Meskipun tidak merayakan Natal, dulu gue selalu menunggu datangnya libur Natal. Liburan Natal buat gue selalu identik dengan film kartun dan film keluarga yang akan diputar di stasiun televisi swasta.

Biasanya, gue akan menghabiskan hari libur Natal itu dengan tidak pergi kemana-mana. Hanya berdiam di depan TV sepanjang hari. Film-film Natal akan ditayangkan di TV secara berurutan dan gue adalah salah satu penonton setianya.

Dari semua film itu ada satu hal yang menjadi benang merahnya. Hal yang menarik perhatian gue sampai kadang lupa untuk mandi.

Salju.

Ya, liburan Natal buat gue selalu identik dengan salju. Dan sejak itulah, gue selalu memikirkan bagaimana rasanya salju.

Merasakan serpihan salju putih bersih yang turun dari langit sepertinya cuma sebatas impian buat gue. Lahir dan tumbuh besar di propinsi di Indonesia yang masih mengejar ketertinggalannya, membuat gue cukup sadar kalau keinginan merasakan salju hanya bisa digantungkan di bagian cita-cita.

Gue tau diri.

Keinginan merasakan salju itu hampir gue rasakan ketika gue mengunjungi Jepang tahun 2013 yang lalu. Tapi bulan November ternyata belum cukup dingin untuk melihat salju.

Cuaca Jepang waktu itu hanya sebatas dinginnya musim gugur. Yang membuat daun-daun berwarna kemerahan dan merontokkan dirinya tanpa diperintah.

Waktu itu gue berpikir : “Hmmm, belum rejekinya gue untuk melihat salju”

Impian itu gue terus pelihara hingga menjelang keberangkatan gue ke Aberdeen. Bulan Januari harusnya sudah cukup dingin untuk merasakan salju.

Tapi lagi dan lagi, gue harus menelan kekecewaan. Ketika gue menginjakkan kaki di Aberdeen, cuaca memang sudah cukup dingin. Bahkan terlalu dingin untuk manusia tropis seperti gue.

Suhu di Aberdeen berkisar dari 1-3 derajat celcius setiap harinya. Terkadang cuaca itu disertai hujan dengan angin dingin yang datang dari Laut Utara.

Keadaan ini otomatis menghilangkan semua pikiran gue tentang salju. Ternyata musim dingin belum berarti akan turun salju. Hanya udara yang mendadak menjadi lebih dingin dari biasanya.

Impian salju itu perlahan gue lupakan, hingga beberapa hari yang lalu.

***

Sebuah hari Sabtu yang cukup dingin, membuat gue merasa malas beranjak dari kasur. Awan yang menggelayut mendung bisa gue lihat jelas dari jendela kamar. Malas sekali rasanya untuk berpisah dari hangatnya udara kamar yang disediakan heater dari pojok kamar gue.

Padatnya jadwal kuliah minggu lalu, membuat weekend kali ini terasa seperti liburan yang menyenangkan.

Tapi bagaimana pun, gue harus melawan rasa malas dan berusaha untuk keluar hari ini. Stok bahan makanan di kulkas sudah benar-benar habis. Tidak ada lagi yang bisa dimakan. Gue harus belanja hari ini atau besok gue akan kelaparan.

Setelah selesai mandi, gue mengambil jaket tebal dari dalam lemari. Ketika berjalan ke luar, gue meraih syal dan sarung tangan yang tergeletak di atas meja. Sambil melilitkan syal itu ke leher, gue berusaha menempelkan kartu ke knop pintu kamar untuk menguncinya.

Gue berusaha mendorong pintu itu untuk memastikan bahwa ia benar-benar sudah terkunci dengan sempurna.

Begitu membuka pintu, angin dingin langsung menyergap muka. Siang ini, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Gue menarik resleting jaket lebih ke atas untuk menghalau udara dingin yang akan menyerang ke dada.

Musim dingin ini benar-benar sedang mencari puncaknya.

Lokasi supermarket yang sedikit jauh dari tempat gue tinggal, memaksa gue untuk menggunakan bus untuk pergi ke sana.

Setibanya di halte yang dituju, gue turun dan memilih untuk berjalan kaki mencari lokasi Morrison’s, supermarket yang gue maksud.

Jalan ini sedikit sepi. Mungkin udara dingin hari ini membuat orang malas untuk beranjak keluar dari rumah. Hanya ada beberapa orang yang berjalan kaki jauh berada di depan gue.

Gue menarik keluar handphone yang tadi tersimpan di saku celana, berusaha membuka aplikasi Google Maps untuk memastikan gue tidak tersesat.

Gue memang belum hafal kota ini sepenuhnya. Warna bangunan yang hampir sama membuat gue susah sekali mengenal lokasi kota ini.

Gue menarik sarung tangan dengan gigi agar bisa mengoperasikan layar sentuh dengan ujung jari. Dan gue ingin melakukannya secepat mungkin, mengingat udara ini langsung membuat jari gue mati rasa.

Baru saja gue membuka aplikasi Google Maps, ketika sebuah serpihan putih jatuh mendarat di tangan gue.

Salju

 

 

Salju?

Gue langsung mengadahkan kepala ke atas, melihat langit yang mendung tadi. Serpihan putih berikutnya jatuh menimpa kepala gue. Disusul jutaaan serpihan putih lainnya.

Seketika itu, gue tersenyum. Gue kembali teringat dengan sebuah mimpi sederhana. Mimpi yang terus gue pelihara dari kecil. Mimpi seorang anak kecil yang dulu hanya bisa duduk melihat salju dari depan televisi. Dan kini tanpa sadar, mimpi itu sudah tiba.

Gue hanya berdiri di sana, merentangkan tangan sambil membiarkan serpihan-serpihan itu jatuh ke badan gue. Tidak melakukan apa-apa. Gue cuma tersenyum sambil terus mengadahkan kepala.

Sejumput ucapan terima kasih keluar dari dalam hati.

Terima kasih Tuhan telah memeluk mimpi-mimpi saya.