Ini adalah Ramadhan pertama gue di luar Indonesia.

Dan sejak pertama kali tau kalau Ramadhan kali ini akan jatuh pada saat musim panas, gue sebenarnya sudah mengantisipasi kalau puasa kali ini akan berlangsung lebih panjang buat gue.

Di musim panas, negara-negara Eropa akan mengalami siang yang lebih panjang dari biasanya. Sekitar 14-16 jam setiap harinya.

Awalnya gue menduga kalau puasa di Aberdeen juga akan berkisar di angka itu. Tapi makin mendekati Ramadhan, ternyata malam hari berlangsung makin singkat. Dan ketika gue benar-benar menemukan jadwal Imsakiyah Ramadhan tahun ini untuk Aberdeen dan sekitarnya, gue sedikit kaget.

Imsak dimulai di pukul 2 dini hari dan maghrib baru akan tiba di pukul 10 malam. Jadi kalau ditotal gue berpuasa 20 jam lebih sedikit tiap harinya.

Awalnya gue sedikit pesimis, karena puasanya akan 7-8 jam lebih lama dari puasa di Indonesia. Beberapa teman gue bahkan sudah berpikir untuk tidak berpuasa karena penyakit maag yang mereka miliki.

Gue juga awalnya berpikir demikian. Mulai serius mempertimbangkan membayar fidyah jika tidak kuat berpuasa. Bahkan gue sempat ingin mengikuti fatwa yang menyatakan kalau puasa di negara-negara tertentu (termasuk UK), tidak harus mengikut jadwal terbit dan terbenamnya matahari.

Puasa 20 jam dalam sehari awalnya menimbulkan perdebatan. Karena hal itu ditakutkan akan mengganggu kesehatan bagi orang-orang yang menjalankannya dan di waktu yang sama juga akan sangat susah untuk mengajarkan anak kecil untuk mulai belajar berpuasa. Namun karena hal ini belum disetujui oleh seluruh ulama di UK, gue memantapkan niat, memutuskan untuk mengikuti jadwal puasa lokal.

Namun setelah menjalankannya beberapa hari ini, puasa 20 jam dalam sehari ternyata tidak terlalu berat.

Tapi puasa kali ini benar-benar mengacaukan pola hidup gue.

Jadi karena maghrib baru mulai jam 10 malam, gue biasanya tidak akan tidur lagi sebelum sahur selesai. Jadi dalam rentang waktu 4 jam itu, gue tidak berhenti makan dan minum.

Jadi makanan berbuka, buah, minum jus, minum teh, ngemil, dan makanan sahur akan gue jamak dalam 4 jam. Setelah subuh selesai, gue baru akan tidur dalam kondisi kekenyangan kayak anaconda.

Paginya, sekitar jam 9 gue harus bangun untuk kuliah seharian. Dan kembali ke flat sekitar pukul 3-4 sore. Dan biasanya gue akan tidur hingga jam 8, dan bangun untuk menyiapkan makanan berbuka.

Pokoknya jam hidup gue kacau. Gue kira urusan asmara gue doang yang kacau.

Di Aberdeen (dan UK pada umumnya), nuansa Ramadhan sama sekali tidak terasa. Bulan suci yang jatuh di saat musim panas malah membuat sisi magis dari bulan ini semakin pudar.

Ada banyak sekali festival yang dilakukan selama musim panas di sini. Orang-orang akan pergi liburan dan menikmati keluarnya matahari.

Tarawih pun tidak terasa, waktu malam yang cuma 4 jam benar-benar gue manfaatkan untuk makan demi mengumpulkan energi untuk esok hari. Lokasi masjid yang jauh akan menghabiskan waktu gue jika memutuskan untuk berjamaah di sana.

Alhasil, gue hanya terawih di dalam kamar sendirian.

Kondisi kayak gini bikin gue sedikit kangen rumah.

Dimana makanan berbuka akan dengan mudah ditemukan, enak, dan pola hidup yang bisa sedikit teratur. Suasana syahdu Ramadhan yang masih terasa. Iklan sirup di TV pada saat sore hari. Jajanan-jajanan Ramadhan di pasar tumpah setiap sore menjelang berbuka, hingga komedi-komedi slapstick di saat sahur yang biasanya gue benci.

Gue kangen. Gue kangen dengan hal-hal remeh seperti itu.

Tapi bagaimanapun, puasa kali ini terasa istimewa. Puasa yang pertama kali gue lakukan jauh sekali dari rumah. Puasa yang dilakukan sebagai minoritas. Puasa yang meminta kesabaran dan kekuatan fisik ekstra. Puasa yang mengajarkan suatu hal yang berbeda.

Dan dalam bulan puasa kali ini, gue juga bisa menerbitkan buku gue. Suatu hal yang selama ini sudah gue impikan.

Semoga kali ini gue (dan kalian juga) diberikan kekuatan untuk berpuasa penuh selama bulan Ramadhan.

Tanpa harus meminta hormat dari orang lain karena kita sedang berpuasa. Dan semoga kita semua mendapatkan rahmat dan hikmah dalam bulan suci ini. Membasuh bersih dosa-dosa yang menempel selama setahun ke belakang,

Selamat berpuasa teman-teman!