Pernah gak kalian mengalami satu hal kecil yang tiba-tiba menjadi turning point hidup kalian?

Suatu titik dimana hidup kalian berubah menjadi sangat berbeda dari sebelumnya. Kalau jawabannya pernah, mungkin kita tidak terlalu jauh berbeda.

Oke, kita mulai dari awal.

Hari minggu kemarin gue dateng ke acara Kumpul Penulis dan Pembaca 2013 yang dibikin oleh Gagas Media dan Bukune, nama-nama besar dalam industri penerbitan di Indonesia.

Acara ini diwarnai dengan beberapa kegiatan. Mulai dari penjualan buku, launching buku, penjualan souvenir, lowongan untuk bekerja di Gagas hingga tempat untuk para penulis pemula memasukkan karya mereka.

Mimpi para penulis

 

Sebenarnya gue adalah pengunjung gelap, karena awalnya gue sama sekali gak berniat menghadiri acara ini. Gue cuma ingin ketemu dengan salah satu editor Gagas untuk sebuah urusan pribadi.

Setelah urusan gue selesai, ternyata ada satu sesi talkshow yang dibikin Gagas untuk para pengunjung acara ini. Tema talkshownya adalah battle antara penulis komedi fiksi dan komedi non fiksi.

Pembicaranya juga gak sembarangan. Nama-nama tenar dalam dunia penulisan seperti dr Ferdiriva Hamzah (penulis Cado Cado), Alitt Susanto (penulis Shitlicious), Ryandi Rachman (@kundilisme), Teppy (yang baru aja nerbitin buku) dan yang terakhir Adhitya Mulya (Penulis Jomblo, Gege Mengejar Cinta, Traveler’s Tale dll)

Karena tema yang diangkat dalam talkshow kali ini terasa dekat dengan gaya penulisan gue, akhirnya gue memilih untuk nyempil di kursi paling belakang dan mendengarkan mereka sampai sampe habis.

Semua tips dan trik menulis komedi dijabarkan berdasarkan pengalaman para penulis ini. Beberapa saran keluar dari mereka untuk melancarkan ide-ide kreatif bagi penulis-penulis pemula macam gue.

Mulai dari Adhitya Mulya yang menyarankan membuat sinopsis dan matriks penokohan agar menulis lebih terstruktur. Alitt yang menyarankan agar mencari tempat sepi agar bisa konsentrasi menulis (Oke, next time gue untuk menulis di kuburan belanda), hingga Ferdiriva yang menyarankan untuk berolahraga sebelum menulis. Karena katanya, olahraga bisa melepaskan hormon endorphin yang membuat kita lebih cerita.

Tampaknya saran ini berhasil buat gue setelah postingan BajakJKT kemaren.

Di sesi tanya jawab akhirnya gue memberanikan diri untuk bertanya. Pertanyaan gue khusus ditujukan untuk Adhitya Mulya. Intinya pertanyaan gue kayak gini.

“Di jaman sekarang, kan muncul trend dimana seorang dengan follower twitter yang berjumlah banyak tiba-tiba menerbitkan buku. Gue pribadi gak masalah dengan hal itu. Tapi gimana seorang Adhitya Mulya bisa menjual Jomblo menjadi national best seller, dibikin filmnya, dibikin sinetronnya di masa twitter belum booming

Dan Adhitya Mulya memberikan jawaban yang paling tepat yang bisa diberikan seorang penulis.

“Sebuah cerita itu bisa dijual ketika yang membacanya bisa me-relate ke cerita itu. Jomblo bisa laku tanpa bantuan twitter, karena semua orang bisa ngerasa nyambung dengan ceritanya. Semua orang pernah ngerasa jadi jomblo ngenes. Yang sekarang jomblo atau yang sekarang punya pacar juga bisa merasakan rasanya jadi jomblo.”

“Nah, cari tema-tema seperti itu. Dan jujur, tema cerita seperti itu gak banyak.”

 

Gue cuma bisa mengangguk mendengarkan penjelasan Adhitya Mulya.

Itu adalah perasaan yang selalu ingin gue keluarkan dalam setiap tulisan gue. Gue selalu mencari cara agar perasaan yang gue tuangkan dalam sebuah tulisan bisa meraih para pembacanya.

Dan tiba-tiba gue ter-flashback ke masa dimana gue membaca Jomblo untuk pertama kalinya.

Novel yang gue beli dengan menyisihkan uang jajan bulanan gue. Novel Indonesia pertama yang selesai gue baca. Novel Indonesia pertama yang bikin gue ngakak dan pengen belajar menulis.

Novel pertama dan mungkin satu-satunya yang bisa bikin gue ngomong “Anjrit, ini gue banget nih!”

Ya, gue ngerasa Adhitya Mulya masuk ke dalam hidup gue dan menuliskannya sebagai sebuah novel.

Gue bukanlah Agus, cowok Sunda yang sedang bingung untuk selingkuh atau setia. Gue bukanlah Doni, jomblo playboy yang memilih kebebasan daripada sebuah keterikatan, dan gue bukan pula Bimo, mahasiswa jomblo yang gak punya pacar karena sibuk nyimeng.

Gue adalah Olip, mahasiswa dari Aceh yang jomblo karena gak pernah berani mengungkapkan perasaan. Fak men, bahkan daerah asalnya aja sama!

Sebagai mahasiswa dari Aceh yang kuliah di Bandung, dengan membaca novel Jomblo beberapa tahun yang lalu, gue merasa tertohok sekali. Gue merasa dekat sekali dengan cerita Olip. Mungkin juga orang lain juga merasa dekat dengan novel ini, dan itu yang membuatnya meledak di pasaran.

Semua orang pernah menjadi Agus, mungkin beberapa pernah merasakan menjadi Doni dan sebagian kecil lainnya menjadi Bimo.

Tapi yang pasti, gue pernah merasakan menjadi Olip.

Gue merasakan gimana ngomong dengan logat Sumatera, gimana susahnya mengumpulkan keberanian untuk berkenalan, merasakan bagaimana rasanya diabaikan.

Dan sejak membaca novel Jomblo, gue menjadi rutin membaca novel. Rutin belajar nulis hingga akhirnya punya blog kayak sekarang. Novel ini seolah mengubah cara pandang gue terhadap hidup, asmara sekaligus dunia tulis menulis.

Dan tahun ini, novel Jomblo ulang tahun yang ke sepuluh. Novel legendaris ini akhirnya cetak ulang demi memperingati ulang tahunnya. Dengan design yang lebih segar, novel ini muncul lagi di toko buku. Dan di acara Gagas kemaren gue membeli Jomblo dengan design yang baru (karena novel Jomblo gue yang lama entah hilang dipinjam siapa).

Dan kali ini, lengkap dengan tanda tangan penulisnya :)

There you go!

My favorite writer