Dua bulan terakhir ini, gue lagi disibukkan oleh les IELTS preparation di salah satu tempat les di Fatmawati.

Ini adalah les bahasa inggris gue sejak bertahun-tahun yang lalu.

Terakhir gue ikutan les bahasa inggris itu waktu gue kelas 1 SMA, yang mana sudah sekitar 2 tahun yang lalu. Kan umur gue sekarang masih 17 tahun.

Haha

Salah salah, itu sekitar 8 tahun yang lalu.

Oh wait? 8 tahun?? Damn, I’m old.

Di tempat les yang rata-rata dipenuhi oleh anak SMA atau bahkan SMP ini, membuat gue merasa seperti manusia purba.

Kadang saat menunggu kelas gue dimulai, gue menghabiskan waktu di ruang tunggu didepan resepsionis, tentu saja dengan tombak dan babi hutan hasil berburu gue sebelumnya.

Dan gue melamun disana sambil ditemani ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya, atau terkadang dikelilingi bocah SMP bau matahari yang sepertinya baru aja mimpi basah untuk pertama kalinya.

Tidak jarang gue juga dikelilingi cewe-cewe SMA yang baru aja tau gimana cara memakai beha yang baik dan benar.

Mau gak mau, gue nguping apa yang mereka omongin.

Percakapan mereka biasanya berkisar antara boyband atau girlband yang mana adalah topik yang sangat tidak gue pahami.

Ingin rasanya mengambil pentungan gue, dan memukul kepala mereka kemudian menyeret mereka ke dalam gua tempat gue tinggal.

Di hari terakhir gue les IELTS preparation kemarin, gue dan beberapa temen sekelas gue mumutuskan untuk mengadakan semacam acara ngumpul-ngumpul ganteng sebagai acara perpisahan kelas ini.

Satu diantara salah satu temen gue adalah seorang bule Perancis.

Namanya Zoe. Cewe bule ini umurnya baru 20 tahun. Cantik.

Dia tinggal di Jakarta bersama orangtuanya yang pindah kerja ke Indonesia.

Ayahnya seorang vulcanologist yang mempelajari gunung berapi di Indonesia?

Cool isn’t it?

Nah si Zoe ini adalah satu-satu nya bule dikelas gue. Dan kami banyak ngobrol tentang kebudayaan, agama, pendapat dan traveling experiences dari masing-masing.

Gue tau dia berniat mengambil tes IELTS buat salah satu syarat penunjang untuk masuk seleksi French Navi.

Ya, angkatan laut Perancis.

Disaat gue pengennya French Fries atau French Kiss, dia malah mau jadi French Navi. *kalah macho*

Sangat sedikit orang Perancis yang bisa bahasa Inggris. Bahkan si Zoe bilang, lebih banyak orang Indonesia yang bisa bahasa Inggris dari pada orang Perancis yang bisa berbahasa Inggris.

Jadi, dengan mengambil tes IELTS, dia berharap ini akan menjadi nilai tambah buat proses seleksinya.

Zoe ini bahasa Inggrisnya juga sama kayak gue. Pas-pasan.

Nah, kemaren malem kita banyak cerita-cerita sambil menceritakan pengalaman hidup masing-masing.

Dia cerita tentang betapa indahnya kota tempat dia dibesarkan di Toulouse, sebuah kota di barat daya Perancis.

Dia bahkan menunjukkan beberapa foto tentang kota itu.

Kastil-kastilnya, taman-taman indahnya, beberapa air mancur terkenalnya.

Dia juga cerita mengenai beberapa negara Eropa lainnya yang pernah dia kunjungi.

Inggris, Italia, Yunani, Belanda, Jerman

Gue ngiri setengah mampus.

Ga mau kalah, gue juga bercerita mengenai tempat-tempat yang sudah pernah gue kunjungi.

Aceh, Medan, Puncak, Garut, Bandung, Taman Safari dan Kebun Binatang Ragunan.

Jauh ya perbandingannya?

Tapi dia benar-benar mendengarkan.

Benar-benar tertarik.

Dan akhirnya dia minta gue buat mengajak dia ke Taman Safari di Puncak minggu depan.

Dan sebagai gantinya dia bilang.

“Tirta, tell me if you go to Europe someday. I’ll bring you around in France.” kata dia.

“Really?” tanya gue bersemangat.

“Yes, just let me know. If you’re somewhere in Europe. I’ll come to you” dia meyakinkan gue

“Deal?” tanya gue.

“Deal!”

 

 

Buat gue, ke Eropa saat ini cuma sebatas mimpi. Mimpi seorang anak daerah yang punya dahaga untuk melihat dunia.

Dan kini, gue gak tau bagaimana caranya.

Tapi suatu saat nanti, gue akan membuat Zoe untuk menepati janjinya ke gue.

Gue akan ke Eropa.

Menikmati pemandangan sore hari di Toulouse.

Sebuah kota di barat daya Perancis.

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. - Laskar Pelangi