Siapa bilang perjodohan hanya urusan kaum hawa? Hal itu salah besar. Saking sayangnya orang tua, kadang dia gak tega ngeliat anaknya untuk hidup sendirian terlalu lama. Dan akhirnya gue menyadari satu hal.

Perjodohan bukan hanya untuk wanita, tapi juga untuk kaum pria. Di umur yang hampir menginjak seperempat abad ini, menikah tampaknya menjadi barometer keberhasilan seorang anak manusia setelah lulus kuliah, kerja dan dapetin highscore di Line Pop. Oleh karena itu, beberapa orangtua kadang suka cemas melihat anaknya yang lajang terlalu lama.

Bokap gue yang awalnya selow, belakangan mulai bawel nanyain kapan menikah.

“Kapan abang kawin?” Tanya beliau setiap kali ketemu gue.

“Lihat ada meteor yah!” Kata gue mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Mau ayah kenalin ke anaknya kawan ayah?” Bokap gue ternyata gak gampang menyerah untuk ngurusin masalah jodoh anaknya.

Gue pun cuma senyum-senyum sendiri menanggapi tawaran bokap itu. Gue mikirnya, toh ga ada salahnya. Kenalan dan nambah-nambah temen.

“Geby, coba geby bawa si abang ke Bank BCA. Kenalin ama teller yang waktu itu. ” bokap setengah berteriak ke adik gue.

“Ayah ini semangat banget mau ngenalin ke si Abang?” Tukas Geby sedikit malas.

“Ya gpp, biar kenalan aja.” Bokap gue masih persisten dengan usahanya.

“Cantik gak yah?” Gue akhirnya penasaran.

“Abang tenang aja, cantik kok yang ini. Teller BCA. Dia duduk di paling pojok lantai dua.”

INI KOK BOKAP GUE SAMPE APAL TEMPAT DUDUKNYA?!

“Nanti abang langsung naik aja ke lantai dua. Pura-pura mau bikin rekening.” Kata bokap gue.

“…….”

Gue adalah orang yang gak bisa membuka percakapan dari out of nowhere. Memikirkan pick-up line apa yang akan gue keluarkan menjadi tantangan tersendiri. Gue membayangkan dialog apa yang mungkin akan gue lakukan di depan teller itu.

Gue : Mbak, saya mau buka rekening. Tapi sebelumnya…papa kamu tukang gorengan ya?

Teller : Bukan.

Gue : Tukang pos?

Teller : Bukan juga!

Gue : Oh, sebentar. Guru? Astronot? Pemadam Kebakaran? Buka konter pulsa?

Teller : Pak Satpam! Pak Satpam!

Gue *sambil ditarik satpam* : OHHH..SATPAM!

Gue pun cuma diam mengingat gue sudah mempunyai rekening di bca. Gak mungkin banget punya dua rekening cuma untuk kenalan. Upaya bokap sebenarnya gak cuma itu. Dulu dia pernah mencoba menjodohkan gue dengan anak temennya.

Waktu itu hari ketiga Lebaran. Karena prosesi saling mengunjungi saudara sudah selesai dilakukan, gue memutuskan untuk menghabiskan hari dengan tidur siang. Sebuah kenikmatan yang dulu pernah kita sia-siakan sewaktu kecil.

Ketika gue turun dari kamar, bokap buru-buru menghampiri gue.

“Abang kemana tadi?” dia datang tergopoh-gopoh menghampiri.

“Tidur siang yah.” Gue menjawab santai.

“Ahhhh..kok tidur siang? Tadi kawan ayah datang kesini ama anak perempuannya. Cantik bang!” Katanya penuh semangat.

“Oia yah? Masa sih?”  gue awalnya menjawab dengan malas-malasan.

“Yauda, besok gantian kita berkunjung ke rumahnya. Pura-puranya bertamu lebaran. Biar abang bisa liat sendiri. Pokoknya cantik! Kayak arab gitu.”

“Pokoknya besok siang abang siap-siap aja. Mandi terus. Biar kita cepat-cepat pergi.” lanjut bokap bersemangat.

Mendengar penjelasan bokap yang begitu menggebu, mau gak mau akhirnya gue jadi ikutan bersemangat.

“Oke, siapa tau mukanya kayak Raline Shah” pikir gue dalam hati.

Besoknya, gue langsung deg-degan menghadapi rencana sore itu. Dari pagi gue gak pergi kemana-mana. Milih-milih baju yang pas buat bertamu nanti malam. Abis makan siang gue udah mandi, luluran, pake parfum, dan sisiran. This is one serious shit! Dengan segala kecentilan gue waktu itu, gue persis seperti Siti Nurbaya yang mau ketemu Datuk Maringgih.

Menjelang sore, gue sekeluarga berangkat ke rumah paman gue itu. Di sepanjang perjalanan, gue cuma bisa diam. Mencoba untuk mengendalikan perasaan yang, mau gak mau, ikutan panik.

“Ternyata begini rasanya dijodohin”

Begitu nyampe di rumah yang dituju, kami semua disambut oleh tuan rumah. Bokap gue ngobrol ama temennya. Gue sendiri cuma duduk ganteng di sofa. Diam gak banyak ngomong karena emang gak kenal. Pikiran gue cuma satu : “Keluarkan wanita itu segera! Saya penasaran!”

Dan saat-saat yang dituju itu akhirnya tiba. Sang gadis yang dimaksud bokap gue keluar dari dalam sambil membawa minuman. Modus klasik. Sebuah modus yang sudah bisa ditebak bahkan oleh orang awam sekalipun. Modus yang sudah ada di Standard Operating Procedure Orang Dijodohin.  Kenapa sih gak diganti dengan hal-hal yang lebih kreatif seperti  membawa minuman sambil berkuda?

Dia membawa nampan berisi beberapa minuman. Perlahan-lahan dia menunduk dan meletakkan satu persatu minuman di atas meja. Rambut panjangnya jatuh menutupi wajahnya,  menghalangi pandangan mata gue untuk memperhatikannya. Kemudian dia membenar kan posisi rambutnya yang jatuh dan melirik ke gue. Dan saat itu lah gue bisa melihat jelas wajahnya. *musik india terdengar di kejauhan*

Reaksi gue waktu itu….kok jelek?

Akhirnya Siti Nurbaya benar-benar ketemu dengan Datuk Maringgih. Argghhh.. kenapa seperti ini? Katanya cantik? Makkkkkk. Aku gak mau dijodohin ama yang beginian mak!!

Emang bener sih ini mirip Arab, tapi bukan orang arab, onta nya!

Sebenarnya gak jelek banget, tapi bukan tipe gue. Maklum, gue seleranya mahal. Lagian waktu itu dia masih terlalu kecil, masih kelas 2 SMA. Kapan gue kawinnya? Keburu kiamat!

Akhirnya gue menghabiskan sore itu sambil diam menunduk. Ketika terlalu bosan, gue cuma menyeruput teh manis yang disediakan dengan malu-malu. Gak mau macem-macem takut dikira naksir beneran. Dan ketika pulang dari sana, kelegaan yang luar biasa akhirnya datang.

Di perjalanan pulang, bokap gue bertanya.

“Gimana bang tadi?”

“Ahh. Gak selera ah yah.” Gue menjawab dengan males-malesan. Sejak saat itu, gue memutuskan untuk berusaha untuk mencari jodoh sendiri. Kalau jodoh ada di tangan Tuhan, maka gue akan menunggu saatnya Tuhan ‘bertepuk tangan’.

Sementara itu, untuk saat ini ada satu kalimat yang sangat gue hindari dari bokap gue.

“Mau ayah kenalin ama anaknya kawan ayah?”