Beberapa waktu yang lalu, adek gue bertanya ke gue sepulang sekolah.

“Bang, keefsi digoreng pake minyak babi ya?”

“Hah? Kata siapa?”

“Kata guru di sekolah”

“Nggak ah kayaknya. Nggak mungkin pake minyak babi. Kalau iya, pasti udah heboh se-Indonesia.” kata gue.

Dan beberapa minggu yang lalu, gue juga nanya ke sepupu gue.

“Eh, di sini udah ada JCo belum sih?”

Sejak merantau gue memang kurang mengikuti perkembangan kampung halaman gue ini. Dan setelah 12 tahun merantau, baru kali ini gue menetap cukup lama di rumah. Biasanya gue cuma pulang beberapa hari untuk mudik.

“Udah kok! Tapi emangnya mau beli?” jawab sepupu gue.

“Emang nya kenapa? Lagi pengen makan donat nih.”

“Kan pake minyak babi tuh!”

Gue mengernyit heran. Kenapa semua makanan enak harus dibilang mengandung minyak babi? Apa karena mereka nggak pernah ngerasain babi, sehingga setiap makanan yang enak harus dibilang mengandung babi?

Apa salah babi sehingga dikambinghitamkan untuk setiap makanan enak? Apa babi ini seorang chef kok bisa bikin makanan enak?

Gue memendam rasa heran ini hingga beberapa hari yang lalu gue melihat keponakan gue bertanya kepada ayahnya.

“Yah, pengen keefsi dong.” pinta keponakan gue yang masih berumur 5 tahun.

“Jangan, gak boleh. Digoreng pake minyak babi tuh!”

Gue cuma tersenyum melihat kejadian itu. Misteri minyak babi terjawab sudah.

Gue tau apa yang terjadi. Si ayah melarang bukan karena keefsi mengandung minyak babi,  tapi si ayah melarang karena dia tidak punya uang.

Gue tau kondisi keuangan keluarga gue. Beberapa memang masih dalam kondisi kekurangan, sehingga untuk membeli sepaket junk food saja terasa mewah. Keluarga besar gue memang masih menganggap restoran cepat saji sebagai makanan mewah yang tidak bisa dimakan setiap saat.

Dan sepertinya, untuk menjelaskan kepada seorang anak berusia 5 tahun, minyak babi lebih mudah digunakan daripada menjelaskan kenapa ayahnya tidak punya uang.

Hal ini tentu saja membuat gue berpikir, di propinsi se-konservatif kampung gue, agama memang sering menjadi jawaban untuk segala hal. Agama akan selalu menang ketika diadu dengan apapun. Termasuk logika.

Agama menjadi jalan pintas ketika seseorang malas mencari jawaban.

Gue masih mengingat momen-momen ‘minyak babi’ di masa kecil gue. Dan memang, jawaban itu cukup ampuh membuat kita terdiam.

Fenomena ini tentu saja membuat gue berpikir, apa penyebab hal ini?

Gue pernah miskin dan hingga saat ini masih menganggap kalau kemiskinan adalah hal yang paling jahat di dunia ini. Gue pernah merasakan dimana uang menjadi batasan antara hidup bahagia atau tidak.

Jawabannya adalah kemiskinan dan kebodohan.

Kemiskinan membuat orang susah untuk berbuat baik. Ketika dia ingin berbuat baik, orang miskin butuh niat dan sumber daya. Sedangkan orang kaya, hanya butuh niat.

Ali Bin Abi Thalib pernah bilang kalau seandainya kemiskinan itu seorang manusia, maka dia akan membunuhnya.

Kemiskinan membatasi akses seseorang untuk meraih pendidikan yang lebih baik. Yang kita tau kalau pendidikan yang lebih baik akan membuka akses untuk kehidupan yang lebih baik.

Sehingga akan tercipta lingkaran setan kebodohan dan kemiskinan yang saling memakan ekor satu sama lain.

Dan kejadian ‘minyak babi’ tentu saja berlaku untuk hal-hal lain yang masih relevan jaman sekarang. Demo kawal sidang, demo tanggal ini, demo tanggal itu, menurut gue adalah salah satu contoh penggunaan fatwa ‘minyak babi’.

Kemiskinan dan kebodohan adalah akar dari semuanya. Lingkaran setan yang membuat orang menjadi malas untuk berpikir dan menggunakan akalnya.

Maka berpikirlah, raihlah pendidikan, keluarlah dari lingkaran kemiskinan, karena kalau tidak, di masa depan, akan banyak peristiwa ‘minyak babi’ lainnya.