Namanya Russ.

Gue bahkan gak tau nama lengkapnya. Atas dasar kesopanan yang masih di junjung tinggi di negara ini, gue memanggilnya Pak Russ. Dia adalah salah satu mentor Induction Training yang wajib diambil untuk semua Management Trainee di kantor gue.

Umurnya sudah tua, mungkin sudah lebih dari enam puluh tahun. Meskipun sudah sedikit bungkuk, tubuhnya masih bugar. Cukup kuat untuk menempuh penerbangan puluhan jam dari Texas ke Jakarta untuk mengajar kami semua.

Tubuh rentanya melemah dihantam jet lag.

“I can’t sleep for hours” katanya pada kami.

Hearing aid menempel di kedua telinga untuk membantu pendengarannya yang sudah mulai menurun. Mungkin memudar dimakan usia, atau mungkin juga akibat efek hantaman suara bising yang terus menerus dari drilling process yang dialaminya di rig pengeboran puluhan tahun yang lalu.

Dia memulai training dengan sepotong kalimat dalam bahasa Indonesia  :

“Saya..bisa..sedikit..bahasa..menggerti.” ujarnya terbata.

Satu kalimat yang cukup untuk membuat kami tertawa, mencairkan suasana dan membuat kami merasa terbuka dengan orang asing ini.

Dia kembali melanjutkan bahasa Indonesianya.

“Jadi..saya..harap..anda..bisa..bantu..saya..inggat..bahasa..in these few days

Kami pun kembali tertawa melihat usahanya yang begitu keras untuk tetap berbahasa Indonesia.

Kami bersikap seperti orang Indonesia pada umumnya, merasa sangat senang ketika ada orang asing yang mencoba untuk melakukan budaya kita. Persis sama seperti waktu Obama bilang “nasi goreng, bakso, semuanya enak!” dalam kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Ketika semua orang menggunakan kemeja kerja resmi, Pak Russ hanya menggunakan polo shirt berwarna putih dan kuning yang telah dilaundry berulang kali selama seminggu training ini.

Dia pernah tinggal di Jakarta selama empat tahun hingga tahun 2008. Posisi terakhirnya salah satu vice president di kantor gue, sebelum akhirnya pensiun dan mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengajar. Terutama orang-orang muda dalam kantor ini.

“I love to see the excitement and the spirit in your eyes….the future of this company.” alasannya waktu itu.

Aksen Texas nya terasa setiap kali dia berbicara. Tutur katanya halus dan teratur, untuk memastikan kami mengerti apa yang dia ucapkan. Jika kami terlihat bingung, dia akan mengulang kembali penjelasannya, hingga kami benar-benar mengerti.

Dia akan mendatangi setiap kelompok untuk memastikan kami mengerti dengan materi dan tugas yang akan di kerjakan.

“You have to speak louder with me. This is the reason these things are in my ears.” katanya berulang kali sambil menunjuk hearing aid di telinganya, setiap kali suara kami terlalu pelan. Atau mungkin itu hanya caranya agar kami berani untuk bicara lebih keras dalam mengemukakan pendapat. Entahlah.

Dengan sangat penuh pengetahuan, dia mengajarkan materi tentang wells, reservoir, source rocks,  piping, trap, dan pressure kepada kami semua. Sangat detil dan sederhana, sehingga orang finance seperti gue, yang sama sekali tidak tau apapun tentang batu-batuan, bisa mengerti.

Dia hanya diam dan tersenyum setiap kali kami kedapatan berbicara dalam kelompok saat dia mengajar. Tanpa amarah, perasaan yang muncul adalah rasa segan dan rasa hormat kepada kakek satu ini.

Pengetahuannya tentang industri ini menyeluruh, dari mulai access stage, appraisal stage, hingga production stage dalam sebuah life cycle lapangan minyak. Ditambah lagi dengan penjelasannya yang detil mengenai economic modeling dari proyek itu.

Berulang kali dia mengingatkan kami, “It’s business guys, if you can’t make any money from it. It’s useless”

Kelihaiannya dalam menggunakan beberapa economic indicators seperti IRR, NPV, Inflation Rate dan Discount Rate menunjukkan pengetahuannya yang komprehensif dalam bidang ini. Tidak hanya dari sisi teknikal, tetapi juga sisi commercial dan safety.

Menyadari masih ada banyak kekurangan, dia juga menyentil beberapa bagian dari teknik presentasi yang kami lakukan. Dia mengajarkan cara presentasi yang efektif kepada audience-audience muda ini. Meninggalkan tiada cela dalam teknik mengajarnya.

Karena nama gue terlalu susah untuk lidah bulenya, Pak Russ memanggil gue ‘Mr. Finance Guy’ karena pemikiran gue yang terlalu ekonomis dan menjadi orang yang paling susah untuk diajarin masalah-masalah teknikal.

Presentasi powerpointnya berubah menjadi slideshow foto-foto keluarga dan cucu-cucunya yang masih kecil ketika dibiarkan diam terlalu lama. Menimbulkan kenyataan bahwa dia sama sekali tidak melupakan keluarga di sela-sela pekerjaan di ujung timur dunia.

Ntah kenapa gue ingin menjadi seperti Pak Russ.

Menjadi seorang corporate man yang sukses, tapi tidak melupakan keluarga. Dan pada ujungnya mendermakan seluruh waktu gue untuk mengajar. Menyambungkan ilmu ini kepada generasi berikutnya.

Di akhir training, gue mendatanginya. Menjabat tangannya untuk mengucapkan terima kasih secara langsung dan secara personal.

Gue resmi menjadi fans berat Pak Russ.

Dan di acara makan malam bersama yang terakhir, gue bertanya..

“Pak Russ, may I have one picture with you?”

“Of course you can.” katanya sambil tersenyum.

Dan inilah, orang tua yang menjadi idola baru gue.

Pak Russ

Pak Russ and Mr. Finance Guy