Hari ini tepat 2 minggu sebelum gue berangkat. Dan makin ke sini, makin banyak orang yang nanya langsung ke gue atau ke social media pertanyaan-pertanyaan sederhana kayak :

“Kapan berangkat Ta?”

“Cerita dong persiapannya gimana Ta?”

“Gimana perasaannya Ta?”

Membuat gue merasa sedang diwawancarai reporter TV One.

Jujur saja, gue kali ini benar-benar santai dalam mempersiapkan keberangkatan. Gue belum packing, belum beresin kosan, belum apa-apa. Beberapa hari terakhir di Indonesia nanti malah akan gue habiskan dengan ikut year end closing di kantor. Lembur is coming!

Tiket dan visa memang sudah ada di tangan, memberikan sedikit kepastian untuk gue tentang tanggal keberangkatan. Sisanya, benar-benar gak ada.

Saking santainya, malah teman-teman gue yang akhirnya jadi sewot dalam mempersiapkan gue untuk tinggal di sana.

“Visa udah Ta?”

“Tiket udah?”

“Akomodasi gimana?”

“Pakaian? Kan lo nyampe langsung musim dingin tuh.”

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya membuat gue berpikir, “Oke, kayaknya gue harus belanja deh.”

Dan dimulailah pencairan gue untuk barang-barang kebutuhan hidup gue ini. Dan barang pertama yang gue beli adalah : laptop.

Iya, sudah 26 tahun hidup di dunia, sudah lima tahun kerja, ratusan cerita di blog, dan telah menerbitkan satu novel, gue belum pernah punya laptop sendiri. Selama ini gue selalu menumpang menulis di laptop kantor.

Waktu kuliah, gue cuma punya PC dengan layar cembung yang berjasa membantu gue melewatkan masa-masa skripsi yang lumayan membuat gila itu.

Jadi wajar sekali jika hal yang pertama gue beli untuk kuliah lagi itu adalah laptop. Dan dengan mengais-ngais tabungan hasil bekerja, gue berhasil membeli sebuah laptop idaman.

Laptop ini jahanam banget harganya ya.

Laptop ini jahanam banget harganya ya.

 

Hal yang kedua yang gue beli adalah perlengkapan musim dingin. Emang dasar anak kampung yang belum pernah ke Eropa, gue benar-benar buta mengenai apa saja yang harus gue beli agar bisa bertahan hidup di sana.

Gue mulai bertanya kiri kanan apa saja yang harus gue beli, terutama yang berkaitan dengan musim dingin. Gue mulai mencari tau apa itu long john, jenis pakaian yang dipakai mahasiswa disana, hingga jenis winter coat apa yang terlihat gaya.

Eh, kenapa sih?

Kan gue juga pengen terlihat trendy disana. Karena kalau gue tetap memakai gaya gue waktu kuliah dulu, bisa-bisa gue dideportasi karena disangka gembel.

Saran-saran dari teman-teman gue mengenai hal ini mulai bermasukan, membuat gue pusing dengan segala opsi yang gue punya.

“Beli yang wool Ta. Itu yang paling enak.”

“Warnanya yang netral Ta”

“Jangan yang ada bulu-bulunya Ta. Itu lebih nahan dingin sih, tapi lo cowok kan, masa ada bulu-bulunya?”

Okay, got it! No bulu-bulu.

I'm fabulous

I’m fabulous

 

Gue juga mulai menghubungi seorang teman kantor yang sedang bekerja di Aberdeen untuk mengetahui gambaran cuaca di sana.

“Wah, di sini mulai winter. Udah mulai 1-2 derajat nih. Nanti kalau makin parah, bisa minus dua!”

SHIIITTTTTT. MINUS DUA DERAJAT CELCIUS?!

Suhu terdingin yang pernah gue rasakan adalah lima derajat celcius waktu gue ke Jepang beberapa tahun yang lalu. Dan itu saja sudah membuat buku-buku jari gue ngilu, daun telinga yang mati rasa dan membuat gue kedinginan setengah mati.

Ini minus dua? Gue ini manusia, bukan sawi!

Bodo amat ama bulu!

Jangankan bulu jaket, bulu angsa gue pake juga deh biar gak dingin. Dan minggu lalu, gue akhirnya meluangkan waktu untuk belanja baju-baju musim dingin.

Setelah mencoba memakai long john, sarung tangan, topi kupluk, syal, dan mencoba jaket dengan bulu-bulu, gue lebih terlihat seperti orang yang ingin ke Siberia daripada ke Aberdeen.

Bodo amat! Yang penting survive!

Jadi doakan saya teman-teman agar bisa bertahan hidup di sana.

***

On a serious note, sebenarnya ada satu hal yang menjadi beban pikiran gue.

Hal yang paling gue takutkan adalah mentalitas dan otak gue saat ini. Sudah hampir enam tahun sejak gue lulus kuliah dan belajar di bangku kuliah. Otak gue seolah sudah diprogram untuk bekerja bukan belajar. Gue sepertinya lebih siap menghadapi deadline daripada ujian.

Inilah yang membuat gue sedikit khawatir.

Apakah gue mampu untuk kembali mengubah settingan otak gue untuk kembali belajar di bangku kuliahan? Kembali menyerap ilmu dari dosen. Mengikuti kelas, tugas, ujian dan hal-hal perkuliahan lainnya. Belum lagi standar pendidikan, metode, dan suasana perkuliahan yang gue yakin akan sangat berbeda dibandingkan dengan waktu gue di Unpad dulu.

Dan tambahkan proses adaptasi terhadap makanan, budaya, dan cuaca. Kuliah dengan jaket berbulu seperti orang Siberia kan ribet?

Hal-hal itu lah yang membuat gue merasa takut dan tetap merasa seperti anak kecil.

Gue selama ini mengira gue sudah dewasa. Tapi ternyata ini adalah Tirta yang sama yang ketakutan ketika ingin merantau dari rumah sepuluh tahun yang lalu. Tirta yang masih baru lulus SMA yang belum tau mau apa dengan hidupnya.

Tapi gue pun menyadari bahwa ketakutan ini adalah hal yang sangat wajar. Ketakutan yang selalu tumbuh dari sebuah perubahan. Ketidaknyamanan yang muncul dari berubahnya rutinitas yang secara tidak sadar sudah gue lakukan selama bertahun-tahun.

Kenyamanan memabukkan yang muncul dari sebuah comfort zone.

So bear with me guys! Doakan yang terbaik buat gue ya! Kali ini gue akan melangkah pergi, keluar dari ‘rumah’ untuk kembali menempa diri. Untuk menjadi Tirta yang lebih baik.

***

Beberapa orang meminta gue untuk tetap menulis dan tetap rutin mengupdate blog ini selama gue di sana. Jawaban gue : ya pastilah!

Gue yakin akan banyak kenorakan gue yang bisa gue tulis di blog ini (dan mudah-mudahan jadi chapter buat di buku gue nanti) selama gue di sana.

Sementara itu, tolong bantuin gue menjawab pertanyaan berikut :

Winter coat nya bagus yang pake bulu atau nggak?

Hahaha.