Dulu waktu gue menyusun skripsi, gue sempat mengalami masa-masa terburuk dalam hidup seorang mahasiswa. Masa-masa dimana gue pusing tujuh keliling gara-gara skripsi alias #galauskripsi.

Setelah memasuki bulan ke enam, metode skripsi gue ternyata salah dan baru diketahui ketika gue sudah hampir memasuki bab empat. Gue harus merombak kembali skripsi yang sudah hampir selesai itu.

Masa-masa itu, bisa dibilang adalah salah satu masa terkelam dalam hidup gue. Gue dituntut untuk bisa segera lulus dari kampus karena harus sudah mulai bekerja di EY 2 minggu kemudian. Pola hidup gue yang awalnya santai kayak di pantai, asik kayak di Tasik, selow kayak di Moscow, mendadak berubah.

Makan gak enak, tidur gak nyenyak, kadang melamun mikirin skripsi selama berjam-jam.

Mungkin ini terdengar lucu sekarang, tapi lagu yang paling banyak gue dengar pada waktu itu adalah “Jangan Menyerah” dari D’Masiv. Serius gue gak boong! Lagu itu gue putar ratusan kali di iTunes ampe gue hapal kapan vokalisnya narik napas.

Kadang, untuk lebih menyesapi maknanya, gue menonton video klipnya dari Youtube. Tidak cukup hanya dengan menontonnya, gue bahkan mendownloadnya ke komputer biar bisa diputar kapan saja.

Videonya yang bercerita tentang seorang penari jalanan itu, gue tonton berulang-ulang sebagai upaya untuk menyuntik semangat. Karena saking seringnya gue putar, mungkin sekarang gue hapal dimana lokasi tahi lalat vokalisnya..

Di akhir masa penyusunan skripsi, yang ternyata bisa gue lalui dengan menyusutnya berat badan, kantung mata yang membesar akibat kurang tidur, cucuran keringat dan air mata, gue menemukan sebuah kutipan yang sangat bagus sekali di salah satu buku yang gue baca.

Sebuah kutipan yang ketika membacanya, hati ini mendadak terasa sangat dingin. Kayak besi panas membara lalu dicelupkan ke dalam air. Cesssssss..

Saking sukanya terhadap kutipan itu, akhirnya gue tulis dan gue lampirkan di halaman pertama skripsi itu. Sebuah skripsi yang menjadi bukti kelulusan gue dari pendidikan sarjana di kampus yang penuh kenangan. Agar menjadi pengingat betapa gue pernah merasakan perasaan jatuh yang begitu dalam, dan bangkit kembali karena tulisan.

Dan gue berharap tulisan di halaman terdepan skripsi itu menjadi sebuah kata sambutan, mewakili gue, bagi siapapun yang membaca skripsi gue nantinya.

Tiga copy skripsi itu sekarang masing-masing berada di perpustakaan kampus, di rumah gue di Banda Aceh dan sisanya gue simpan di Jakarta.

Dan kemarin, ketika gue membongkar-bongkar lemari dan menemukan kembali skripsi bersampul kuning itu, kutipan yang sama kembali gue baca. Mengingatkan gue akan masa-masa kelam penyusunan skripsi yang pernah gue alami.

Masa-masa merasa sendirian dan butuh suntikan semangat.

Dan kini, ketika semua masalah hidup kembali datang, yang kadang terasa lebih berat dari sekedar menyusun skripsi, gue butuh untuk membacanya kembali. Sebagai pengingat bahwa sebenarnya kita ini akan terus menghadapi masalah yang terus menerus datang. Masalah-masalah kehidupan yang mungkin datang, tuntutan ekonomi yang mungkin semakin menjepit, remuk redam dalam urusan cinta, atau apapun bentuknya.

Dan kadang, yang kita butuhkan hanya diingatkan. Baik oleh orang lain, ataupun sebuah tulisan yang sangat sederhana.

 

Ketika ku mohon pada Allah Kekuatan,

Allah memberikan kesulitan agar kuat.

Ketika ku mohon pada Allah sebuah kebijaksanaan,

Allah memberikan masalah untuk ku pecahkan.

Ketika ku mohon pada Allah kesejahteraan,

Allah memberikan akal untuk berfikir.

Ketika ku mohon pada Allah sebuah cinta,

Allah memberikan orang yang bermasalah untuk ku tolong.

Ketika ku mohon pada Allah bantuan,

Allah memberikanku kesempatan.

Allah tidak pernah memberikan apa yang aku pinta

Tetapi…

Aku menerima segala apa yang ku butuhkan

Doaku terjawab sudah.