Well, masa kampanye sudah hampir berakhir, dan seperti lima tahun yang lalu gue kepengen nulis tentang pilihan politik gue tahun ini. (Baca di sini untuk tulisan gue lima tahun yang lalu).

Dengan kandidat yang sama seperti lima tahun yang lalu, sekarang pertanyaannya gue akan memilih siapa?

Dan sekali lagi, jawaban gue tetap sama: gue akan kembali memilih Jokowi.

Segitu fanatiknya ya, Ta ama Jokowi?

Nggak, gue juga nggak puas-puas banget ama pemerintahan periode pertama Jokowi. But let me explain:

Lima tahun pertama Jokowi itu harus diakui nggak bagus-bagus banget. Pertumbuhan ekonomi nggak sesuai target, gesekan antar golongan makin terasa, kasus HAM nggak terselesaikan. Dengan rapor lima tahun pertamanya, Jokowi layak banget untuk diganti.

Tetapi bukan oleh Prabowo.

Kita sama-sama tau kalau Prabowo nggak punya pengalaman memimpin pemerintahan. Jangankan jadi presiden, jadi walikota saja belum pernah.

Dengan kondisi demikian, harusnya Prabowo meyakinkan gue untuk memberikan dia kesempatan untuk memimpin bangsa ini. Tawarkan gagasan atau ide-ide bagaimana seandainya dia memimpin.

Sekarang, tolong kasi tau ke gue, apa program Prabowo yang lo tau? Apa program alternatif yang dia tawarkan sebagai oposisi?

Masa kampanye opisisi hanya dihiasi cita-cita yang tidak menginjak langit, kayak ngomongin ‘kedaulatan’, ‘pro rakyat kecil’, dan rasa yang membangkitkan nasionalisme semu. Hal-hal yang riil yang harusnya ‘menginjak tanah’ nggak pernah terdengar.

Dan percayalah, gue udah buka website Gerindra dan membaca visi misi mereka. Yang gue temukan cuma kata-kata mutiara tanpa ada langkah-langkah yang jelas. Semuanya terdengar seperti ‘simsalabim’ semua bisa kita lakukan.

Timnya lebih parah lagi, alih-alih mempromosikan program Prabowo, yang selalu mereka serang adalah Jokowi. Strategi yang tidak berubah dari tahun 2014.

Ada banyak sekali kritik ke pemerintahan Jokowi yang bisa dilakukan, tapi apa yang Fadli Zon dkk lakukan? Bikin lagu, memplesetkan potong bebek angsa, dll.

Sejelek-jeleknya Jokowi, program pembangungan infrastrukturnya jelas dan tidak terbantahkan. Hasilnya ada dan diakui oleh oposisi sekalipun. Sementara itu, kubu oposisi tidak menawarkan solusi alternatif apapun. Semua kritik atas utang akan menguap setiap kali Sri Mulyani sudah tampil ke publik untuk menjelaskan.

Karena ya, memang tidak ada ‘lawan’ yang sebanding.

Lalu, ada paradox yang gue dengar dari kubu oposisi.

Kritik harga-harga barang meningkat, tapi dalam lima tahun terakhir inflasi rata-rata 3-4%.

Kritik tentang kondisi ekonomi yang semakin sulit, tapi kenapa Prabowo dan Sandiaga Uno makin kaya dalam beberapa tahun terakhir?

Kritik tentang kekayaan negara yang bocor ke luar negeri, tetapi kenapa nama mereka muncul di Panama Papers?

Help me to understand that.

Minimnya gagasan dan ide yang ditawarkan oposisi inilah yang membuat gue enggan untuk memilih Prabowo.

Yang kedua, semua hal yang gue nggak suka dalam sebuah pemerintahan ada di kubu Prabowo.

Ormas garis keras, kaum konservatif, orde baru, politisi yang nggak keliatan kerjanya, you name it!

Gue dari dulu punya prinsip, apapun yang membuat Indonesia selangkah lebih dekat untuk menyerupai negara Timur Tengah, akan gue lawan. Gue nggak mau memberikan kekuasaan kepada orang-orang tersebut. Kita terlalu berwarna untuk dijadikan seragam.

Gue nggak pernah fanatis karena seseorang, dan gue mengklaim diri gue sebagai pemilih yang rasional. Gue awalnya malah pengen memilih Prabowo pemilu kali ini. Tapi makin kesini, melihat cara kampanye dan program yang mereka tawarkan, pilihan itu harus gue ubah.

Gue kembali melihat ke belakang, hasil kerja Jokowi, kekurangannya selama lima tahun ke belakang dan membandingkannya dengan program yang ditawarkan Prabowo (kalau ada).

Karena pemilu kali ini hanya terdapat dua kandidat, maka sekali lagi gue akan memilih Jokowi. Kandidat yang, menurut gue, lebih baik dari kandidat yang satunya.

Kalau lo?