“Yah, apa yang bikin ayah pengen menikah dulu ama bunda?”

Gue langsung menanyakan hal itu kepada ayah, ketika dia masuk ke kamar gue. Random memang. Tapi gue punya alasan tersendiri.

Sejak gue sakit, kami memang memiliki banyak waktu untuk mengobrol daripada saat gue sehat. Jarak dan kesibukan yang memisahkan sering membuat kami jarang memiliki ‘father and son conversation’.

Kalau dipikir-pikir, mungkin ini salah satu hal positif dari penyakit gue kali ini. Gue menjadi punya banyak waktu untuk menanyakan hal-hal yang selama ini nggak pernah gue tanyakan tapi sebenarnya gue penasaran.

Jujur aja deh.

Kapan terakhir kali kita benar-benar mengobrol dengan orang tua kita? Sekadar memberikan perhatian kepada mereka. Menanyakan kesehatan mereka. Atau membahas hal-hal yang sebenarnya pengen kita tanyakan tapi nggak pernah sempat karena kita terlalu sibuk. Atau kita terlalu segan untuk menanyakannya.

Pasti udah lama banget kan?

Dan kali ini, gue berhasil mendapatkan kesempatan itu.

“Kenapa nanya gitu?” tanya ayah yang menyengir lebar sambil memperlihatkan giginya.

Dia seperti nya tidak siap kalau rahasianya dibongkar anak lelaki tertuanya.

“Ya gpp, pengen tau aja.”

“Waktu itu udah cocok aja. Nyetrum gitu kalau liat bunda. Itu jatuh cinta ya namanya? Hehehe..”

Gue melihat orang tua di depan gue ini. Dari semua anaknya, gue memang yang paling mirip dengan ayah. Mulai dari fisik, perawakan ampe karakter. Hobi dia yang sangat gemar membaca mungkin cuma turun ke gue. Gue nggak pernah melihat kakak atau adik-adik gue membaca sebegitu maniaknya seperti kami berdua.

Tapi bukannya kami nggak punya perbedaan. Ayah dan gue punya pandangan politik yang cukup berbeda. Gue dukung Jokowi, dia Prabowo. Gue suka Ahok, dia anti. Nggak jarang gue sedikit jengah dengan artikel-artikel yang sering di-share ayah di akun facebooknya.

Pandangan gue yang sedikit liberal sering kali dibalas ayah dengan “Abeng ini kurang ngaji.”

Tapi ya begitulah, keluarga gue dibiasakan dengan perbedaan berpendapat dan kebebasan berpikir. Itu semua yang diajarkan ayah ke semua anak-anaknya. Meskipun kadang gue harus kenyang mendengarkan teori ayah tentang Ahok dan konspirasi Cina.

“Jadi waktu itu, ayah pulang ke Peureulak dari Banda Aceh. Datang ke acara kawinan nya Pakwa Mud.” ayah mulai bercerita.

Gue hanya diam mendengarkan.

“Ayah kan kawan mainnya Pakwa Mud, sodara kalian. Jadi diundang ke pesta nya. Di situ lah ayah liat bunda. ‘Siapa tuh rambut keriting item manis’. Hehehe”

Gemas.

Gue bisa membayangkan sih situasinya waktu itu. Remaja tahun 80an. Ayah dengan celana cut bray nya memandang bunda dari kejauhan. Mungkin akan mirip adegan film Satria Bergitar nya Rhoma Irama dan Rika Rahim.

“Kenapa abeng nanya gitu?” kata ayah.

“Ya pengen tau aja yah. Abeng kan sebenarnya udah masuk usia menikah, jadi pengen aja tau pandangan ayah untuk masalah ini.”

“Ya nggak usah diburu-buru, nak. Nanti kalau udah ketemu sendiri, pasti ada. Ketemu yang pas. Bisa muncul di awal, bisa juga lama-lama baru ada. Nyetrum dia di hati. Nah itu.” katanya sambil keluar dari kamar gue.

Setelah pintu kamar tertutup, gue langsung memikirkan kata-kata ayah.

Kadang gitu ya? Hal-hal yang sebenarnya pengen kita tau, malah semakin nggak jelas ketika kita udah menanyakannya ke orang-orang.

Nyetrum? Definisi apaan coba itu?!

Masa gue harus merasakan listrik-listrik aneh ketika nanti ketemu dengan orang yang tepat? Geter-geter sendiri setiap kali gue jatuh cinta?

Hhhhhh..seandainya definisinya bisa sedikit lebih jelas.

Lamunan gue sedikit tersadar dengan adanya telfon yang masuk. Layar handphone yang awalnya gelap langsung berwarna dengan  sebuah nama yang selama ini memang sering muncul di sana.

“Halo.. lagi ngapain kamu?”

“Ya, lagi tidur-tiduran aja. Nggak bisa kemana-mana, kan?” kata gue.

“Oh kirain udah sembuh. Haha..” katanya ngasal.

“Kamu di mana?”

“Baru pulang nih, trus tiba-tiba kangen.”

“Hehehe.. iya sama.”

Seperti biasanya, percakapan itu berlangsung lama. Hampir satu jam berlalu ketika pembicaraan kami mereda. Dan ntah kenapa, muncul sesuatu yang aneh setiap kali gue menyudahi pembicaraan.

Sesuatu rasa nyaman yang familiar. Sesuatu yang dulu pernah gue rasain.

Apakah ini yang mungkin dibilang ayah tadi.

Nyetrum?