“Aduh..aduh.” gue meringis kesakitan. Tangan gue mencengkeram pegangan sofa sebagai sarana penyaluran rasa sakit yang gue alami.

Mbak-mbak yang memijit kaki gue malah tersenyum dan melanjutkan kegiatannya. Dia mungkin mendapatkan kekuatan setiap kali gue meringis kesakitan. Sempat membuat gue berpikir, ini mbak-mbak pijat refleksi apa Dementor?

“Udah cukup mas? Atau kurang kuat?” si mbaknya malah semakin beringas.

“Udah mbak! Udaaaahhh..” seru gue dengan jari kaki yang hampir patah.

Mata gue langsung memandang berkeliling, mencoba mencari lampu merah yang berkedap-kedip untuk melambaikan tangan tanda menyerah. Beberapa orang lain yang dipijat melirik ke arah gue. Suara erangan gue ternyata cukup keras untuk didengar orang lain yang sedang menikmati pijitannya di tempat ini.

Ruangan tempat pijat refleksi itu suasananya agak temaram. Pencahayaannya memang diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu terang. Sofa berwarna hitam disusun berjejer dalam rangka-rangka kayu, yang dihiasi gorden berwarna putih transparan sebagai penghalang dari pengunjung lain yang dipijat di bilik sebelah agar tidak saling tatap-tatapan.

Musik piano instrumental yang keluar dari speaker di pojok ruangan terdengar samar-samar di telinga. Aromatherapy yang disediakan juga perlahan masuk ke dalam hidung. Tak terlalu menyengat, malah efek menenangkan yang gue terima.

Karena situasi yang nyaman yang diberikan, gak jarang gue ketiduran ketika dipijat refleksi. Tapi tidak kali ini.

“Aduhh..aduhh..pelan-pelan aja mbak.” gue terdengar seperti anak manja. Tapi serius, kali ini tangan si Mbak yang memencet ujung jari kaki gue terasa menusuk sakit sekali. Sempat membuat gue berpikir kalau gue lagi dipijitin Iron Man.

“Ohh, kalo gitu berarti ada penyakitnya mas.” kata si Mbak.

“Oia? Masa sih mbak?” gue mulai was-was.

Dari dulu gue emang rada hypochondria. Penyakit kekhawatiran berlebih terhadap kesehatan. Pusing dikit gue udah panik. Kaki terasa panas dikit udah mikir disantet orang. Pokoknya berlebihan.

“Emang kalo dipijit kakinya bisa nyambung ke penyakit lain mbak?” gue penasaran.

“Iya, tuh ada gambarnya” si mbak menunjuk poster yang menempel di dinding dengan dagunya.

Mata gue memicing, mencoba menyerap cahaya sebanyak-banyaknya agar poster itu terlihat lebih jelas dalam situasi yang remang-remang ini.

Tidak berapa jauh dari posisi gue, sebuah poster bergambar telapak kaki menempel di dinding. Telapak kakinya lumayan besar, gue gak tau kaki siapa yang dijadikan sampel untuk membuat poster itu, mungkin kakinya Gadjah Mada.

Kalau orang bilang surga itu ditelapak kaki ibu, nah peribahasa itu akan sedikit masuk akal kalo ibunya Gadjah Mada. Gede banget!

Gambar telapak kaki itu dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian. Masing-masing dilengkapi dengan titik-titik dengan tulisan organ-organ tubuh manusia seperti limpa, hati, paru, atau kerupuk kulit pake kuah. Lha ini tempat refleksi apa restoran Sederhana?

“Iya mas, pijat refleksi itu bisa meredakan penyakit lainnya kalo titik-titik itu ditekan.” lanjut si mbak seperti bisa membaca pikiran gue, mungkin dia saudaranya Limbad.

“Misalnya ini nih.” si mbak menekan titik di jari kaki gue. “..nah itu buat sakit kepala.”

“Masnya lagi sakit kepala ya? Lagi banyak pikiran?” gue cuma mengangguk. Hebat sekali mbak pemijat satu ini. Bisa menebak pikiran gue dari telapak kaki. Kira-kira dia tau gak ya kalo gue juga lagi bokek?

“Nah yang ini buat ginjal, ini buat sakit punggung, kalo disini buat meredakan sakit di saluran pencernaan mas.” dia menunjuk titik-titik lain di telapak kaki gue.

Kalau buat sakit hati dimana mbak?

“Intinya, kalo diteken sakit, berarti ada penyakitnya mas. Kalau mau sembuh ya harus rela sakit kayak gini.” tutup si mbak sambil tetap memijat telapak kaki gue dengan telaten.

“Aduh..duh..” gue meringis kesakitan sambil mendengarkan.

Pijat refleksi mungkin salah satu bukti sahih kalau manusia itu (terutama gue) adalah makhluk sadomasokis. Cerita yang pernah gue tulis disini. Udah tau bakal kesakitan, tapi tetap aja dilakukan.

Nonton film horror, naik roller coaster, stalking timeline mantan. Semuanya tetap dilakukan meskipun cuma bisa bikin sakit. Dan kini pijat refleksi.

Jatuh cinta itu benar-benar sadomasokis sempurna. Kita semua udah tau kalau kata “jatuh” pasti bakalan bikin sakit, minimal bikin lecet. Tapi tetap aja dilakukan. Kenapa ya? Apa kita makhluk pecinta rasa sakit? Apakah mungkin rasa sakit adalah satu-satunya cara agar kita bisa belajar?

Kayak tagline iklan salah satu detergen di televisi “gak kotor, gak belajar”

Kita seperti anak kecil berkaus putih yang berlarian di lapangan penuh lumpur demi belajar. Belajar untuk jadi lebih baik lagi. Untuk menjadi pribadi yang lebih tahan banting. Belajar dari kesalahan, agar gak mengulanginya lagi di masa depan.

Dan gue tiba-tiba berpikir, patah hati itu kayak pijat refleksi. Bukan, gak ada mbak-mbak Dementor pake baju Iron Man yang mijitin hati lo. Tapi lebih ke efek dan prosesnya.

Sakit-sakitan dulu, biar nanti bisa sehat lagi. Meringis-meringis kesakitan sendirian dulu, biar penyakitnya ilang. Biar nanti tiba waktunya untuk bisa lega. Untuk bisa menerima. Untuk bisa ikhlas. Untuk bisa memaafkan dan berhenti menyalahkan diri sendiri. Mungkin nanti di masa depan penyakitnya datang lagi. Kita gak pernah tau.

Sekarang, nikmatin aja dulu sakitnya. Karena hati (yang udah lecet-lecet ini), mungkin seperti telapak kaki, kadang perlu dipijat refleksi. Biar bisa sembuh.