Beberapa waktu yang lalu, dalam perjalanan pulang arus balik ke Jakarta. Gue naek salah satu maskapai lokal. Maskapai singa lebih tepatnya.

Mood balik ke Jakarta sudah dirusak dengan mahalnya harga tiket yang melambung dan padatnya bandara Polonia di Medan.

Ntah mengapa, kondisi bandara-bandara di Indonesia pada saat-saat arus mudik seperti ini sontak berubah menjadi terminal bus antar kota.

Para pengantar yang duduk di lantai bandara, teriakan-teriakan menawarkan taksi dimana-mana, pengumuman bagi para penumpang telat yang diteriakkan berulang-ulang oleh petugas bandara.

“Yang Palembang!! PALEMBANG 11.30!! PALEMBANG!!”

Kombinasi dari ketiganya, membuat rasa nyaman di bandara menjadi sangat jauh berkurang.

Akhirnya, dengan kondisi badan yang lelah, mood gue hari itu udah kacau.

Nyampe didalam pesawat, mood gue diperparah dengan begitu banyaknya orang yang masukin barang-barang yang sebenarnya terlalu besar untuk dimasukkan di kabin.

Kenapa ga dimasukin bagasi aja sih si koflok teh?

Emosi jiwa!

Pramugari pun tampaknya sudah pasrah dengan kondisi ini. Efeknya, mereka tampak melayani penumpang-penumpang lainnya dengan muka masam.

Gue akhirnya memutuskan untuk tidur saja.

Setengah perjalanan, gue kebangun karena gue mencium sesuatu.

Sesuatu yang normalnya ga akan kita cium di dalam sebuah pesawat udara yang lagi terbang di langit.

Gue mencium bau…nasi padang!

Di tempat duduk sebelah gue, ada sebuah keluarga kecil, bapak ibu dengan dua orang anak yang sedang asyik makan nasi padang yang mereka bungkus mungkin dalam perjalanan ke bandara.

Makannya pake tangan sodara-sodara. Pake tangan!

Gue sempet ngecek keluar karena takut pesawat yang gue naiki tadi jangan-jangan udah parkir di perempatan di depan restoran Sederhana.

Ternyata engga.

Gue gak tau mereka mau kemana, tapi dari cara berpakaiannya, gue mengasumsikan mereka bukanlah orang yang sering bepergian dengan pesawat. (ini hanya tebakan sotoy gue)

Memang, dengan penerbangan siang seperti ini, dan menggunakan maskapai ini, penumpang tidak akan disediakan makan siang selama perjalanan.

Makanya mereka memiliki ide brilian untuk makan makanan padang didalam kabin pesawat.

“itu bau rendang udah kemana-mana bu!” kata gue sebel dalam hati.

Tapi lama gue mikir, akhirnya gue menyadari,

“Ngga ada satupun peraturan maskapai penerbangan yang melarang penumpangnya untuk membawa makanan sendiri”

Sebenernya ide si ibu ini cerdas sekali.

‘Daripada gue lapar, mending gue bungkus aja nasi padang. Gue makan deh diatas.’

Kita tunggu aja sampe ada yang bawa gerobak bakso dalam pesawat.

“Silahkan kenakan sabuk pengaman anda. Pelampung ada dibawah kur.. BASOOOOO..BASOOOOO!!!”

Apakah cuma gue sendiri yang merasa hal ini tidak pantas dilakukan dalam sebuah pesawat.

Apakah gue telah berubah menjadi segitu munafiknya bahwa gue masih menganggap pesawat adalah moda transportasi untuk golongan tertentu.

Jujur, gue terganggu dengan bau rendang itu (kan jadi ikutan laper. hehe).

Kenyamanan gue terganggu.

Tapi sebenernya gue juga sangat tidak punya hak untuk protes masalah ini.

Gue beli tiket kelas ekonomi, dan begitu juga keluarga itu. Kalau gue gak mau diganggu, gue harusnya beli tiket kelas bisnis.

Keluarga ibu itu dan gue punya hak yang sama.

Akhirnya gue cuma diam, dan berpikir.

Apakah salah mereka makan di dalam pesawat?

Ataukah gue telah berubah menjadi begitu piciknya, sehingga memaksa orang lain mengikuti aturan gue?

Akhirnya, gue cuma bisa kembali memejamkan mata, ‘menikmati’ bau rendang yang masih pekat di udara.