Beberapa hari di belakang, film The Raid happening banget di twitter. Semua orang ngomongin film ini. Membuat gue merasa gue harus membuat reviewnya.

Sabtu kemarin,  gue nonton di Blitz Megaplex di Grand Indonesia. Begitu nyampe disana, ternyata The Raid memang menjadi tujuan utama orang menonton bioskop hari itu. Tiket hampir sold out, antrian tiket panjang mengular, mungkin semakin diperparah efek malem minggu.

Tiket Auditorium 1 di Blitz (yang sepertinya adalah auditorium terbesar di Blitz Grand Indonesia), sudah ditangan, saatnya menonton film yang  memenangkan beberapa award di Toronto International Film Festival.

Gue ada penikmat film action, dan kehebohan orang-orang di twitter, membuat gue berekspektasi tinggi terhadap film ini.

Dan setelah selesai menonton, ada beberapa hal yang gue sadari, dan bisa gue sharing disini.

Masalah utama di film adalah skenario.

Ada beberapa line yang agak sedikit menganggu yang gue sadari. Kalimat yang sangat aneh didengar ditelinga orang awam. Jadi kesannya aktingnya ga natural. Contoh yang gue ingat adalah adegan Pierre Bruno sewaktu menyadari bahwa mereka sudah diisolasi dari luar.

Dialog : “tidak ada bantuan, kita sendiri!”

Menurut gue bisa diubah menjadi : “Tidak akan ada bantuan yang akan datang. Kita sendirian.”

Ada beberapa adegan gagak hitam di film ini. ‘Gagak hitam’ sendiri adalah istilah menjelaskan sesuatu yang tidak perlu. Karena burung gagak sudah pasti hitam.

Contoh adegan waktu tim SWAT akan menyerbu : “Ayo, kita naik ke atas sekarang!”

Menurut lo?! Kita udah disarang mafia, masa mau naiknya pas lebaran?

Di film ini lah gue juga menyadari bahwa untuk film Indonesia, jika ingin memaki, gunakan sajakata-kata  makian dalam bahasa Indonesia seperti “Anjing, Bangsat, Kampret” yang digunakan Ray Sahetapi. Tampak lebih natural daripada kata “Shit” seperti yang ada di beberapa adegan.

Selebihnya luar biasa.

Sinematografi nya hebat sekali, hal yang jarang kita liat di film nasional. Sudut-sudut pengambilan gambarnya semakin memperhebat adegan bertarung yang brutal.

Keahlian Iko Uwais dalam bertarung membuat gue ingin belajar bela diri. Yang bikin gue semakin terpukau adalah, fakta bahwa Iko Uwais juga termasuk salah satu fighting choreographer dalam film ini.

Seumur-umur gue nonton di bioskop, belum pernah kejadian orang tepuk tangan didalam bioskop. Tapi tidak kemarin, semua orang bertepuk tangan dalam final fighting scene di film itu. Bener-bener luar biasa.

Adegan bertarung dalam film ini sangat cepat, persis seperti adegan bertarung di film-film Jackie Chan minus kelucuannya. Kalo film-film Jackie Chan itu berantemnya bernuansa komedi, tidak dengan film ini. The Raid itu brutal. Adegan favorit gue itu adalah waktu Iko Uwais, berantem dengan pentungan polisi ditangan kanan dan belati di tangan kiri. Gokil!

Acting terbaik dalam film ini jatuh kepada Ray Sahetapi yang bisa memerankan sosok Tama, gembong mafia yang sadis. Line-line yang keluar dari Tama sangat natural. Santai dan dingin.

Untuk adegan tarung, gue harus berikan 4 jempol kepada Iko Uwais dan Yayan Ruhian (pemeran Mad Dog, mirip banget ama Ki Joko Bodo), dan Joe Taslim (pemeran sersan Jaka). Mereka benar-benar membuat barometer yang tinggi dalam sebuah film action.

Adegan tarung yang benar-benar cepat, brutal dan sangat khas pencak silat yang banyak menggunakan siku dan lutut, membuat adrenalin terpacu.

Yang membuat gue heran, kemana orang-orang seperti Iko Uwais, Yayan Ruhian dan Joe Taslim ini sebelumnya dalam industri film Indonesia? Tak pernah muncul sebelumnya dan kini mencuri perhatian dalam sebuah film laga nasional. Mereka adalah aktor-aktor laga berbakat yang ngga kalah dengan aktor luar negeri.

Ada adegan bertarung selama 6 menit penuh yang diambil dalam 2 hari berturut-turut membuat semua penonton menahan napas. Music scoring dari Mike Shinoda (Linkinpark) membuat suasana tegang film ini menjadi-jadi.

Sebuah film yang wajib ditonton penikmat film Indonesia, apalagi seorang pencinta film laga. Pastikan tidak membawa anak kecil untuk menonton film ini, karena ada banyak sekali adegan berdarah dan brutal yang tidak cocok untuk usia mereka.

Nilai dari gue, untuk kaliber film Indonesia, The Raid dapet 8,7 dari nilai 10.

Set asides the plot and corny lines, just enjoy the fight!

 

Berikut beberapa review yang berhasil gue kumpulkan dari beberapa sumber di internet.

“This is very fast kicks and punches to the entire body; elbows to temples, kicks to knees, chops to throats, throws, catches, rolls, snaps — breathe! You have simply never seen anything this awesome. “ – Twichfilm.com

“This is the best action film I’ve seen in years.” – Slashfilm

“This movie is awhole mess of bone-crunching, face-pummeling, throat-slicing and fist-pounding awesomeness. The midnite screening had people cheering, wincing and shaking their heads in disbelief.” – Hollywoodreporter.com