Disinilah gue duduk sendiri kayak orang bego, megangin kamera. Di acara kawinan temen gue.

Dengan iming-iming akan dikenalkan dengan salah satu saudara perempuan si mempelai wanita, gue datang kesini.

Karena ga enak, gue mengiyakan undangan temen gue ini untuk datang ke acara resepsi nikahannya.

Bingung lagi ngapain, gue melihat ke arah makanan, disana ada seorang wanita berjilbab, lagi ngambil es. Niat iseng gue muncul.

“Eh, belom di foto kan ya? Sini gue foto” tanya gue.

Tanpa minta persetujuannya, gue langsung mengambil beberapa foto dengan kamera digital yang gue pegang dari tadi.

Terlihat raut sedikit kesal di mukanya.

 

Nama gue Sugiantono, tapi gue lebih dikenal dengan nama Bram. Umur gue 38 tahun. Gue lahir dan besar di Tanah Abang. Jakarta. Kalian tau kan Pasar Tanahabang? Disitulah tempat gue biasa mangkal.

Orang bilang gue preman, orang jahat, berandalan, tapi gue gak peduli.

Yang penting gue bisa makan.

Target gue biasanya tukang dagang, tukang asongan, maupun anak sekolah yang biasa lewat disini.

Gua palakin satu-satu, ga peduli mereka ikhlas atau ngga.


Kalo ngelawan gue hajar! Yang penting, gue kenyang.

Ngga lupa juga, ada setoran harian yang gue kasi ke jawara yang megang Tanahabang,  Haji Romli.

Uang yang gue dapet, gue pake buat beli minuman keras, karena hampir setiap hari, gue ngga pernah bayar kalo gue pengen makan.

Tukang ketoprak yang sering lewat jadi sasaran gue.

“Ketopraknya satu!” kata gue setengah ngebentak.

“Iya bang” kata penjualnya ketakutan.

Dan begitu gue hampir selesai makan, piringnya langsung gue banting hingga pecah.

“apa-apaan nih?! Lo mau racunin gue? Ketoprak lo bau semut!!” kata gue setengah mabok.

“Mau gue acak-acak dagangan lo!!” bentak gue sekali lagi.

“ampun bang, yauda, abang ga usah bayar aja.”

Dan begitulah setiap harinya kehidupan gue. Bebas hidup tanpa mikirin apapun.

 

“Bram, sini!” panggilan temen gue dari kejauhan menyadarkan gue.

Dengan sedikit rasa malas gue beranjak ke tempat teman gue berdiri disana, deket pelaminan.

“Kenalin, Ini Lia, yang kemaren pengen gue kenalin ke elo” kata temen gue.

Disana, berdiri wanita cantik dengan muka setengah cemberut.

Wanita yang tadi yang gue foto tanpa ijin.

Sedikit salah tingkah, gue menyodorkan tangan.

Ngajak kenalan.

 

Beberapa tahun kemudian.

Gue bisa selesai kuliah D3 gue, bisa wisuda. Bikin bangga orangtua dan abang gue.

Jadi preman, gue terbiasa jadi pribadi yang kuat, berani dan ga takut mati. Tapi waktu itu, pas dipanggil ke atas podium buat wisuda, gue nangis kayak bayi.

Pas gue kirimin foto wisuda ke teman-teman nongkrong gue di TanahAbang dulu, banyak yang kaget kalo gue bisa wisuda.

Ngga nyangka dengan kehidupan kelam gue dulu, gue bisa sampe tahap ini.

Merangkak perlahan agar bisa keluar dari dunia itu.

Disinilah gue, status sebagai pegawai kontrak di sebuah perusahaan asing. Jadi admin yang ngurusin dokumen dan filing.

Gajinya ngga gede, tapi setidaknya halal.

Buat ngasih makan Lia, istri gue.

Dan Daffa, anak lelaki kami.

Memulai sebuah keluarga kecil yang bahagia.

“Every saint has a past every sinner has a future.”

 

*Gue tulis ulang, seperti yang Mas Sugi ceritakan langsung ke gue.