Oke, meskipun udah hampir tengah malam, gue tampaknya harus memaksakan diri untuk menulis postingan yang satu ini sebelum semangat menulis gue menghilang lagi esok hari.

Kali ini gue ingin mereview sebuah film Indonesia yang lagi happening banget di Twitter. Apalagi kalau bukan “Kembalinya Ria Enes dan Susan”.

Salah ding, yang benar adalah ”The Raid 2 : Berandal”.

The Raid 2 - Berandal

The Raid 2 – Berandal

 

Film pertamanya pernah gue review di sini. Buat yang belum baca, baca dulu dong. Mayan nambah-nambahin traffic ke blog gue.

Sebenarnya gue jarang banget ngereview film kayak si Teppy, tapi karena ini adalah salah satu film yang paling berkesan buat gue dan sebagai salah satu bentuk dukungan gue terhadap film Indonesia, gue ingin mereview film ini khusus di Hari Film Nasional kepada kalian.

The Raid 2 ini berkisah tentang si Iko Uwais, seorang polisi yang menyamar ke organisasi mafia. Iya, alur ceritanya sesederhana itu. Sederhana tapi kuat. Pertama kali ketika gue membaca dan tau plotnya, gue langsung berpikir.

“Hmmm, menyamar? Ini Iko Uwais apa Wiranto?”

Jangan sampe dalam film pas Iko Uwais berantem, trus ada jeda dimana dia ngomong “Bersih! Peduli! Tegas!”

Plot sejenis pernah kita temukan dalam film Jackie Chan berjudul Police Story 3, di mana dia menyamar bersama Michele Yeoh menyusup ke organisasi kriminal. Jadi gak jelas sebenarnya siapa mencontek siapa. Iko nyontek Jackie, atau Wiranto nyontek Jackie, atau Iko nyontek Hari Tanoe.

Lho? Kok jadi Hari Tanoe? Ibu Jokowi dan Ibu Ahok kemana?

Akh, shit lah. Gue mau nulis apaan sih sebenarnya ini?

Mari kita biarkan Bapak Wiranto, Bapak Hari Tanoe, Ibu Jokowi dan Ibu Ahok istirahat dan kampanye dengan damai. Kita kembali ke The Raid 2.

Gue gak akan bercerita banyak tentang ceritanya disini takut nantinya malah spoiler. Fokus cerita kali ini akan lebih ke pendapat gue pribadi tentang film ini.

In simple words : This movie is insanely beautiful.

Jika dibandingkan dengan film pertamanya, sekuel ini ibarat langit dan sumur bor. Kalau film pertama sangat minim jalan cerita, dan mayoritas adegannya adalah bikin isi perut manusia terburai, film yang kedua ini jauh lebih baik dari segi cerita dan konflik (namun tetap dengan adegan brutal dan sadis ala Gareth Evans).

Kompleksitas jalan ceritanya yang lebih komplit, membuat kita bisa berpikir :

“Iya, kalau gue ada di posisi itu, mungkin gue juga bakal kayak gitu.”

Berbeda jauh dengan film pertama, film kedua ini dilengkapi masalah dan motif yang masuk akal. Ada beberapa pihak yang terlibat dengan kepentingan yang berbeda-beda. Ambisi, uang, kekuasaan, dan cinta. Semuanya terjaring dalam satu benang merah yang terikat sepanjang film.

Gambar-gambar juga diambil secara indah dan bikin gue mikir : “Ini beneran di Indonesia nih syutingnya?”

Pokoknya, dari alur cerita jauh lebih bagus dari yang pertama.

Sekarang masuk ke bagian favorit gue : Adegan laga.

Lo udah tau kan gimana brutalnya The Raid yang pertama? Nah, kalikan kebrutalan itu dua puluh kali maka dapatlah The Raid 2.

Mulai dari sendi yang patah, kepala pecah, tulang remuk, dada yang ditancap belati berulang-ulang, otot yang sobek. Pokoknya komplit!

Ini harusnya menjadi standar film laga. Sadis dan brutal. Karena ada bahasa universal dalam semua film action yaitu kekerasan. Karena gak mungkin kan film action isinya orang duduk-duduk di selasar sambil ngopi ngomongin arti hidup.

Violence is the language of action movies. And The Raid is a native speaker.

Ada tiga musuh utama di film ini.

The Assassin : Ini akan gue jelasin terpisah di bawah.

The Baseball Bat Man : Ini karakter yang ngehek banget. Anaknya tengil dan senjatanya tongkat baseball besi. What do you expect? Broken arms and broken heads are common things in his fighting scene. No big deal.

The Hammer Girl : Karakter ini diperankan oleh Julie Estelle. Dari namanya udah tau kan senjatanya apa? Bukan talenan, tapi martil. Jangan kaget nanti ketika melihat si cantik Julie Estelle mencungkil beberapa tulang sambil berantem. Selo aja gitu. seolah mencungkil mata adalah hal yang kasual.

“Julie, nanti kamu saya bikin tetap terlihat cantik, ngobrol aja kayak biasa, trus kamu cungkil matanya ya? Gak usah banyak-banyak. Dua aja.”

Gareth Evans, sang sutradara, sepertinya tidak kehabisan akal untuk mencari alat-alat di luar batas kewajaran untuk dijadikan senjata. Pisau, pistol, shot gun, senapan mesin, tongkat baseball, pacul, semua bisa dijadikan senjata.

Gue sangat menunggu film The Raid 3 (jika ada) dimana Gareth Evans sudah kehabisan akal dan menjadikan cangkul sebagai senjata utama tokohnya.

“Wah, kepalamu kurang subur. Sini saya cangkul dulu.”

Atau Iron Lady alias Gadis Setrika.

“Wah, mukamu kusut. Sini disetrika dulu biar agar rapi”

Tapi selain kepada Iko Uwais yang akting laganya udah melanggar HAM, kredit lebih gue berikan kepada Arifin Putra. Akting Arifin di film ini sakit! Insanely beautiful!

Arifin yang biasanya mukanya sendu, yang pernah gue liat main sinetron ama Marshanda berubah total. Arifin Putra bermuka manis idola emak-emak yang dulu nongol di layar kaca dan bikin Marshanda patah hati hilang sudah. Kini Arifin Putra berubah menjadi psycho, bengis dan gak manusiawi.

Keren gila!

Dan keberadaan aktor-aktor senior di film ini membuat gue sadar kalau jam terbang emang ngaruh terhadap kualitas akting seseorang. Sebut saja Tio Pakusadewo, Roy Marten, Pong Harjatmo, Cok Simbara, yang bermain dalam film ini. Mereka seolah gak perlu susah payah untuk masuk ke dalam karakter masing-masing.

Matang!

Adegan laga pamungkas antara Iko dan The Assasin juga luar biasa kerennya. Iko dan The Assasin bertarung jarak dekat menggunakan karambit, semacam pisau kecil melengkung, senjata yang sebenarnya gak lazim kita lihat dalam dunia normal.

Iya juga sih, siapa juga yang mau bawa karambit ke kantor? Lebih enak bawa setrika, iya gak? Ibu Jokowi Ibu Ahok kemana?

Katanya, Gareth Evans membutuhkan enam minggu untuk mengambil gambar pertarungan ini saja.

Kebayang gak adegan kayak gimana yang bikin bule gak enak makan gak nyenyak tidur selama enam minggu?

Ya, kualitas koreografi hasil pemikiran selama enam minggu itu yang akan lo dapetin di final fighting scene film ini. Di bagian ini, gerakan-gerakan pencak silatnya bakalan keliatan banget dan bikin lo lagi-lagi mikir.

“Iya, ini bukan karate, bukan kungfu, apalagi jujitsu (jurus mijit susu). Ini adalah pencak silat! Bela diri asli Indonesia!”

Adegan-adegan yang memompa adrenaline tinggi sepanjang film akan memuncak dan pecah di adegan ini. Kebrutalan yang luar biasa cantik.

Akhir kata, setelah membaca ini, gue harap kalian akan menggerakkan pantat kalian dan pergi ke bioskop terdekat. Beli tiket dan tontonlah film ini.

Karena menurut gue, ini adalah film laga Indonesia (kalau bukan dunia) terbaik sepanjang masa.

Tunggu apa lagi? Nonton yuk?

 

PS : Kalau lo masih punya otak, jangan bawa anak kecil ketika menonton film ini. Terlalu brutal.