kalo apinya kegedean, matangnya nggak merata. Yang mateng luarnya aja. Tapi dalamnya nggak. ” Katanya menjelaskan.

“…ih kok malah senyum-senyum, sana goreng lagi ikannya!”

“Udah, gpp kok. Masih enak…” kata gue sambil menyunggingkan senyum kepadanya.

“Yakin? Yauda, aku tidur ya? Udah lewat tengah malem nih disini..”

“Hmm…yauda. Besok ngantor ya? Makasih ya udah diajarin masak” kata gue sedikit kecewa karena harus mengakhiri percakapan ini.

“Iya gpp, yakin itu ikannya nggak mau digoreng lagi?”

“Nggak, udah enak kok!”

“Yauda, aku tidur ya? Dadaaaahhh..Talk to you later.”

“Daahhhh, talk to you later.”

Tuttttt..

Dan layar laptop itu berganti menjadi pantulan muka gue sendiri. Pertanda dia sudah mengakhiri koneksinya dari Indonesia.

Empat puluh menit lewat sedikit. Percakapan menyenangkan yang berlalu tanpa terasa.

Hhhhhhhhhhhhhhh…

Gue menarik napas panjang. Diam sejenak dalam keheningan yang dapur ini tawarkan. Mata gue masih menatap layar laptop itu, berharap gue bisa melihat wajahnya sedikit lebih lama lagi.

Sambil mengunyah nasi di dalam mulut, gue mengoyak daging salmon dengan sendok. Daging itu terbelah sempurna ketika terdengar gesekan antara ujung sendok beradu dengan piring yang tersaji di atas meja.

Dengan ujung mata gue melihat potongan ikan yang dalamnya masih berwarna sedikit kemerahan.

Iya, harusnya digoreng sedikit lebih lama.

Tapi gue memang nggak bohong, ikan ini memang terasa lezat. Entah kenapa.

Mungkin karena gue yang sudah terlalu lapar, atau ada hal lain yang membuatnya istimewa. Seperti ada sesuatu yang membuatnya terasa lebih berharga untuk lidah gue. Sesuatu yang mungkin bernama perhatian dan rasa suka. Dari seorang gadis yang jaraknya ribuan kilometer dari gue sekarang.

Perhatian yang gue sadari mulai menyusup masuk bersama resep-resep masakan. Datang bersama gurauan-gurauan kecil yang menjadi penghias percakapan. Dan perasaan yang juga mulai larut diantara bumbu-bumbu penyedap makanan.

Kami berdua tau, kalau kami saling menyembunyikan perasaan, membuatnya seperti resep sederhana yang sulit untuk dipraktekkan. Saling tebak dan saling bikin penasaran.

Itu yang membuat rutinitas ini menyenangkan. Yang membuat gue terasa berat untuk menghentikan percakapan dan terus berusaha mencari alasan untuk membahas resep masakan. Sederhana, tapi rumit.

Gue, dia dan perasaan. Seperti salmon dan garam yang bertemu di atas wajan.