Manusia itu makhluk sadomasokis.

Sadomasokis adalah perilaku menyimpang, dimana si pelakunya suka untuk disakiti untuk mendapatkan kenikmatan.

Suka menyakiti sendiri dan menikmati sensasi dari rasa sakit yang datang. Gak percaya? Awalnya gue juga.

“Patah hati itu enak tau” kata teman gue waktu itu.

“Kenapa? Apa enaknya sih dari patah hati?” tanya gue heran.

“Yaaa..coba aja lo rasain sendiri. Sakit sih, tapi coba lo renungi, sebenarnya ada enaknya juga. Melamun sambil merokok gitu. ” kata dia singkat.

Gue gak ngerokok dan gak tau apa enaknya patah hati sambil ngerokok. Gue berpikir apa harus gue ganti rokok ama nasi padang? Jadi setiap gue galau, gue ngunyah rendang.

Tapi gak enak galau sambil belepotan.

Gue kembali memikirkan kata-katanya. Ragu dengan teori gila teman gue satu itu. Tapi makin kesini, makin banyak contoh kasus yang gue lihat dan membuat gue mulai percaya. Ternyata hal itu memang benar.

Kita adalah makhluk sadomasokis!

Kita rela membayar mahal untuk naik roller coaster. Kita rela mengeluarkan uang untuk nonton film horror. Menikmati badai endorphin yang datang ketika perut di kocok-kocok kereta yang menukik tajam dalam kecepatan tinggi. Menikmati sensasi kaget dan takut ketika makhluk menyeramkan muncul tiba-tiba di layar bioskop.

Kita menikmati lagu-lagu sedih dan mellow ketika sedang patah hati. Berpikir bahwa setiap potongan bait dalam lagu itu menyuarakan sakit yang dialami. Berpikir kalo suara Sammy Simorangkir menjadi soundtrack pengiring hidup (ini gue doang ya?).

Konsep yang sama yang menjadikan semua orang berubah menjadi stalker professional. Berani untuk stalking seseorang yang sebenarnya ingin dilupakan. Padahal tau apa yang bakal ditemukan itu cuma hal-hal yang bikin sakit hati.

Kita menemukan kenimatan dalam rasa sakit.

Karena pada dasarnya, kita adalah manusia sadomasokis.

Sadomasokis perasaan.