Ini adalah tulisan teman gue Ridha Novrizal, seorang engineer di PT MRT yang belakangan beritanya menguasai deadline koran-koran ibukota. Tulisan ini merupakan bentuk kegelisahannya terhadap masalah yang berlarut-larut.

Mencoba memberikan gambaran sederhana dengan analogi yang sederhana pula, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah pemikiran dari orang dalam.

Dia cuma mengirimkan tulisan ini ke beberapa teman dekatnya, tapi gue rasa tulisan ini layak untuk disebarkan lebih luas.

 

MRT Jakarta, nasibmu kini…

Perkembangan proyek MRT Jakarta saat ini sangat mengkhawatirkan. Proyek yang sudah dirancang sejak 1986, yang kemudian  sempat terhenti di tahun 1998 akibat krisis ekonomi dan krisis politik di Indonesia, telah dimulai lagi sejak 2005. Hari ini, tanggal 29 November 2012, pukul 08.26. keberlangsungan proyek kembali buram akibat (lagi-lagi) perubahan situasi politik dengan terpilihnya Gubernur baru , disaat pelaksanaan fisik akan segera dimulai.

MRT Jakarta, nasibmu kini..

Teman-teman gue banyak yang bertanya mengenai jadi tidaknya keberjalanan proyek ini, sebagian menyatakan proyek seharusnya dilanjutkan, sebagian lainnya beranggapan memang perencanaannya tidak matang.

Well, pro kontra normal terjadi, namun gue merasa setiap komentar yang dikeluarkan seharusnya didasarkan kepada pengetahuan yang memadai pula.

Gue akan mencoba menceritakan kondisi yang sedang terjadi, dan untuk memudahkan pemahaman (karena tidak semua orang mengerti dengan proses konstruksi), gue akan menceritakannya dengan sebuah analogi.

Di suatu desa tinggallah sebuah keluarga yang bahagia. Keluarga ini terdiri dari 1 Bapak, 1 Ibu, dan 9 anaknya. Keluarga ini termasuk terpandang di desanya, karena kuat secara ekonomi, dan mempunyai bisnis di banyak tempat.

Suatu ketika disaat sedang menyeruput kopi di halaman belakang, si Bapak dan anak pertama terlibat dalam perbincangan serius. Tercetus ide untuk membangun suatu pondok pasantren. Si Bapak melihat bahwa banyak anak-anak di desanya yang tidak memahami ilmu agama.

Mereka mengangguk setuju terhadap ide tersebut. Mulailah si Bapak dan anak pertama menyusun rencana pembangunan pondok pasantren ini. Pikiran pertama adalah bagaimana membiayai pembangunan ini.

Si Bapak saat ini tidak mampu membiayai dengan dana tabungannya, hal ini kemudian didiskusikan dengan anak pertama, akhirnya mereka setuju mencari pinjaman, karena tidak ada warga desa yang mampu  meminjamkan, akhirnya mereka mencari pinjaman itu ke Jepang.

Dilandasi niat baik, si Bapak mengatakan kepada anaknya bahwa si anak hanya berkewajiban membayar 58% dari pinjaman, sisa 42% adalah hadiah dari si Bapak. Terhadap tawaran ini, si anak tersenyum gembira.

Dibuatlah kesepakatan antara si Bapak dengan Investor dari Jepang, dengan persyaratan tertentu. Si Investor bersedia mendanai dengan beberapa persyaratan, salah satunya adalah 30% material untuk kebutuhan pembangunan pasantren akan disupply oleh perusahaan milik Investor.

Sebagai imbalannya, Investor membebankan bunga yang sangat rendah kepada si Bapak. Kesepakatan ini menjadi mengikat ketika kedua pihak membubuhkan tandatangannya di surat perjanjian. Si Bapak pun mulai melakukan studi di petak tanah miliknya yang mana pondok pasantren tersebut akan dibangun, dia meminta bantuan Investor tersebut untuk turut membantu.

Apakah di bagian perbatasan dengan desa lainnya, atau malah di tengah-tengah desa. Setelah melihat untung rugi dari setiap alternatif, si Bapak memutuskan untuk membangunnya di tengah desa, dengan pertimbangan anak-anak di desa tersebut lebih banyak, dan berhak mendapat  prioritas. Design gedung pasantren pun mulai direncanakan, berbagai ide muncul.

Apakah akan membangun gedung tersebut 10 tingkat, atau lebih canggih lagi semuanya adalah basement yang lebih modern, namun lebih mahal.

Si Bapak dan anak pertama berdiskusi, diputuskanlah bahwa cukup 4 lantai basement, dan 6 lantai di atas permukaan tanah. Mereka berpendapat bahwa ruangan – ruangan yang membutuhkan privacy cukup 4 lantai, dan sisa 6 lantainya untuk ruang inap santri tidak bermasalah dibangun keatas. Apalagi, yang utama fungsinya adalah tersedianya ruang belajar yang baik.

Setelah ide cukup matang, si Bapak menyerahkan pelaksanaan sepenuhnya kepada anak pertama, dan dia sendiri hanya mengawasi. Si anak pertama merasa untuk melaksanakan pembangunan ini, akan lebih baik jika adiknya (anak ke 9) yang mengerjakan karena dia merupakan seorang.

Insinyur si anak pertama juga meminta si anak ke 9 untuk mengoperasikan pasantren nantinya ketika sudah jadi. Si anak pertama memahami bahwa untuk kebutuhan operasi pasantren, tidak akan cukup hanya bila mengandalkan uang sekolah dari para santri, diapun mengatakan kepada adiknya bahwa dia akan membantu memberikan dana tahunan untuk operasi pasantren

“Dik, nanti setelah pesantren ini jadi, kamu bertanggung jawab terhadap operasionalnya. aku memahami kamu tidak akan mampu membiayai seluruh operasionalnya nanti, untuk itu aku akan memberikan kamu dana untuk menutupi kekurangan dana operasi setiap tahunnya.”

“Tenang saja Dik, duit ini bukan murnidari tabungan keluarga kita, akibat dari pasantrenmu, aku yakin kawasan di sekitar pasantren akan ramai, aku akan membuka warung – warung makan, lapangan futsal, dan lainnya. Pemasukan dari situ sebagian akan kuberikan padamu untuk menutupi biaya operasional pasantren”.

Si anak ke 9 pun mulai mencari tukang untuk membangun pasantren sesuai permintaan anakpertama, dan dia terus melaporkan progressnya ke anak pertama. Di tengah – tengah masapersiapan, si anak pertama tidak lagi dapat terlibat dalam pembangunan Pasantren ini.

Tanggung jawab pembangunan pasantren ini pun jatuh kepada anak ke 2. Si anak ke 2 baru datang dari desa tetangga. Sudah lama dia menetap disana.

Ketika dia mengetahui rencana pembangunan pasantren ini, dia tampak kurang setuju. Beberapa pertanyaannya kepada anak ke 9:

  1. Untuk apa kamu membangun pasantren ini? sepertinya tidak akan terlalu berguna. Aku tidak yakin bisnis ini akan menguntungkan, aku takut akan membebani keuangan keluarga. Lagipula lebih baik mengembangkan sekolah – sekolah yang telah ada saat ini.
  2. Aku juga merasa membangun pasantren ini di tengah desa kurang tepat, aku melihat perkembangan saat ini bahwa anak- anak dari desa tetanggalah yang lebih membutuhkan pasantren ini.  Harusnya, pasantren ini dibangun di pinggiran desa.
  3. Empat lantai basement juga kurang baik, seharusnya semuanya dibangun basement. Bangunan 6lantai ke atas akan mengganggu cahaya matahari pagi. Apalagi sebagian warga khawatirantri akan membuat kegaduhan pagi – pagi yang mengganggu ketentraman warga sekitar.Kebutuhan dana yang lebih besar untuk hal ini tidak masalah, sumber dana dapat dicari lagi.
  4. Mengapa dulu kamu meminjam dana dari Investor Jepang? Kenapa tidak menggunakan tabungan keluarga? Bukannya sekarang tabungan keluarga kita cukup?
  5. Kalau memang akan memberatkan tabungan kita, kenapa minjamnya harus dari Investor Jepang? Kenapa tidak dari Investor lainnya? Kenapa menerima syarat minimal 30% barang mereka?

Anak ke – 9 bingung menghadapi pertanyaan anak ke 2, dia pun berusaha menjawab sepengetahuan yang dia punya. Namun, sampai saat ini jawaban – jawaban anak ke 9 tidak pernah memuaskan anak ke 2, yang membuat pembangunan pasantren menjadi tidak jelas nasibnya.

Sang Bapak yang dulu merencakan, sudah terbaring lemah di Rumah Sakit, dan sang anak pertama sudah diabaikan oleh anak kedua.

Apa hubungan cerita diatas dengan proyek MRT?. Sang Bapak adalah Pemerintah Pusat (Dalam hal ini Kementerian Perhubungan), Anak Pertama adalah Gubernur DKI Jakarta sebelum tahun 2012, anak ke 2 Gubernur DKI Jakarta 2012 -2017, dan ya, PT MRT Jakarta adalah anak ke 9. Siapa disini yang salah?

Tidak ada.

Sang Bapak dan anak pertama punya rencana yang bagus. Anak ke 2? Tidak ada yang salah dengan ide – idenya, malah mungkin lebih baik. Yang dibutuhkan adalah kebesaran hati anak ke 2 untuk menerima pemikiran – pemikiran Bapak dan Kakaknya dulu, yang telah memutuskan dengan pertimbangannya saat itu.

Anak ke -2 harus menyadari, bahwa jika dia mengubah ide Bapak dan Kakaknya, tidak ada jaminan dia masih terlibat dalam pembangunan tersebut kedepannya. Tongkat tanggung jawab bisa berganti kapan saja, dan jika ini terjadi, kemungkinan bergantinya ide bisa kembali terjadi.

Yang paling dirugikan adalah anak – anak calon santri di desa tersebut, baik yang di tengah maupun pinggiran desa, karena satu idepun tidak akan pernah terealisasi. Jika MRT seluruhnya ingin dibangun underground, dari sisi tata kota (lagi – lagi gue bukan ahlinya) mungkin akan lebih baik.

Tentu saja gue terpaksa mengabaikan masalah teknis, yang sebagian orang seperti menganggap mudah hal ini, dengan argument diluar negeri saja hal tersebut bisa dikerjakan. Tapi teman, pernahkah anda membayangkan ini adalah proyek dengan teknologi baru buat Indonesia?

Yang bahkan ahli Indonesianya saja belum ada?

Perubahan menjadi seluruhnya underground juga akan membuat terjadinya keterlambatan sekitar 4 tahun. Kenapa 4 tahun? Rincian kasarnya adalah sebagai berikut:

Proses persiapan (pemilihan sumber dana, dll) menghabiskan waktu 3-8 Bulan, Proses memilih Konsultan untuk design 8 Bulan, design oleh Konsultan terpilih 14 Bulan, dan pelaksanaan lelang pemilihan Kontraktor sekitar 15 Bulan (angka – angka ini bukan karangan gue, tapi bisa diliat di procurement guideline, dalam hal Proyek MRT adalah JICA guideline).

Jika rute MRT ingin diubah, memangnya tidak butuh studi yang digunakan sebagai landasan?  Studi yang menyatakan bahwa rute baru memang lebih layak. Tentunya tidak dengan asumsi – asumsi, tapi data valid hasil survey. Keterlambatan tentu akan terjadi lebih lama dari 4 tahun. MRT Lebak Bulus – Bunderan HI yang sangat pendek ini mungkin tidak mengurai kemacetan sampai tuntas.

Tapi kalau tidak memulai dan menyicil, kita tidak akan pernah bisa menguraikannya. Ya, tidak akan pernah.

Transportasi umum yang nyaman tentu kita semua idamkan, sudah saatnya pikiran “menggunakan kendaraan umum lebih baik daripada kendaraan pribadi” kita terapkan. Gue khawatir sebagian warga kontra yang mendominasi headlines, mengalahkan keinginan dan kebutuhan keseluruhan warga Jakarta sebenarnya.

Tentunya, kompensasi yang layak harus diberikan untuk mereka yang lebih banyak berkorban akibat wilayahnya terkena dampak pembangunan.

Sekarang, atau mungkin lama sekali kita akan melihat MRT di Jakarta.

Jakarta, 29 November 2012, Pukul 14.17.

Ridha Novrizal