Waktu itu gue lagi cerita ama seorang teman wanita gue, sebut saja namanya Ayu.

Dia bertanya tentang progress gue yang lagi pdkt ama salah satu temannya bernama Cantika (Iya, gue emang gak jago bikin nama samaran.) Ayu dan Cantika adalah tipe-tipe wanita gaul dan cantik yang gue kenal melalui jaringan pertemanan.

“Lo gimana ama Cantika Ta?” tanya Ayu waktu itu.

“Ya gitu, belum gimana-gimana. Cuma udah jalan beberapa kali.”

“Lo ajak naik taksi?” Ayu bertanya. Gue langsung heran dengan pertanyaan Ayu ini.

 

 

“Iya.” gue menjawab jujur. Motor aja gue gak punya, apalagi mobil. Taksi adalah pilihan utama gue kalo kemana-mana selain ojek gendong.

“Dia mau? Ohh beda sih ama gue.” lanjut Ayu.

Sontak gue langsung terdiam. Gue gak menyangka komen pertamanya yang keluar akan seperti itu. Pikiran logis gue langsung bekerja, apa penyebab Ayu berkata seperti itu? Kalo emang tujuannya supaya nyaman, gue kira taksi cukup nyaman. Naik taksi gak akan keujanan, gak akan keringetan. Naik taksi juga gak usah make helm, jadi gak usah khawatir tatanan rambutnya bakalan rusak.

Gak ada pembenaran yang masuk di kepala gue kenapa Ayu bisa bersikap seperti itu. Kenapa ada wanita  yang bisa menolak pria yang mengajak mereka pergi cuma karena naik taksi. Pikiran rasional gue cuma bisa memberikan satu alasan. Wanita yang cuma mau kalo diajak naik mobil alasannya cuma satu, gengsi.

Gue sepenuhnya percaya kalo wanita itu bukan materialistis, tapi realistis. Wanita akan mencari kenyamanan, baik itu dalam hal perasaan ataupun dalam bentuk materi. Karena ketidaknyamanan materi, akan berujung pada ketidaknyamanan perasaan.

But girls, let me tell you something. We are not stupid. We are whooping our ass to make you happy!

Gak ada pria yang pengen melihat wanita yang disukainya hidup susah. Gak ada yang mau ngeliat wanita yang udah dandan cantik tiba-tiba harus naik ojek, rambutnya rusak ditiup angin dan kemudian terlihat seperti singa.

Pria mempertaruhkan harga dirinya untuk menyenangkan wanita yang dicintainya. Kalau selama hidup dengan orang tuanya, dia bisa makan tiga kali sehari. At least, ketika seorang pria ingin menikahinya, standar hidupnya harus sama, kalau bisa lebih.

A man will do anything to comfort his woman..

Gue memperhatikan teman-teman gue yang umur pacarannya lama, atau yang sudah menikah, kebanyakan diantaranya memilih wanita-wanita yang menerima mereka dari mereka gak punya apa-apa. Ketika mereka masih jadi gembel miskin di kampus, ngutang di warteg, luntang-lantung nyari makan di awal-awal karir mereka, hingga kini mempunyai pekerjaan stabil yang membanggakan di perusahaan kelas dunia.

Wanita-wanita seperti Ayu memang mempunyai banyak pilihan untuk saat ini. Tapi percayalah hal itu gak akan bertahan lama. Kemampuan wanita memilih pria itu cuma bertahan sampai umur 27-28 tahun. Lebih dari itu, wanita akan memilih siapa saja yang mau dengannya.

Their biological clock is ticking and their prime time is going to an end.

Sekarang mungkin kalian bisa menolak, memutuskan hanya mau pergi dengan orang bermobil. But just wait for another year or two, your options is limited (if you have any).

Hal sebaliknya berlaku untuk pria, semakin bertambahnya usia, pilihan kami akan semakin banyak. Kami akan tumbuh. Mapan dan matang. Kami akan bisa memilih wanita manapun yang kami suka. Wanita memilih dari beberapa pria, tapi pria bisa memilih dari semua wanita.

Buat pria-pria lain yang juga ditolak  ‘Ayu’ dalam kehidupan kalian masing-masing karena masih berjuang meniti karir, just forget her. She’s not worth it.

Lo cari wanita yang mau ama lo meskipun lo naik angkot, lo naik taksi, atau jalan kaki sekalipun. Ketika lo udah sukses, bahagiakan wanita yang menemani lo jalan kaki tadi. Belikan dunia untuknya.

Ingat satu hal bahwa kesetiaan wanita diuji ketika sang pria gak punya apa-apa. Dan kesetiaan pria diuji ketika dia punya segalanya.

 

PS : Ayu, I know you will read this. Enjoy! :)