Beberapa hari ini, gue lagi homesick.

Ya, untuk seorang perantauan, gue jarang banget homesick. Mungkin momen bulan puasa sekaligus menjelang lebaran kali ini membuat gue sedikit kangen rumah.

Semua berawal dari beberapa hari yang lalu, ketika sahur dalam kondisi demam sendirian dikosan, dengan cuma sepotong roti dan air mineral jadi menu sahur, membuat gue sangat kangen rumah.

Kebayang aja kalo masa-masa sahur di rumah itu adalah masa yang paling menyenangkan. Ga perlu ribet mikirin mau makan apa, ga perlu repot bangun lebih awal untuk nyari makanan, ga perlu menahan kantuk sambil nyari warteg yang masih buka. Ga usah mikirin itu semua.

Gue tinggal bangun, makan, shalat dan kemudian tidur lagi ampe siang.

Hidup ngga bisa lebih indah ketika puasa di rumah.

Dan hal ini diperparah dengan kejadian beberapa hari belakangan. Gue banyak cerita dengan seorang  teman yang mau merantau. Ga jauh sih, cuma dari Bandung mau kerja di Jakarta.

Tapi temen gue ini adalah tipikal orang Bandung, yang menurut gue, adalah orang-orang yang jarang merantau, orang yang males untuk keluar dari comfort zone mereka di Bandung.

Ngga salah juga sih, soalnya sejauh ini, Bandung adalah kota paling nyaman ditinggali buat gue. Udaranya sejuk, makanannya enak, mall juga banyak, wanita2nya cantik-cantik (ehm..).

Bahkan kata pandji, Bandung merupakan kota yang tepat untuk jatuh cinta.

And I can’t agree more.

Temen gue ini cerita, bagaimana sedihnya dia mau meninggalkan kota Bandung.

Gue maklum.

Mendengar cerita-cerita temen gue ini, mengingatkan gue ke masa-masa gue tamat SMA dan memutuskan untuk meninggalkan rumah dan kuliah sendiri di tanah Jawa.

Merantau.

Oke, mungkin kata diatas terdengar seperti gue akan berkelana dengan membawa buntelan kain yang gue sangkutkan dengan sebatang kayu dipundak gue. Tapi bagaimana pun bahasanya.

That was my turning point.

Tau kan, kondisi dimana kita harus memutuskan sesuatu yang mungkin akan mengubah masa depan kita selanjutnya? Kalo Farah Quinn bilang, this is it!!

Nah, peristiwa itu terjadi ama gue ketika gue memutuskan merantau kuliah ke Jawa.

Waktu itu pengumuman SPMB baru aja keluar, dan secara ajaib, gue diterima di salah satu PTN di Bandung.

Dan dengan diiringi sorak suka cita adek-adek gue karena bisa bebas dari jajahan gue selama ini, gue memutuskan untuk pergi merantau.

Hari-hari menjelang keberangkatan menjadi hari yang paling berat.

Gue mulai sedih untuk berpisah dengan hal-hal yang mungkin dianggap sepele. Gue mulai menciumi pintu rumah, pintu kamar, meja belajar, kangen-kangenan ama adek2 gue ( baca : minta dipijitin secara brutal dengan menggunakan perantauan sebagai alasan untuk memerintah)

And even worse, bokap gue adalah orang yang irit bicara.

Dan menjelang keberangkatan, ga ada wejangan-wejangan berarti yang keluar dari mulut beliau seperti yang gue harapkan.

Beliau cuma kalem.

Tapi, di malam sebelum keberangkatan, bokap ngajak ngobrol di meja makan. Ini yang gue inget dari percakapan malam itu.

Bokap : “bang, S1 itu standarnya berapa lama?” kata beliau kalem.

Gue : “ 4 tahun yah..”

Bokap : “ Yauda, ayah kasi bonus 1 tahun, kalau dalam 5 tahun ga lulus juga, semua biaya berhenti. Oke?”

Gue : “ siap yah!” (pasrah)

Meskipun simpel, itu menjadi barometer buat gue untuk segera menyelesaikan kuliah gue dalam waktu yang tepat dikemudian hari. Ga pake banyak cing cong, itu jadi satu bentuk jaminan dan kepercayaan serta amanah yang disematkan ke gue.

Dan di hari keberangkatan, bokap gue memutuskan untuk nganter ke bandara.

Di dalam mobil di perjalanan menuju bandara, bokap cuma nanya..

“ngga takut kan??”

Gue yang masih bocah cuma bisa menggeleng, padahal jantung gue udah mau copot. Antara deg-degan, excited, takut, ganteng (lho?), waspada karena belum pernah ke Jawa sendirian dan gembira menyambut petualangan-petualangan gue yang akan gue hadapi.

Dan dalam pesawat, ketika mesin garuda mulai menderu kencang dan roda ban pesawat mulai bergulir di runway bandara.

Hal itu menandai awal mula dibukanya lembaran baru buku kehidupan gue. Buku yang kedepannya akan terisi gambar-gambar kehidupan gue.

Dan ketika badan pesawat mulai mengangkasa, sambil melihat keluar jendela, cuma sebait lirik lagu Iwan Fals yang melintas di kepala gue.

“Engkau lelaki, kelak sendiri”

Dan itu, menjadi langkah awal gue dalam meniti masa depan.

 

Terbang tinggi