Beberapa hari yang lalu, gue maen ke Sukabumi.

Ga ngambil cuti sih, gue pergi pas weekend, sabtu siang berangkat, minggu malam udah balik ke kosan. Mungkin karena bosen di Jakarta, bertualang ke Sukabumi menjadi pilihan gue waktu itu.

Lumayan, puasa-puasa gini maen ke Sukabumi yang sejuk.

Jadi, berangkatlah gue siang itu berdua temen gue si Hasan dari terminal Kampung Rambutan.

Gue kirain, dari terminal Kampung Rambutan, bakalan ada bus ke sukabumi yang ber-AC, ternyata ga ada sodara2.

Jadilah gue ama si Hasan naek bis ekonomi dari Kampung Rambutan ke Sukabumi. Tiketnya cuma 16 ribu rupiah saja. Murah meriah. Sedangkan nama bisnya sendiri agak bombastis,

LANGGENG JAYA, nama bus reyot itu. Dilihat dari kondisi busnya, nasip perusahaan bus itu sepertinya bakalan jauh dari kata langgeng. Seperti ini penampakannya..

Si Kaleng Beroda

But anyway, bukan itu yang pengen gue ceritain.

Naek bus kayak gini, dalam kondisi berpuasa bukanlah hal yang akan gue saranin ke kalian.

Kombinasi antara udara yang gerah, bus yang padat, perut yang kosong dan aroma ketek yang semerbak sangat mengganggu jasmani dan rohani.

Agak-agak kecut gimanaaa gitu..

Dalam perjalanan lintas propinsi naek bus ekonomi kayak gini, lo ga bakalan bisa tidur dengan tenang selama perjalanan.

Selain karena aroma cuka yang menyebar kemana-mana tadi, pedagang asongan dan pengamen akan selalu mengganggu ketenangan lo ketika tidur.

Ya, ntah bagaimana pedagang asongan dan pengamen jalanan bisa masuk kedalam bus ketika kondisi macet sedikit saja.

Dan hal-hal yang mereka jual pun bermacam ragam. Mulai dari akua dan mijon (ya, mereka bilangnya mijon) buah-buahan, majalah gossip, coklat ayam ampe gunting.

Kalo gue pikir…

BUAT APA GUE BELI GUNTING DIDALAM BUS?!

Tapi tanpa kita sadari, mereka-mereka inilah orang-orang marketing terhebat didunia. Mereka bahkan bisa memahami prinsip-prinsip marketing tanpa harus membaca buku Phillip Kotler (banyak pihak yang bilang kalo bapak Kotler ini adalah dewanya urusan marketing).

Rata-rata dari mereka memiliki kecepatan bicara yang mengagumkan. Persis seperti orang-orang marketing.

Contoh :

Pengamen baru masuk langsung ngomong dengan kecepatan suara :

“Assalamualaikum Wr. Wb, kami mohon maaf telah mengganggu kenyamanan anda dalam berkendara, dan bagi bapak supir dan kondektur ijinkan kami mendendangkan beberapa tembang untuk menemani perjalanan anda”

Belum lagi pas mereka turun. Ngomongnya panjaaaaang dan cepat banget.

Dan uniknya, mereka menggunakan tips-tips marketing yang berbeda dalam setiap usahanya.

Liat aja contoh kasus – kasus yang gue temui kemaren..

1. Pengamen cilik dan pengamen ibu-ibu.

Empathy. Timbulkan sense of belonging para penumpang. Mereka ini kebanyakan menggunakan rasa iba dan belas kasihan untuk mencari rupiah.

Berbekal gitar ukulele kecil buat si anak dan kecrekan tutup botol bagi si ibu, mereka mulai menyanyikan lagu-lagu bernuansa melankolis pengantar bunuh diri dan menceritakan tentang kejamnya kehidupan dalam liriknya.

Para penumpang dibawa untuk merasakan kejamnya kehidupan mereka.

Mereka berdua masuk kedalam bisa dalam momen yang berbeda. Tapi gue masukin dalam tipe yang sama karena modus mereka sama dan hampir mirip. Menjual belas kasihan.

Anehnya, si ibu ngamen dengan perhiasan lengkap! Tanya kenapa??

2. Pengamen remaja.

Don’t forget the quality! Jual produk berkualitas. Dan mereka mengaplikasikan prinsip ini. Dengan bermodalkan gitar dan suara merdu, alunan lagu-lagu balada menambah syahdu perjalanan gue ke Sukabumi kali ini.

Quality is numero uno..

3. Penjual Coklat Ayam dan Penjual Majalah Gosip.

Know your products, prinsip ini dipegang teguh oleh pedagang asongan jenis ini. Bayangkan, begitu mereka masuk, mereka langsung menuju bagian depan bus. Dan ngoceh tentang produk mereka.

Bagi tukang coklat,

”ibu-ibu bapak bapak, ini coklat bukan sembarang coklat!! Ini coklat buatan PT Ceres, PT yang membuat coklat silverqueen. Coklat yang digunakan sama dan masih jauh dari expirenya!! Bisa ibu liat dibelakang bungkusnya ada tanggal expirenya, masih bulan desember 2011, masih sangat lama ibu-ibu, jadi coklat ini sangat aman untuk dimakan!!”

Si penjual majalah gossip,

“Ibu-ibu bapak-bapak, ini majalah edisi terbaru, masih dalam sampul plastik. Ariel dituntut 12 tahun penjara dan Andi Soraya mau ditangkap kepolisian, baca didalam bagaimana perkembangan kasus Ariel yang mau dituntut 12 tahun akibat kasus video porno. Oia, si Andi Soraya mau dipenjara bapak-bapak ibu-ibu”

And damn, they do know  their products!

4. Penjual Dompet dan Gunting.

Forced your customer to understand with your products. Ini konsep yang dipegang teguh oleh pedagang jenis ini.

Begitu mereka masuk, dengan ucapan pembuka seadanya, mereka langsung berkeliling dari depan ke belakang sambil melempar, ya melempar, produk mereka ke pangkuan kita para penumpang.

Kita dipaksa untuk mengambil dan memperhatikan produk mereka. Akh, seorang sarjana seperti saya dibodohi oleh pedagang asongan.

Lalu mereka akan kembali berkeliling sambil mengambil kembali barang dagangannya. Bagi yang berminat, ya beli, yang tidak berminat ya kembalikan!

5. Pengamen Dangdut.

Innovate, ya berinovasi lah. Ketika pesaingmu sudah terlalu banyak dan kondisi pasar sudah jenuh, maka berinovasilah. Hal ini dilakukan oleh Apple Inc. di Amerika sana. Mereka tidak takut berinovasi. Prinsip yang sama dilakukan oleh pengamen dangdut satu ini.

Melihat persaingan dengan pengamen muda yang semakin jenuh, maka dia berinovasi. Jika kebanyakan pengamen bermodalkan gitar dan kecrekan, maka dia mengambil langkah besar dalam dunia per-ngamenan (ada gitu dunia per-ngamenan? Bodo ah..)

Dia memakai mini sound system. Bermodalkan mike, pemutar kaset, aki dan soundsistem kecil, maka bergema lah lagu-lagu ciptaan bang Haji Rhoma dan bang Mansyur S yang populer di tahun 80an.

Lagu – lagu dangdut populer seperti Ani, Darah Muda dan Khana sempat membuat pinggul ini bergoyang dengan tidak sadar.

Dengan konsep yang niat, suara yang merdu, dan peralatan yang lengkap, maka rupiah demi rupiah mengalir ke kantong pengamen dangdut ini.

Hebat bukan?

6. Tukang tahu sumedang,

Give bonuses. Perhatikan loyalitas pelanggan anda, jika pesaing anda menjual barang yang sama, pastikan anda memberi lebih. Berikan bonus gratisan dan dapatkan hati pelanggan anda.

Inilah teori pemasaran yang dianut oleh pedagang tahu sumedang yang gue temui.

“Bapak-bapak ibu-ibu, tahu sumedangnya tahu sumedangnya, masih hangat-masih hangat. Buat persiapan berbuka, mari bu mari pak! Beli 2 ribu dapet bonus cengek (cabe rawit) tilu (tiga) biji” kata si emang sambil senyum.

Wuooowwww, Bonus dan keramahan pasti mencuri hati pelanggan anda!! Sangat mementingkan after sales service!!

7. Penjual Jeruk dan Penjual Mainan.

Give discounts. Manusia normal mana yang sanggup menolak diskon? Lihat saja midnight sale di ibukota, ngga ada yang sepi.

Masi ingat di benak kita bagaimana panjangnya antrian penjualan sandal karet crocs yang mencapai 5 lantai kemaren itu.

Saya, anda, bapak saya, nenek anda, si teteh, si mbak, si Ujang tukang teh botol, si Marni bibik di kosan saya, semuanya pencinta diskonan!

Nah, hal ini yang ditangkap oleh penjual jeruk dan penjual mainan di bus langgeng jaya yang saya tumpangi.

Penjual mainan.

“Bapak bapak, ibu-ibu, ini ada maenan motor dan mobil-mobilan tanpa batere, ditarik kebelakang dulu trus dilepas biar dia maju sendiri kedepan! Sayang anak, sayang anak!!

Bapak bapak ibu-ibu, maenan ini kalo di Alpamart dan Indomaret, harganya 40 ribu, tapi karena ini saya ambil langsung dari agen, harganya jadi 30 ribu saja. Sayang anak-sayang anak..”

Dahsyat!!

Penjual jeruk.

Ini yang paling bombastis. Si bapak ini ga turun turun dari bus gue. Mulai dari kampung rambutan ampe ke terminal Sukabumi. Dia bawa jeruk sekarung dan banyak plastik kresek.

Ketika bus baru mulai berjalan..

“Jeruknya pak bu, manis manis, sebijinya seribu saja, sepuluh buah sepuluh ribu, ayo pak ayo bu, manis manis!!”

Sejam kemudian…

“ayo pak ayo bu, jeruknya manis manis!!KINI 10 RIBU DAPAT SEBELAS. BONUS 1!! AYO PAK AYO BU!!”

Dua jam kemudian.

“Ayo pak ayo bu, SEKARANG BELI SEPULUH RIBU DAPAT DUA BELASSSS!!!!AYO PAK AYO BU!!!’

Setengah jam kemudian..

“Ayo pak ayo bu, sekarang beli sepuluh ribu dapet bonus TIGA JADI TIGA BELASSSS!!!! AYO PAK AYO BUUUU!!!”

Menjelang nyampe Sukabumi,

“Ayo pak, jeruk bu, manis manis, beli sepuluh ribu dapet bonus satu, dua, tiga, empat, lima. LIMA BELASSSSS!!!!! JERUK BUUUU JERUK PAAAAKKKK!!”

Dan orang yang beli pertama bakal garuk-garuk tanah menyesali kebodohannya. Bahkan kata Hasan, dia pernah ngeliat yang ngejualnya ampe 30 biji buat sepuluh ribu.

Kondisi seperti ini, membuat gue berpikir, apa yang membuat mereka sangat kreatif? Gue yakin kalo ngga satupun dari mereka yang pernah belajar tips-tips marketing dari Kotler.

Dan ngga satu pun dari mereka yang berpendidikan tinggi, kalau mereka berpendidikan tinggi, pasti mereka udah keluar dari jalanan.

Mungkin yang membedakan mereka dengan Kotler adalah tempat mereka belajar.

Jika Kotler belajar dalam ruangan dan dari buku perpustakaan, mereka belajar di Jalanan.

Dan kalau boleh gue memberi nama, ilmu marketing yang mereka terapkan diatas tadi tadi akan gue kasi nama…

Marketing Jalanan!

Jalanan memaksa mereka kreatif dan memutar otak dalam berjualan. Himpitan ekonomi dan kejamnya jalanan membuat mereka berpikir out of the box. Rasa lapar dan tangisan anak di rumah membuat mereka berani berinovasi dan berkreasi.

Naik bus ekonomi selama lebih dari 4 jam memang tidak nyaman. Tapi selama 4 jam itu gue belajar banyak. Dari orang-orang yang lewat dan pedagang asongan yang gue temui kemarin.

Berada dalam bus ini membuat gue merasa dekat dengan Indonesia, Negara yang masih begelut dengan kemiskinan.

Bukan sekedar cerita roman picisan, lagu-lagu cinta, sinetron di layar kaca, atau novel dengan ending bahagia.

Gue belajar banyak didalam bus ini dan inilah yang membuat gue suka travelling.

Pergi ke tempat-tempat baru, ketemu orang-orang baru, belajar hal-hal baru, merasakan pengalaman-pengalaman baru.

Berada disekitarnya,

merasakan getarannya,

mencium bau keringatnya.

Merasakan Indonesia!!

following capture