Ada satu jenis film yang selalu gue suka dari film-film Hollywood.

Film yang gak mengangkat drama atau romansa antara pria dan wanita, tapi lebih ke hubungan cinta orang tua dan anak. Film-film seperti Real Steel nya Hugh Jackman, Pursuit of Happyness nya Will Smith atau A Perfect World nya Kevin Costner.

Jenis film seperti ini menggambarkan cinta ayah kepada anaknya dengan cara yang unik dan gak cheesy. Keren aja gitu.

Film jenis ini biasanya sukses membuat gue berkontemplasi dan berpikir mau jadi sosok ayah seperti apa gue nantinya. Hubungan seperti apa yang ingin gue bangun dengan anak-anak gue nantinya. (Ngomongin anak? Emang calon Ibunya udah ketemu Ta?!)

I had an awkward relationship with my father back then, but now I’m trying to fix it.

Tulisan-tulisan gue tentang sosok seorang ayah pernah gue tulis di Ikan Pari Panggang dan Ayah. Itulah bentuk kecemasan gue dalam hal ini

Hubungan jenis ini sepertinya masih jarang diangkat di Indonesia, khususnya dalam bentuk novel. Dan hal ini sepertinya ditangkap oleh Adhitya Mulya. Dalam novel terbarunya Sabtu Bersama Ayah, Adhit menuliskan kegelisahannya sebagai seorang ayah.

Sabtu Bersama Bapak

 

Novelnya bercerita tentang Satya dan Cakra, yang kehilangan ayah mereka waktu masih kecil. Tumbuh tanpa sosok seorang ayah, membuat mereka menjadi dua anak dengan kepribadian yang berbeda.

Satya yang cenderung playboy dan temperamen, dan Cakra yang cenderung jenaka dan gugup menghadapi wanita.

Tapi ternyata, ayah mereka meninggalkan sesuatu untuk mereka sebelum meninggal. Dan peninggalan ayah mereka inilah yang menjadi pegangan mereka selanjutnya dan menjadi inti cerita buku ini.

Oke, plotnya segitu aja. Takutnya gue malah jadi spoiler.

Sisi positifnya dari novel ini adalah :

1. Ini adalah novel yang selesai gue baca dalam beberapa jam.

Kenapa ini masuk sebagai hal yang positif? Karena ini berarti novelnya tidak membosankan.

Akhir-akhir ini gue banyak sekali membeli novel yang cuma berakhir bersama tumpukan novel lainnya di pojok kamar. Hanya beberapa halaman lalu mata gue terasa lelah untuk membacanya.

Novel-novel yang gue beli karena terjebak dalam promosi berlebihan di linimasa twitter. Banyak dari novel tersebut sangat membosankan untuk dibaca. Alur yang tidak logis dan jalan cerita yang cenderung klise. Tapi tidak dengan novel ini.

Hanya butuh beberapa jam untuk gue menyelesaikannya hingga halaman terakhir. Dan perasaan “Yah, kok udah abis?” yang muncul ketika selesai membacanya kembali gue dapatkan. Perasaan yang muncul setiap kali kita selesai membaca novel yang bagus.

Bagian favorit gue adalah Epilog di halaman-halaman terakhir. Bagus sekali!

 

Epilog, yang menjadi favorit gue.

 

2. Temanya unik

Inget gak ketika Jomblo keluar? Waktu itu novel bertema cinta komedi masih sedikit sekali bertebaran di toko buku. Bandingkan dengan sekarang dimana novel asmara udah kayak foto selfie nya Raline Shah di Instagram. Banyak banget!

Dulu, Adhitya Mulya melihat celah itu dan membuat novel komedi atas fenomena tersebut. Dan terbukti meledak!

Inget gak ketika novel traveling belum sebanyak sekarang, Adhitya Mulya dan teman-teman menangkap peluang itu dengan menulis Traveler’s Tale.

Dan sekarang, belum banyak novel yang mengangkat hubungan orang tua dan anak. Dan bisa dipastikan, Sabtu Bersama Bapak termasuk novel dalam barisan yang pertama. Dengan demikian, novel ini akan berbeda dengan banyak novel di pasaran.

3. Heart warming.

Banyak sekali bagian dalam novel ini yang menghangatkan hati. Tulisan-tulisan yang membuat lo berpikir dan menyadari ada hal-hal dalam hidup ini yang masih bisa lo perbaiki. Tentang hubungan antar manusia dan hubungan manusia ke Tuhan.

Terdengar berat? Tenang, cara penulisannya gak seberat itu kok.

4. Penuh pesan moral

Di novel ini, Adhit mengeluarkan sisi kebapakannya. Mengeluarkan nasehat-nasehat sederhana yang bisa kita ambil dari dalam novel ini. Membacanya, seperti mendengarkan seorang bapak yang sedang memberikan nasehat kepada anak-anaknya.

Mulai dari nasehat mengatur keuangan, bersikap jantan, berbuat baik hingga ke masalah asmara seperti melakukan pendekatan terhadap wanita.

Dan untuk masalah terakhir, menjadi favorit gue. Gue selalu suka gimana cara Adhitya Mulya memberikan tips-tips menyangkut masalah hubungan pria dan wanita. Tips-tips yang banyak kita temukan di Jomblo atau Gege Mengejar Cinta.

Tips-tips aneh tapi masuk akal. Sehingga membuat lo berpikir “Oke, gue setuju ama dia”.

5. (Masih) lucu.

Meskipun novel ini tidak selucu Jomblo atau Gege yang membuat lo terbahak-bahak, ada beberapa bagian yang cukup membuat lo tersenyum simpul atau bahkan nyengir lebar.

Punchline-punchline khas Adhitya Mulya masih ada di novel ini. Catatan-catatan kaki yang menggelitik dan gaya bercerita yang ringan membuat gue betah untuk terus membacanya. Membaca karakter Cakra akan membuat lo teringat dengan karakter Agus di Jomblo, Gege di GMC atau Ucup di Traveler’s Tale.

Intinya, novel ini kayak sawi masuk kulkas. Segar!

6. Dekat dengan pembaca.

Kunci sebuah novel yang bagus (dan laris) adalah bagaimana pembacanya bisa relate ke dalam cerita yang ditulis penulisnya. Cerita yang bisa membuat para pembacanya bergumam : “Ih ini ceritanya gue banget!”.

Nah tulisan ini bisa dibilang seperti itu. Semua orang pernah menjadi seorang anak, dan mungkin nanti akan menjadi seorang ayah. Atau at lease, menjadi orang tua. Cerita ini terasa amat dekat karena gue bisa membayangkan menjadi seorang Satya atau Cakra.

Dan gue juga yakin, ada banyak orang yang bisa relate ke cerita ini. Apalagi yang sudah tidak lagi memiliki sosok seorang ayah.

 

Oke, akan sangat tidak adil bagi pembaca blog ini jika gue hanya menuliskan hal-hal positif. Meskipun gue adalah penggemar karya-karya Adhitya Mulya dari jaman novel Jomblo hingga sekarang, sepertinya gue harus menuliskan hal-hal yang kurang berkenan buat gue biar seimbang.

Sisi negatifnya adalah :

1. Nama yang tertukar.

Ada beberapa bagian dimana gue bingung dengan nama Satya dan Cakra. Sosok dua orang ini membuat gue sempat tertukar beberapa kali. Nama yang mirip semakin memperparah hal ini. Dan ada satu bagian dimana nama Cakra tertukar dengan nama Satya.

2. Timeline yang berantakan.

Alur dalam cerita ini maju mundur, dimana ada bagian kita akan dibawa kembali ke masa lalu. Dan ada satu kesalahan fatal dimana timeline nya tidak sesuai. Dimana Bapak memberi nasehat tentang Steve Jobs yang menciptakan iPod, padahal itu masih tahun 90an. Dan iPod baru diciptakan tahun 2000an.

Menurut gue, satu hal ini agak mengganggu logisnya jalan cerita. Dan ini agak fatal.

Ya, tapi ini karena gue yang terlalu detil aja kali ya.

3. Jomblo dan Gege Mengejar Cinta.

Kelemahan terbesar dalam novel ini adalah : ekspektasi.

Keberhasilan Adhitya Mulya membuat gue terbahak-bahak dengan Jomblo dan GMC membuat ekspektasi gue meningkat dengan novel ini.

Apakah novel ini akan selucu itu? Ataukah at least, bisa mengimbangi mereka?

Tapi gue harus menelan ludah dan menyadari bahwa sebenarnya novel ini adalah jenis novel yang berbeda. Bukan berarti tidak bagus, tapi ini adalah novel yang sudah benar-benar keluar dari kulit Jomblo atau GMC. Novel ini adalah novel yang jujur.

Karena di umurnya yang sekarang, Adhitya Mulya mungkin tidak akan cocok lagi menulis tentang mahasiswa yang jomblo atau karyawan muda seperti dalam Jomblo atau GMC. Dan daripada memaksakan diri dan akhirnya tulisannya terasa ‘palsu’, menulis novel yang jujur seperti ini terasa lebih natural.

Kegelisahan-kegelisahannya sebagai seorang bapak dituangkan secara pas.

Dan dengan novel ini, Adhitya Mulya telah tumbuh. Dari mahasiswa gila di Jomblo, karyawan muda di GMC dan sosok seorang ayah di Sabtu Bersama Bapak.

 

Sebagai penutup, novel ini memberikan alternatif yang lain bagi kalian yang ingin membeli novel Indonesia. Novel penuh dan bukan kumpulan cerita. Novel yang ditulis dengan sungguh-sungguh dan ditulis secara matang dan jujur.

Konsep yang terencana, segar dan penuh dengan pesan moral untuk kalian yang membacanya. Novel yang dekat sekali dengan kita.

Dengan membaca novel ini, akan mengobati kerinduan kalian terhadap tulisan-tulisan Adhitya Mulya.

Dan dengan Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya tumbuh bersama pembacanya.