Apa lomba favorit kalian ketika tujuh belasan? Balap karung? Panjat pinang? Atau pukul bantal?

Buat gue, balap karung dan sendok guli menjadi favorit.

Karena badan yang terlalu kecil, gue gak pernah bisa ikutan panjat pinang sejak dulu. Gue takut badan gue berubah jadi perkedel dan mati terinjak-injak dalam lomba itu. Gue hanya berpartisipasi dalam sendok guli (balapan dengan menggigit sendok dan kelereng di dalamnya. Orang Medan menyebut kelereng dengan sebutan guli), balap goni (balap karung), atau memasukkan pensil ke dalam botol.

Karena sudah terlalu lama gak ikutan, gue bahkan sudah lupa lomba apa saja yang diperlombakan setiap peringatan tujuh belasan. Terakhir kali mengikuti lomba tujuh belasan itu waktu gue masih SD. Di sebuah lapangan voli deket rumah gue di Medan.

Warga sekitar mengubah lapangan pasir itu menjadi arena tarung sederhana bagi anak-anak yang ingin memperebutkan hadiah. Tidak mewah, mungkin hanya sebuah buku tulis atau pensil sebagai upah dari jerih payah mereka.

And I took those competitions seriously.

Gue selalu bersungguh sungguh dalam mengikuti lomba-lomba itu. Kalau perlu gue akan latihan gimana cara menggigit sendok yang baik dan benar untuk mengurangi goncangan terhadap kelereng di dalamnya. Digigit pake gigi depan apa gigi geraham? Semua metode gue coba, asal jangan gigi teman di sebelah. Pokoknya jangan.

Atau gue bahkan mengambil karung di rumah untuk berlatih, mengukur sedalam apa gue harus membenamkan kaki agak lompatan gue bisa maksimal.

Sebelum lomba gue akan berdiri di depan cermin, membasahi muka lalu berbicara kepada diri gue sendiri yang ada di dalam cermin.

“Lo bisa ta! Lo bisa! Ini hari dimana lo jadi pemenang! It’s your time to shine!

Lalu gue ngelap ingus dan pergi ke lapangan voli dengan jumawa.

Sekali waktu, gue hampir memenangkan lomba balap karung yang gue ikuti, tapi di akhir menjelang garis finish, karung yang gue gunakan terinjak oleh teman yang ada di sebelah, gue gagal menjadi juara balap karung. Dan berusaha mencari dukun santet untuk teman gue tadi.

Gue kecewa. Gue gagal. Tampaknya, menang di lomba-lomba acara tujuh belasan menjadi suatu pencapaian yang besar untuk anak SD.

Masih dalam kekecewaan yang teramat dalam, gue akan menghabiskan sore dengan menyaksikan lomba panjat pinang yang biasanya digelar belakangan.

Sebuah batang pinang setinggi beberapa meter telah siap di pojokan. Batangnya penuh berlumur minyak gemuk yang tak mudah lekang dari pakaian meskipun telah mencucinya beberapa kali. Hadiah yang di puncak bermacam macam. Mulai dari ember, gayung, payung hingga sepeda.

Kadang gue mikir kenapa hadiahnya sepeda? Apa sepeda cukup untuk menjadi motivasi para pria untuk memanjat pinang itu? Kenapa gak naro Asmirandah yang lagi diiket di atas pinang, dan kita lihat gimana reaksi para pemanjat. Gue jamin acara gak akan berlangsung lama. Lima menit kelar. Gue berada paling atas.

Ketika hampir berhasil sampai puncak, kadang tumpukan orang itu kembali runtuh karena kesalahan yang dibuat oleh satu orang. Entah dia berdirinya kurang kuat, atau genggamannya di batang pinang yang belum kencang. Namun tidak ada yang menggerutu, semuanya cuma tertawa sambil membenarkan posisi kolornya yang sudah keluar kemana-mana karena dijadikan pijakan untuk memanjat.

Proses itu terjadi berulang-ulang hingga akhirnya sang pemanjat paling tinggi bisa sampai di puncak dan meraih sepeda berpita yang menjadi hadiah.

Ketika gue sudah besar, baru gue bisa berpikir jernih dan mulai mempertanyakan. Entah apa hubungannya lomba-lomba itu dengan peringatan Hari Kemerdekaan? Tapi yang jelas, hari itu berubah menjadi pesta rakyat. Datang keluar rumah masing-masing hanya untuk memperingati 17 Agustus yang datang setiap tahun.

Mungkin intinya untuk merayakan, membuat suatu landmark dalam pikiran untuk sebuah peristiwa yang terjadi puluhan tahun yang lalu.

Peristiwa yang membuat kita merasa bersatu. Bersama sama menertawakan pria-pria yang terjatuh berulang-ulang demi sebuah sepeda. Tidak menjadi bangsa yang cengeng, yang selalu menyalahkan orang lain atas peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi.

Mungkin semangat itu yang coba ditularkan. Semangat bekerja sama dalam berkarya. Menjadi pribadi yang tidak cengeng meskipun jatuh berkali-kali dan berani untuk bangkit lagi.

 

 

Why do we fall? So we can learn to pick ourselves up.” – Alfred in Batman Begins.

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia.