Sejak resign dari EY dan pindah ke kantor yang sekarang, gue emang sering pulang tenggo. Dan karena lokasi kosan gue yang tepat di belakang kantor, gue gak membutuhkan waktu lama untuk pergi atau pulang dari kantor.

Gue pernah iseng menghitung sendiri, gak lebih dari sepuluh menit sejak gue menutup pintu kosan hingga akhirnya duduk dengan rupawan di cubicle gue.

Jadi, gue jarang sekali mengalami macetnya bubaran kantor sejak pindah kesini. Intinya, kosan gue memang deket banget dari kantor. Kepleset nyampe.

Dan sore itu berjalan normal seperti suatu sore seharusnya. Bumi berputar, matahari mulai berwarna kemerahan, burung-burung berkicau riang. Gue pun berjalan gontai menuju kosan setelah pulang dari kantor.

Kondisi jalan kecil di belakang kantor sore ini sedikit sepi. Tas laptop berukuran 14 inchi gue selempangkan di pundak. Beberapa kali gue membetulkan posisi tali tas yang terasa kencang menarik ke bawah. Entah kenapa sore ini bebannya terasa lebih berat dari biasanya, mungkin karena tambahan beberapa berkas yang terpaksa gue bawa pulang.

Seperti halnya malam yang tak sempurna tanpa bintang, sore itu pun rasanya belum terasa lengkap. Dan untuk melengkapi pemandangan sore itu, di depan gue ada seorang….bencong.

Ya, bencong. Waria, banci atau transgender. Apapun kalian menyebutnya.

Dia berjalan tepat di depan gue. Dress hitam ketat dan stocking berwarna hitam yang sudah bolong di beberapa bagian menjadi seragam kebangsaannya sore itu. Entah siapa namanya. Mungkin nama aslinya Yanto, kalo malam berubah jadi Yanti.  Entahlah.

Sambil berlenggak lenggok layaknya model jalanan, dia membawa sebuah sound system kecil berwarna hitam yang digantungkan di bahunya. Kotak kecil itu bersuara lantang, meneriakkan lagu-lagu Mulan Jameela yang sempat hits beberapa waktu yang lalu.

“Lelaki, buaya darat. Buset, aku tertipu lagi.” suara Mulan Jameela keluar dari kotak hitam itu.

Ini sih bukan buaya darat, tapi buaya siluman!

Dengan menggunakan peralatan sederhana itu, dia berkeliling ke perumahan warga untuk sekedar mencari recehan penyambung hidup

Beberapa kali dia membetulkan posisi stockingnya yang mungkin nyelip diantara lipatan paha. Dengan santai, dia menggaruk garuk selangkangannya dari belakang yang mungkin terasa sedikit gatal.

Dan karena berjalan tepat di belakangnya, gue menjadi korban yang harus menyaksikan azab ini.

Bukan apa-apa, gue gak takut ama bencong. Gue hanya agak sedikit risih dengan bencong. Geli gitu. Sering kali ketika berhadapan dengan bencong atau transgender, gue bingung mau manggil apa. Mas? Mbak? Atau biar aman panggil Mbas?

Jadi ketika berhadapan dengan bencong, sebisa mungkin gue akan menghindar.

Dan ketika dia berada tepat di depan gang untuk masuk ke kosan gue, dalam hati gue berkata

Please, lurus. Lo lurus.. lo harus lurus!” gumam gue dalam hati.

Dia diam berhenti sejenak, tampak ragu antara lurus atau belok. Dan ternyata dia malah belok ke gang yang sama dengan gue.

“Lelaki buaya darat, aku tertipu lagi!”

Dan ketika dia berada tepat di depan pagar kosan, gue kembali bergumam.

“Ayo lurus, jangan berhenti di kosan gue. Jangan berhenti disana. Gue mau masuk. Please..”

Tapi Tuhan berkehendak lain kawan. Tuhan ingin bercanda dengan gue sore itu. Mbas itu berhenti tepat di pintu pagar kosan gue sambil melongok ke dalam. Dia memutar kenop hitam di sound system nya sehingga suara yang dikeluarkan semakin keras.

“LELAKI BUAYA DARAT, BUSET! AKU TERTIPU LAGI”

DIAAAAM!! ARRRGGHH!!

Dan dengan menetapkan hati dan pikiran, gue akhirnya melangkahkan kaki menyusul. Mau gak mau gue harus pulang ke kosan meskipun dia sedang berada tepat di depan pintu pagar kosan gue.

Dengan memantapkan niat, gue menarik napas agar bisa kuat menghadapi cobaan ini.

Dan ketika tepat memasuki pagar yang terhalang oleh badannya. Gue pun berkata..

“Anu..permisi Mas, eh Mbak..eh Mbas”

Dia pun tampak kaget dengan kedatangan gue dari belakang. Untuk menutupi rasa kagetnya, dia berusaha untuk berbasa basi. Dengan muka yang dibuat unyu dan suara manja yang dibuat-buat dia berkata..

“Eh Akang, baru pulang?”

AKAAAANGG? FAAAAAAKKK?

Oh God why..

Oh God why..

 

Rasanya kuping gue langsung berdarah mendengar kata itu. Gue jarang dipanggil akang, sekalinya dipanggil akang kenapa ama yang beginian?! Dan gaya nanyanya itu lho? Seolah dia istri gue yang menyambut gue pulang kerja.

“Akang baru pulang?” | “Iya neng, bikin teh manis sana ama gorengan.”

Gue pun hanya tersenyum kecut dan lanjut berjalan masuk menuju tangga ke kamar gue. Sayup sayup terdengar suara Mulan Jameela yang masih saja tertipu entah ke berapa kalinya.

“Lelaki buaya darat, Buset, aku tertipu lagi!”

Iya mbak Mulan, saya juga merasa tertipu.