Sudah cukup lama sejak gue terakhir kali menulis pandangan politik gue di blog ini. Dan dengan semakin mendekatnya hari pemilihan presiden, sepertinya wajib buat gue untuk membagi pandangan politik gue kali ini.

Dan entah sudah berapa kali orang bertanya kepada gue : “Ta, milih siapa?”

Gue dengan mantap akan menjawab : “Jokowi JK.”

Pertanyaan berikutnya akan muncul : “Kenapa?”

Dan gue akan memberikan jawaban pribadi : “Simply karena ada JK”

Ya, Jusuf Kalla adalah salah satu tokoh nasional favorit gue. Dia adalah orang yang benar-benar bekerja. Hampir semua orang Aceh tau bagaimana kinerja JK bagi Aceh sewaktu dia menjabat sebagai wakil presiden dulu.

Pengaruhnya pada waktu tsunami dan proses perdamaian di Aceh sungguh besar. Belum lagi ide-ide JK selama menjabat. Yang paling gue ingat adalah konversi minyak tanah ke gas. Semua itu adalah buah pikiran JK. Meskipun semua keberhasilan itu diklaim oleh pemerintahan SBY (yaa, gak salah juga karena SBY presidennya), gue tau siapa sebenarnya yang bekerja.

Hingga waktu JK menjabat sebagai wakil presiden, banyak sekali orang yang menjulukinya “The real president.”

Bahkan karena begitu dominannya JK di istana, hal ini membuat SBY tidak lagi memintanya untuk menjadi wakil di periode kedua. Entahlah. Padahal, masa pemerintahan SBY-JK adalah pertama kalinya gue merasa optimis ama pemerintahan Indonesia.

Puncaknya, ketika JK dan istrinya mendapat gelar kehormatan dari masyarakat Aceh. Tidak SBY, tapi JK.

JK mungkin tidak 100% bersih. But one thing for sure, he gets things done.

Oke. Itu alasan gue.

Tapi kembali lagi, bagaimana seandainya gue gak suka JK? Apa yang terjadi? Siapa yang akan gue pilih? Jokowi atau Prabowo?

Sebenarnya, memilih antara Jokowi dan Prabowo bukanlah hal yang sulit. Sama sekali tidak sulit.

Lupakan semua kampanye hitam atau kampanye negatif yang bermunculan. Lupakan sejenak isu-isu kemanusiaan dan penculikan yang masih sering dijadikan untuk menjegal Prabowo. Buang sementara kasus-kasus korupsi yang menjerat kader masing-masing partai pendukung.

Kita pilih hanya berdasarkan fakta-fakta. Gue jabarkan profil keduanya.

Jokowi adalah walikota Solo yang terpilih dua kali. Di periode keduanya, bahkan Jokowi terpilih dengan suara diatas 90%. Sembilan puluh persen!

Segitunya masyarakat Solo percaya kepada Jokowi. Waktu itu, di level nasional, bahkan gak ada orang yang tau siapa itu Jokowi. Dia belum ada di media. Kemenangan di atas 90% itu hasil pencitraan? Coba pikir sendiri.

Bahkan dia terpilih sebagai walikota terbaik no.3 dunia akibat kepemimpinannya di Solo. Itu jauh sebelum hiruk pikuk pilkada DKI atau pilpres sekarang ini. Dari situ dia langsung menanjak, mulai dari memimpin sebuah propinsi hingga menuju panggung nasional untuk menjadi presiden. Dan ingat, ketika menjadi gubernur Jakarta, dia mengalahkan Foke, seorang incumbent.

Sedangkan Prabowo?

Prabowo tidak pernah memimpin apapun di dalam pemerintahan. Dia punya karir cemerlang di militer (bagus banget malah, gue ampe takjub dengan cemerlangnya karir Prabowo. Apakah karena dia dulu menantu Soeharto? Entahlah. Mungkin juga dia emang hebat.) dan kemudian dipecat dari TNI karena terlibat kasus penculikan aktivis dan isu kudeta.

Dia pengusaha sukses dan terbukti dengan kekayaannya yang hampir mencapai angka 2 triliun. Dan dia prajurit yang tangguh.

Gini aja udah bikin kita cukup mudah kan untuk memilih?

Belum cukup? Oke mari kita lihat para pendukungnya dan program kerjanya.

Entah kenapa gue melihat sesuatu yang unik dengan pencalonan Jokowi. Orang-orang berbondong bondong memberikan dukungannya kepada Jokowi. Tanpa dikomando, tanpa diakomodir. Semua orang ikut berpartisipasi.

Efeknya? Kampanye Jokowi terkesan berantakan. Slogan gak ada yang sama. Spanduk yang bermacam-macam dan poster yang beragam. Mulai dari Jokowi Adalah Kita. Indonesia Hebat, JKW4P, dan lain-lain.

download

download (2)

download (1)

 

Website pun bertebaran. Mulai dari gerakcepat.comfaktajokowi.com, jokowicenter.com. Belum lagi dengan video di youtube dan hashtag di twitter. Ada banyak sekali testimonial orang-orang yang pernah menyaksikan langsung kesederhanaan Jokowi. Mulai yang ketemu di maskapai kelas ekonomi, hingga yang melihat langsung dia mengawasi pintu air Jakarta tanpa kawalan media.

Di twitter lebih parah lagi, puluhan orang yang gue tau mendukung Jokowi tanpa dibayar. Ratusan artis rela memberikan pengaruhnya tanpa ongkos apapun.

Semua digerakkan oleh harapan.

Harapan bahwa ada orang baik yang akan memimpin Indonesia. Ada seorang yang muncul dari kalangan mereka untuk membela mereka. Gubernur yang hanya menggunakan sebuah kijang Innova sebagai kendaraan dinasnya.

Hasilnya cukup jelas, gue dibombardir oleh informasi. Dan akhirnya ada beberapa highlight dari program Jokowi yang nempel di otak gue. Mulai dari penghapusan UN, pencabutan subsidi bbm hingga pembuatan “tol laut”. Program kerja Jokowi JK cukup terukur.

Mereka tidak hanya bisa menjabarkan bagaimana rencana-rencana mereka akan menghabiskan uang negara untuk program-programnya, tapi mereka juga tau bagaimana mencari pendanaannya. (contohnya dengan mencabut subsidi bbm yang tidak tepat sasaran dan mengalihkannya ke pos yang lain).

Berusaha berimbang, gue pun mencari tau program kerja Prabowo Hatta. Dan yang menempel di gue cuma peningkatan rasio pajak dan program satu desa satu milyar. Udah.

Sisanya terlalu mengawang-ngawang. KPU sudah menggugah program masing-masing capres. Untuk Jokowi JK program kerja mereka cukup terperinci setebal 42 halaman.

Untuk Prabowo Hatta, cuma sembilan halaman saja. Inilah penyebab kenapa gue bilang program kerja Prabowo Hatta tidak menginjak tanah. Gimana lo bisa menjelaskan sesuatu dengan jumlah halaman terbatas seperti itu?

Banyak program Prabowo Hatta yang cuma bersifat provokatif bagi orang yang mendengarnya. Kata-kata seperti “kesejahteraan” dan “kedaulatan” sering kali diulang-ulang. Program mereka yang gue jumpai sangat berupa garis besar. Susah sekali memikirkan langkah nyatanya.

Sehingga membuat ujung-ujungnya lo berpikir “Iya, tapi cara konkritnya gimana?”

Tidak puas, gue lalu mencari tim sukses nya. Dan tebak apa yang gue temukan? Tim sukses Prabowo Hatta malah membahas…Jokowi.

Tidak ada hari dimana mereka tidak membahas Jokowi. And believe me, mereka membahasnya tidak dengan cara yang menyenangkan. Padahal banyak diantara mereka kader partai Islam yang “katanya” mengutamakan kesantunan.

Maksud gue, kalo lo emang yakin Prabowo itu bagus untuk jadi presiden kita, coba yakinkan gue. Sell Prabowo for me. Coba buktikan kalau dia emang lebih baik dari Jokowi. Berikan gagasan dan ide-idenya.

Menyerang calon lain tidak membuat calon lo terlihat lebih baik.

Makanya gue gak pernah sekalipun bawa-bawa urusan HAM ketika membahas Prabowo. Karena jualan isu HAM untuk menjegal Prabowo udah gak laku lagi.

Inilah sebabnya tim Prabowo Hatta merekrut beberapa buzzer di twitter yang mayoritas followersnya adalah first voter yang gak tau apa-apa tentang kasus 1998.

Bangsa kita ini terlalu permisif dan pemaaf. Udah lah, konsen aja jualan idenya. Tapi tidak dengan timses Prabowo Hatta. Mereka malah terlalu sibuk menyerang Jokowi JK. Adaaaaa aja jualannya. Mulai dari capres boneka, antek asing, didukung mafia Cina, bukan Islam, Yahudi, PKI, punya Ibu Peri dan apalah lagi.

Rasanya gak ada isu yang belum disematkan ke Jokowi.

Ini aja udah bikin gue males untuk memilih Prabowo Hatta.

Alasan berikutnya : Koherensi

Kedua calon menjanjikan Indonesia yang lebih baik. Namanya juga lagi jualan kecap. Mana yang paling manis pasti akan dibeli rakyat. Masing-masing menjanjikan perubahan dari apa yang terjadi saat ini.

Hal ini menjadi masuk akal ketika yang ngomong adalah Jokowi JK. Mereka didukung oleh partai-partai oposisi yang selama ini tidak duduk di pemerintahan. Sebut saja PDIP, Hanura dan NasDem. Mereka adalah partai oposisi dan partai baru. Dari partai-partai pendukungnya, hanya PKB yang duduk di pemerintahan saat ini. Jadi wajar sekali ketika mereka menjanjikan harapan akan perubahan yang lebih baik.

Tapi tidak berlaku demikian dengan Prabowo Hatta.

Dan debat capres yang kita saksikan bersama di televisi, Prabowo menjanjikan juga perubahan. Dia menyatakan rakyat sekarang belum sejahtera, petani yang tidak sejahtera, kebocoran anggaran dan ekonomi yang salah kelola. Maksud gue, gimana lo bisa menjanjikan perubahan kalo orang-orang yang lo kritik ada di dalam satu kapal yang sama?

Ekonomi salah kelola dan kebocoran anggaran, Prabowo malah minta menko perekonomiannya jadi wapresnya.

Indonesia belum sejahtera, menkokesra dan menteri sosialnya dari Golkar dan PKS, dua partai yang kini mendukung Prabowo.

Petani Indonesia tidak sejahtera, menteri pertaniannya adalah orang PKS.

Mengkritik pemerintahan SBY, tapi Prabowo malah yang paling dekat dengan Demokrat.

Asing merampok kekayaan Indonesia, gue hanya tersenyum melihat Aburizal Bakrie di barisan pendukung Prabowo Hatta. (baca kinerja perusahaan-perusahaan Bakrie untuk lebih jelasnya. Yang terbaru adalah kisruh BUMI).

Gue gak melihat koherensi antara kenyataan dan ide yang ditawarkan. Dan mau gak mau, ketika gue dijejali janji-janji kesejahteraan dan kemajuan oleh Prabowo Hatta, gue cuma bisa menghela napas sambil melihat orang-orang di belakangnya lalu berkata “Ini mah gue lagi dibohongin”.

Sesederhana itu.

Dan makin kesini gue mendengar beberapa alasan bodoh lainnya kenapa orang gak memilih Jokowi.

“Bahasa Inggris Jokowi jelek banget. Gue malu ama orang kayak gitu yang jadi presiden gue.”

Kalo bahasa Inggris jadi syarat lo milih presiden, mungkin cocok pindah ke Amerika atau nunggu Cinta Laura nyapres.

Gini ya, ketika seseorang udah jadi presiden. Semua kegiatan atau protokoler istana itu udah ada yang ngatur. Jangankan bahasa Inggris, cara seorang presiden salaman, menjamu tamu, ampe presiden buang air aja udah ada yang ngatur. Jadi gak usah khawatir.

Dan lo takut dia gak bisa menggunakan bahasa Inggris dengan benar? Soeharto dulu pernah pidato di sidang PBB pake bahasa Indonesia. Selo aja tuh. Gue tau bahasa Inggris sekarang penting, tapi bukan hal yang pertama ketika dia ingin jadi presiden kan?

“Jokowi itu ndeso, kurus dan gak berwibawa. Gak ada tipikal pemimpinnya. Masa orang kayak gitu mau jadi presiden dari 250 juta rakyat Indonesia.”

Menurut gue, gak ada hubungannya antara penampilan dan kinerja kecuali lo adalah SPG rokok.

Lihatlah Dalai Lama, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, apakah mereka adalah orang-orang yang gagah?

Tapi sejarah mencatat mereka dengan tinta emas atas dampak yang mereka berikan ke dunia. Lagipula, kita sudah pernah punya presiden mantan jenderal yang ganteng dan gagah. Efeknya bagaimana? Apakah kinerjanya sebagus itu?

“Jokowi itu haus kekuasaan. Dari walikota, gubernur, sekarang mau presiden. Abis ini apa? Pindah ke luar angkasa?”

Ini jawaban gue : itu membuktikan dia dipercaya atas kinerjanya. Banyak orang yang memintanya untuk memimpin. Semua jabatan publik yang dia emban adalah dari hasil pemilihan langsung oleh rakyat.

Lagipula kalau emang menjadi presiden disebut sebagai tanda haus kekuasaan, mari kita lihat Prabowo. Prabowo sudah mengikuti konvensi partai Golkar tahun 2004. Dia udah pengen jadi presiden dari sepuluh tahun yang lalu!

Di tahun yang sama, Jokowi entah masih dimana. Dia baru terpilih menjadi walikota Solo tahun 2005. Haus kekuasaaan? Think again.

Belum lagi dengan isu Jokowi anti Islam, agen Yahudi, asing, mafia Cina, hingga PKI. Kadang gue mikir, ya kalo mau black campaign, jangan semua dong. Keliatan banget bohongnya. Pilih satu aja. terus konsisten pake itu. Jadi orang bisa percaya.

 

Oke, tulisan ini kini menjadi terlalu panjang.

Gue salut dan hormat kepada Prabowo Subianto. He got my respect. Dia adalah patriot sejati, tak terbantahkan. Bahkan jujur, isu penculikan tahun 1998 itu gak berpengaruh kepada gue karena waktu itu gue masih SD dan belum tau apa-apa. Tapi dari program dan kenyataannya sekarang, gue sepertinya akan memilih Jokowi JK.

Dari dua kandidat ini, yang satu terlihat jauh lebih baik dari yang lain. Sehingga ini menjadi pilihan yang sangat mudah.

Belum pernah gue melihat orang-orang se-excited ini untuk menghadapi pemilu. Menyumbangkan uang dari kantong pribadinya untuk mendukung satu calon. Datang ribuan kilometer sambil mengayuh becak untuk hanya bertemu dengan Jokowi dan memberikan dukungannya. Untuk bisa kembali percaya, bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik.

Sepertinya halnya mereka, kedatangan Jokowi membuat gue kembali bisa percaya, kalau Indonesia masih punya harapan. Kembali percaya kalau orang baik bisa menjadi pemimpin.

Dan tanggal 9 Juli 2014 nanti, gue sudah tau gambar siapa yang akan gue coblos di dalam bilik suara.

Salam dua jari.

 

PS : Untuk perbandingan sederhana, kalian bisa membaca profil Jokowi dan Prabowo di Wikipedia dan membandingkan keduanya. Menentukan presiden kadang memang semudah itu.