Pernah gak kalian bertanya-tanya kenapa nama blog ini romeogadungan?

Kenapa gak kayak lazimnya nama blog lain yang sesuai nama penulisnya, atau nama binatang kayak armeyn.com, saputraroy.com dan ontakeriput.com.

Awalnya gue ingin bikin blog sesuai dengan karakter gue kayak tirtatampan.com atau tirtaidolaku.com. Cuma gue gak pengen pembaca gue muntaber karena mereka gak mampu untuk menyelesaikan mengetik alamat blog gue setiap kali mereka ingin datang kesini.

Gue juga awalnya ingin membuat blog bertema binatang-binatangan kayak blog Radit kambingjantan.com yang heboh beberapa tahun yang lalu. Hal ini gue batalkan karena gue rasa dugong.com bukan nama blog yang bagus.

Username romeogadungan itu sendiri bermula di tahun 2006. Ya, hampir delapan tahun yang lalu.

Gue masih duduk di tingkat dua di kampus. Sudah hampir dua tahun kuliah di Bandung, kota yang penuh dengan wanita cantik, gak membuat kehidupan asmara gue menjadi lebih baik. Gue terkenal sebagai jomblo akut di kampus.

Celaan-celaan bertema jomblo juga rutin menghampiri gue waktu itu. Contohnya ketika gue dikatain sebagai anggota kehormatan HIMACAS = Himpunan Mahasiswa Cacat Asmara. Kadang-kadang, temen-temen gue emang minta ditampol.

Suatu hari, di sebuah kuliah pagi mata kuliah akuntansi keuangan, gue melihat sebuah kalkulator teman gue tergeletak di atas meja dengan sebuah tulisan di baliknya. “Akuntan Gadungan” tulisannya. Dua buah kata penunjuk betapa sulitnya memasukkan konsep akuntansi ke dalam otak para pria di angkatan gue waktu itu.

Dan saat itu lah gue menemukan ide sebuah kata yang paling pas untuk menggambarkan kondisi gue.

Romeogadungan. Karena sulitnya sebuah cinta masuk ke dalam hati gue. (Sadaaaapp)

Sejak saat itu, username romeogadungan selalu gue pakai di semua forum di internet sampai akhirnya bisa menjadi alamat blog hingga saat ini.

Di tahun yang sama, gue menemukan sebuah novel yang akan menjadi salah satu novel favorit gue sepanjang masa. Novel yang waktu itu menjadi pengharapan gue akan kehidupan asmara yang lebih baik di masa depan. Sebuah novel yang di dalamnya ada beberapa adegan akan gue contek jika gue mempunyai pacar suatu saat nanti.

Gege Mengejar Cinta.

Novel yang gue beli di tahun 2006 itu entah dimana keberadaannya sekarang. Sudah berpindah tangan berkali-kali akibat sifat pinjam meminjam antar teman yang ujungnya gak tau kemana.

Dan beberapa waktu yang lalu, gue menerima sebuah paket dari penulisnya Adhitya Mulya yang berisi… novel Gege Mengejar Cinta dengan cover yang sudah berganti dan lengkap dengan tanda tangannya.

GMC signature edition

 

Yup, novel ini sudah dicetak ulang!

Sebelumnya gue selalu bilang gue lebih bisa relate ke cerita di novel Jomblo dari cerita Gege, tapi pada saat membaca ulang novel ini, gue kini berani untuk bilang bahwa gue sekarang lebih relate ke Gege. Mungkin karena efek gue yang sudah memasuki dunia kerja.

Dan setelah delapan tahun dari sejak pertama kali membacanya, gue baru ingat bahwa karakter utama wanita di novel ini bernama Caca, sebuah nama yang sama dengan tokoh dalam cerita gue di Traveloveing 2. Nama yang pernah menjadi sumber inspirasi beberapa cerita di blog ini.

Lembar demi lembar gue baca ulang novel ini semalam, dan seolah belum pernah membacanya sama sekali, semburat tawa kembali keluar dari mulut gue berulang kali.

Hingga mata gue tertumbuk pada halaman ke sekian, dimana Gege mengajak Caca untuk kencan untuk pertama kalinya. Di akhir kencan, Gege menyerahkan sesuatu ke Caca. Sesuatu yang manis. Sesuatu yang kuat. Sesuatu yang berasal dari masa lalu.

Dan sebuah helaan nafas keluar dari mulut gue usai membaca bagian itu.

I… did that too.

Di akhir kencan pertama gue di tahun 2008, gue juga menyiapkan sesuatu. Sebuah CD berisi deretan lagu-lagi kesukaan gue. Kumpulan lagu yang gue siapkan sebelumnya di sebuah komputer pinjaman di kosan teman gue.

Tanpa sadar, gue ternyata pernah menjadi Gege. Gege yang berusaha bersikap manis ke Caca.

Sebuah tindakan Gege di dalam novel itu tanpa sadar pernah gue tiru dalam dunia nyata. Adegan itu seolah masuk ke alam bawah sadar gue selama bertahun-tahun, mengendap disana menunggu untuk dilaksanakan. Tindakan Gege menjadi barometer buat gue bagaimana sebuah kencan pertama harusnya berjalan. Seorang romeogadungan yang minim pengalaman menjadikan buku ini sebagai kitab suci dalam urusan asmara.

Ya, sejauh itulah efek novel ini ke gue.

Ada nostalgia yang aneh yang gue rasakan ketika membaca ulang novel ini setelah delapan tahun berselang. Sebuah flashback yang manis mampu membawa gue kembali ke masa lalu. Tapi pada saat yang sama membawa rasa optimisme untuk masa depan.

Novel ini menjadi salah satu novel komedi Indonesia legendaris yang gue tau. Seolah menjadi milestones dunia penerbitan di Indonesia yang waktu itu belum dibanjiri oleh novel-novel penulis muda ataupun novel-novel bergenre komedi.

Alur yang maju mundur, komedi-komedi cerdas yang disisipkan di beberapa bagian, hingga adegan-adegan manis bumbu percintaan bertabur dalam sebuah novel berjumlah 268 halaman ini.

Teori-teori yang nyeleneh juga berserakan dalam novel ini, tapi pada saat membacanya bisa membuat gue mengangguk setuju sambil berujar “Bener juga ya?”

Jangan lupakan endingnya yang seperti ledakan kembang api di sebuah pasar malam. Meledak-ledak dan rame banget!

Buat kalian yang belum pernah membacanya, gue menyarankan untuk segera membeli novel ini. Dengan harapan pada saat setelah selesai membacanya, kalian bisa menjawab sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang memiliki jawaban yang berbeda untuk setiap orang.

Sebuah pertanyaan sederhana yang menjadi premis utama cerita dalam novel ini.

“Mana yang akan kalian pilih? Orang yang kalian cintai? Atau orang yang mencintai kalian?”

Gue sendiri sudah tau jawabannya. Happy reading!