Hari ini hari pertama Ramadhan, dan gak ada yang gue lakukan selain leha-leha di kamar. Ramadhan pertama tahun ini yang jatuh di hari Minggu memang membuat semuanya terasa lambat.

Menulis pun menjadi sebuah kemalasan tersendiri buat gue kali ini. Ide-ide yang seolah mengering membuat sangat sulit untuk tetap rutin menulis.

Semua ide kreatif seolah gue simpan untuk draft novel yang entah kapan selesainya. Mudah-mudahan target untuk menyelesaikannya di tahun ini tetap tercapai. Doakan saja ya teman-teman. Gue baru aja ganti editor dan semoga proses menulis dan editingnya berjalan lancar tanpa hambatan.

Ramadhan memang moment yang pas untuk home sick.

Awal-awal Ramadhan selalu saja sukses membuat gue kangen rumah dan isinya. Kangen masakan rumah, kangen suasana Ramadhan di kampung halaman, dan kangen untuk menjajah adek-adek gue dengan berkedok “Ayo pijitin abang nanti ditraktir bakso!”

Ya, mereka memang semurah itu.

Meskipun begitu, ada rasa rindu yang muncul untuk melihat mereka menggadaikan harga dirinya dengan semangkuk bakso.

Tahun ini adalah tahun ke sekian gue mengawali puasa tidak di rumah. Tapi selalu saja gue seolah menjadi amatir dalam hal ini. Seolah-olah ini adalah tahun pertama gue jauh dari rumah.

Alhasil, home sick pun merajalela.

Dari pagi, gue cuma menghabiskan waktu dengan tidur dan melahap Sherlock Holmes Collector’s Edition yang baru gue beli minggu lalu.

Bukan apa-apa, rasanya sayang kalau tidak sempat menamatkan buku ini dan membiarkannya tergeletak di pojok kamar bersama beberapa buku lainnya yang belum sempat gue baca. Belum setengah gue baca, novel itu kembali gue letakkan di meja. Membaca novel misteri ternyata cukup menguras energi dan ujung-ujungnya membuat gue lapar.

Gue berusaha mengambil handphone yang dari tadi diam tanpa suara. Layar hitamnya polos tanpa notifikasi apapun. Gue meraihnya dan kembali membaca chat history yang ada.

Pikiran gue cuma bisa mondar-mandir di satu nama. Sepatu Kiri.

Dia yang beberapa minggu terakhir seolah mencuri semua kreativitas dan imajinasi gue. Dia yang seolah sempurna dan tidak bercela.

Dia orang yang pertama yang mengucapkan selamat Ramadhan ke gue, dan orang pertamanya yang menanyakan gue akan shalat tarawih dimana?

Dan tidak lupa dia juga orang yang membelikan kurma untuk bekal sahur gue. Ya, entah kenapa kurma selalu identik dengan Ramadhan. Ramadhan selalu datang dengan barisan kotak kurma dan iklan sirup marjan di televisi.

Dan buat gue Ramadhan kali ini terasa sedikit aneh. Orang yang membawa nuansa Ramadhan itu bahkan tidak ikut menjalankannya. Terasa aneh sekaligus indah.

Anyway, selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman romeogadungan.com. Mohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah gue buat tanpa sengaja. Sorry buat postingan yang mulai jarang muncul. Tapi gue usahakan akan selalu ada tulisan baru di setiap minggunya.

Keep reading!