Saya dulu benci sekali dengan pelajaran Bahasa Indonesia.

Bukan kenapa-kenapa, setiap kali liburan sekolah selesai, dan masing-masing siswa diminta untuk menuliskan liburan mereka, saya selalu saja gagal untuk melakukan hal yang sama.

Jika teman saya menuliskan indahnya pergi ke kampung untuk mengunjungi nenek, melihat gunung dan sawah, mandi di sungai yang airnya jernih, hal itu tidak berlaku untuk saya.

Nenek saya tinggal bersama keluarga saya. Jika ingin melihat nenek, saya cukup pergi ke kamar belakang. Tentu saja hal itu tidak bisa dituliskan sebagai tugas mengarang sekolah bukan?

Tidak ada cerita perjalanan yang bisa saya tuliskan. Saya jarang sekali bepergian sewaktu kecil dan hampir tidak tau rasanya liburan dan traveling ke tempat-tempat lain selain rumah.

Inilah yang membuat saya bertekad untuk bisa melihat dunia. Mengunjungi tempat-tempat indah yang selama ini hanya bisa saya lihat melalui televisi.

Keinginan ini harus tertahan selama beberapa tahun karena faktor biaya.

Impian itu mulai dicicil di awal tahun 2011. Sebuah tindakan yang impulsif saat mengetahui Air Asia mengadakan promo free seat bagi para pelanggannya.

Dan saat itu, saya langsung menghubungi beberapa teman untuk sama-sama menjelajahi Asia Tenggara. Melihat harga promo yang sangat terjangkau itu, memaksa saya untuk rebutan tiket bersama ribuan orang lain yang mengantri di airasia.com.

Tiket pesawat ke luar negeri hanya beberapa ratus ribu, bahkan untuk beberapa jalur, dihargai nol rupiah. AirAsia memang membawa slogannya ke tingkatan yang nyata. Now Everyone Actually Can Fly!

Dengan semangat pantang menyerah, akhirnya berlembar-lembar tiket bisa didapat.

Jakarta – Kuala Lumpur, Kuala Lumpur – Hanoi, Hanoi – Bangkok, Bangkok – Phuket, Phuket – Singapura, dan Singapura – Jakarta.

Empat negara, dalam 11 hari hanya dengan harga tiket sekitar tiga juta rupiah untuk semua penerbangan. Dan bersama AirAsia, dimulailah perjalanan mimpi saya.

Anak daerah yang dulu tidak pernah pergi kemana-mana, kini mulai memberanikan diri untuk melihat dunia.

Mulai dari megahnya Petronas Tower di Kuala Lumpur,

Petronas Tower

 

Klasiknya suasana kota Hanoi di Vietnam,

Hanoi

 

Ramainya kota Bangkok,

Naik Tuk-Tuk di Bangkok

 

Indahnya Pantai Phi Phi Island di Phuket

Phi-Phi Island

 

Hingga bersihnya negara tetangga Singapura.

Singapura!

 

Dan ketika hal itu perlahan terwujud, saya akhirnya bisa melihat ke belakang sewaktu saya SD dulu.

Traveling ternyata menyenangkan!

Selesai? Belum.

Air Asia seolah menjadi partner sempurna untuk saya dalam melanjutkan mimpi melihat dunia.  Di akhir tahun 2012, sebuah negara lain berhasil saya kunjungi bersama Air Asia.

Filipina!

Semua berawal dari ajakan Roy untuk mengelilingi Pulau Jawa dengan menggunakan kereta. Karena terlihat kurang menantang, saya ajak dia untuk pergi ke Filipina. Sebuah pulau eksotis bernama Boracay, yang dikenal seperti Bali-nya orang Filipina.

Website pertama yang kami buka adalah Air Asia, dan dengan harga terjangkau tiket Jakarta – Clark – Kalibo – Clark – Jakarta berhasil kami genggam.

Perjalanan panjang dari Jakarta ke Boracay seolah tidak terasa. Pasir putih Boracay dan semilir angin yang sejuk mulai masuk ke dalam kaos, menghilangkan semua penat yang menyelusup masuk yang timbul akibat panjangnya perjalanan.

Boracay Night Market.

Boracay Night Market. Philipines.

 

2012-12-27 09.27.47

White Beach. Boracay Island

 

Pengalaman ke Filipina sedikit berbeda dari negara-negara lain. Nuansa yang diberikan Boracay Island di Filipina seperti nuansa Amerika Latin yang terjadi di Asia Tenggara. Bar-bar yang berjejer di pinggir pantai, dentuman musik yang selalu terdengar, percakapan-percakapan yang terasa asing di telinga, membuat traveling ini sedikit berbeda dari biasanya. Tapi tetap terasa menyenangkan!

Bersama Air Asia, saya berhasil menginjakkan kaki di Filipina!

Kisah saya belum berakhir disana. Seolah telah menjadi candu, di akhir tahun 2013 saya dan Roy kembali menggunakan Air Asia untuk melihat dunia. Kali ini tujuan kami adalah Negeri Sakura.

Jepang!

Jakarta – Kuala Lumpur – Haneda, Tokyo – Kuala Lumpur – Jakarta kami dapatkan dengan harga yang sangat miring.

Petualangan selama sembilan hari di Jepang kami lewati bersama. Tokyo, Kyoto, Nara, Kawaguchiko, Osaka, Hiroshima kami jelajahi.

IMG_20131111_094418

Shinkansen!

 

IMG_20131111_191526

Tidur di Tatami

 

IMG_20131113_101142

Kids, that’s how I met your mother

 

IMG_20131114_115107

 

IMG_20131114_120548

Iinari Fushimi

 

Kehebatan Jepang dalam mengkombinasikan budaya dan teknologi modern benar-benar menjadi pengalaman yang menarik. Selama sembilan hari kami berkeliling Jepang. Masuk kuil, naik shinkansen, minum sake, berjalan kali mengunjungi danau Kawaguchiko, hingga melihat sakura perlahan berguguran.

Mengunjungi Jepang menjadi sebuah pengalaman indah yang tidak akan pernah dilupakan.

***

Kini saat kembali melihat ke belakang, saya menyadari bahwa Air Asia telah mengantar saya ke beberapa negara. Air Asia seolah menjadi penuntun langkah pertama saya dalam melihat dunia. Teman setia bagi saya untuk berkeliling dunia. Bertemu dengan orang-orang baru, merasakan kebudayaan yang berbeda, mencicipi makanan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, agar bisa merasakan menjadi salah satu warga dunia.

Air Asia telah menemani saya melihat Malaysia, mengunjungi Vietnam, merasakan Thailand, mengelilingi Singapura, berpetualang ke Filipina dan menjejakkan kaki di Jepang.

Saya yakin ini bukan akhir dari petualangan saya untuk melihat dunia. Masih banyak destinasi-destinasi yang belum sempat saya kunjungi bersama Air Asia. Dan saya yakin, Air Asia masih akan menjadi teman traveling saya.

Lucu jika dibayangkan betapa berubahnya nasib saya karena Air Asia. Seorang anak yang dulu duduk termangu setiap kali diminta untuk menuliskan kisah liburannya, kini bisa menuliskan sejuta cerita tentang petualangannya melihat dunia.

Traveling– it leaves you speechless, then turns you into a storyteller- Ibn Battuta’

PS : Tulisan ini diikut sertakan dalam Kompetisi Blog 10 Tahun Air Asia Indonesia.