Akhir-akhir ini, gue baru menyadari suatu hal. There’s a thing between girls and guys with ‘brewok’. It seems that chicks dig beard and other facial hair.

Hampir semua cewek yang gue kenal menyukai cowok berewokan. Cowok berewokan yang gue maksud disini adalah cowok berewokan yang ganteng, bukan Surya Paloh.

Cowok berewokan selalu saja menjadi idola cewek-cewek di luar sana. Liat saja Omar Borkan Al Gala atau Adam Levine yang digandrungi kaum hawa karena memiliki jenggot yang bisa membuat wanita menjadi becek.

Hal ini menarik minat gue untuk sedikit melakukan riset mengenai hal ini.

Sejak ratusan tahun yang lalu, jenggot memang telah identik dengan tanda kebijakan atau kedewasaan. Lihat saya patung filsuf-filsuf Yunani yang memang selalu saja dilengkapi oleh jenggot yang lebat.

Bahkan untuk agama Islam, kaum pria disarankan untuk menumbuhkan jenggot.

Ini menjadi masalah buat gue yang tampaknya tidak dikaruniai oleh gen yang cukup untuk menumbuhkan facial hair apapun. Ketika gue ingin menumbuhkan kumis, hanya bulu-bulu tipis yang muncul di atas ujung bibir.

Beberapa teman gue menyarankan untuk rutin mencukurnya agar tumbuh lebat, sedangkan beberapa yang lain menyarankan menggunakan minyak khusus yang melebatkan jenggot seperti minyak Firdaus. Tapi sejauh ini gue belum pernah melakukannya. Hanya kumis tipis yang selalu muncul dan jenggot yang tumbuh tidak beraturan setiap kali gue nggak cukuran.

Alih-alih membuat gue terlihat seperti Adam Levine, kumis tipis malah membuat gue terlihat seperti ikan lele. Menumbuhkan jenggot buat gue juga demikian, hanya sejumput tipis yang tumbuh dibawah dagu, membuat gue seperti kambing.

Karena alasan-alasan biologis seperti itulah, gue nggak pernah menumbuhkan jenggot atau kumis untuk waktu yang lam. Rambut-rambut yang tumbuh di muka gue selalu gue cukur habis dalam 2-3 hari.

Tapi sekitar sebulan yang lalu, gue menemukan sebuah fenomena aneh yang beredar di internet yang bernama Movember (Moustache November) atau No Shave November. Kalian bisa baca info nya lebih lanjut di sini.

Dari info yang gue baca di Wikipedia, kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan selama bulan November untuk meningkatkan kesadaraan atas penyakit-penyakit kaum pria seperti kanker prostat dan isu-isu kesehatan pria lainnya.

Biasanya, acara ini akan dilengkapi dengan fund raising untuk penyakit-penyakit tersebut. Tapi karena dengungnya di Indonesia belum terlalu kencang, maka gue memutuskan untuk ikut gerakan memanjangkan jenggotnya saja. Sekalian untuk menguji seberapa lebatnya facial hair gue bisa tumbuh dalam sebulan.

Awalnya gue sempat ragu karena takut terbentur peraturan kantor. Tapi setelah bertanya kiri kanan, ternyata tidak ada peraturan kantor yang gue langgar untuk memanjangkan kumis dan jenggot.

So be it! Sebulan tanpa cukuran!

Selama bulan November kemarin, gue sama sekali tidak menyentuh pisau cukur ke wajah gue. Sehabis mandi, gue langsung mengelap muka saja. Membiarkan rambut-rambut itu tumbuh secara liar dan tidak terkendali.

Berikut highlight pertumbuhan jenggot gue dalam satu bulan.

Minggu pertama : Kumis dan jenggot mulai terlihat tumbuh. Semuanya masih tumbuh dalam tahap wajar. Impian menjadi kloningan Adam Levine semakin dekat.

Minggu kedua : Kumis dibagian ujung bibir mulai tumbuh lebih panjang dari kumis di bagian tengah. Membuatnya lebih jelas terlihat daripada saudara-saudaranya di bagian tengah. Panjang sedikit lagi, gue akan seperti kaisar Cina.

Minggu ketiga : Kumis bagian ujung sudah resmi memberontak untuk tumbuh lebih panjang. Gue mulai terlihat seperti engkoh-engkoh. Gue berniat mulai membeli singlet dan buka konter hape. Jenggot mulai tumbuh panjang tapi tidak lebat. Hanya panjang dan keriting.

Gue sempet memposting foto gue di Path dan komentar-komentar yang masuk sungguh menyemangati.

“Gitu doang Ta? Gue mah segitu cuma tiga hari.”

“Udah Tir, brewok emang bukan buat lo!”

“Itu jenggot apa jembut yang pindah ke dagu Ta?”

Sungguh teman-teman yang sangat suportif.

image

 

Minggu ke empat : kumis tipis sudah tumbuh memajang. Jenggot keriting hanya menimbulkan rasa gatal. Kini, kalau gue nongkrong di SD, gue sungguh terlihat seperti seorang pedofil yang mencari mangsa.

Sebulan memanjangkan facial hair ternyata nggak cocok buat gue. Rasa gatal yang gue dapatkan benar-benar menganggu keseharian dan aktivitas gue. Kumis tipis yang tumbuh dipinggir bibir seolah minta digaruk setiap saat, membuat gue merabanya secara tidak sadar setiap hari.

Gerakan ini otomatis membuat gue seperti sedang memikirkan sesuatu. Apapun terlihat serius ketika sedang mengusap kumis dan jenggot, padahal gue lagi bingung mau mesan estea atau teh botol di kantin kantor. Gue terlihat seperti filsuf Yunani yang sedang bingung mau minum apa. Kini gue mengerti kenapa filsuf Yunani itu berjenggot semua. Gerakan mengusap kumis dan jenggot memang menimbulkan kesan bijaksana.

Gue kira kegiatan memanjangkan jenggot dan kumis gue ini sia-sia hingga seorang teman wanita di kantor bertanya :

“Lo kenapa berewokan gitu sih Ta?”

“Oh, ini lagi ikutan Movember.”

“Apaan tuh?”

“Itu kegiatan memanjangkan facial hair untuk menyebarkan kesadaran akan bahaya kesehatan kaum pria”

“Hahaha, emang berhasil?”

“Lah, lo ini nanya gue dan gue kasi tau. At least ada tambahan satu orang yang tau kan sekarang?”

“Oia, bener juga lo!”

Dan begitulah, Movember berhasil membuat gue ikut menyebarkan kesadaran akan bahaya dan isu-isu kesehatan kaum pria. Kegiatan ini sukses membuat gue terlihat seperti kaisar Cina dan membuat gue sadar akan satu hal :

Facial hair is not for everyone.

PhotoGrid_1417245177663