“Mahal-mahal ya?” katanya sambil menutup wajahnya dengan buku menu. Hanya terlihat mata polosnya dari balik buku menu coffee shop ini. Menggemaskan.

“Yauda sih, it’s on me this time. Gak usah dipikirin” gue meyakinkan.

Tidak berapa lama, sebuah mango cake pesanannya datang ke meja. Dengan garpu kecil yang tersedia, gue memotong pinggiran kue tersebut dan ikutan untuk mencobanya.

Rasa mangganya terasa samar. Krim lembutnya menempel di lidah. Adonannya yang mengembang sempurna. Sembilan dari sepuluh untuk mango cake ini.

Riuk pikuk jalan Cikini terdengar halus dari balik jendela kaca. Meskipun begitu, suaranya tidak mengganggu para pengunjung tempat ini. Sepertinya kedai kopi ini sengaja didesain untuk menahan suara lalu lalang kendaraan di luar sana. Seperti sebuah oase yang menenangkan di pusat kota Jakarta.

Dan dia di sana. Duduk manis di depan gue. Bercerita tentang keseharian dan mimpi-mimpinya. Mukanya berbinar semangat menjelaskan semuanya. Tangannya bergerak ke sana ke mari sambil tetap bercerita.

Dia hanya teman biasa.

Tapi entah kenapa ada yang aneh yang mulai gue rasakan. Rasa kagum yang tadi ada, mulai bergeser menjadi hal yang lain. Hal yang lain yang berbahaya.

“Trus gimana rencana lo abis S2?” tanya gue penasaran.

Dan kemudian dia menceritakan rencana-rencananya. Mulai dari rencana bekerjanya, impian-impiannya dan gagasannya untuk membentuk sociopreneurship sehabis masa studinya.

Ada jeda sejenak ketika gue mencuil mango cake yang tadi tergeletak di atas meja.

“Gue terlalu ambisius ya?”

“Engga kok…” gue menggelengkan kepala. “…malah bagus. Gak banyak orang yang tau mau ngapain dalam hidupnya. Kebanyakan malah pasrah dan bilang ‘let if flow aja’”

“Dan lo malah udah tau mau ngapain aja. Which is great! Gak banyak cewek yang kayak gitu.” puji gue.

Shit, gue baru aja flirting! Kasual aja Ta, kasual! Yang barusan itu gak kasual. What’s next?! Nyiapin mahar?!

Gue kembali meliriknya, sambil berharap dia tidak menyadari tindakan gue tadi.

Dia hanya tersenyum dan membuang mukanya ke arah yang lain. Gue tertangkap basah, seperti maling ayam yang sedang berusaha sembunyi dari kejaran warga. Bedanya, gak ada resiko ditelanjangi dan diarak ke kantor kelurahan buat gue.

She caught my hand in the cookie jar.

Gue hanya menghela napas grogi. There’s suddenly a butterfly in my stomach. A small one but it’s getting bigger.

Gue melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kiri gue. Sudah hampir pukul tiga. Banyak yang akan kami lakukan hari ini.

I promised her a nice date yesterday and here I am, trying to fulfill my words. Sudah ada beberapa tempat yang gue rencanakan untuk kami datangi. Mulai dari kedai kopi klasik di Cikini hingga rencana menonton teather nanti malam.

Demi melakukan aktivitas lain selain nonton dan makan di mall.

“Yuk? Jadwal kita padat nih!” kata gue.

“Itu abisin dulu mango cakenya. Sayang tauk.” dia memarahi gue.

Gue langsung menghabiskan kue itu tanpa basa basi. Sama seperti gue, dia adalah orang yang merangkak dari bawah. We’re not born with the silver spoon in our plate.

And that struggle builds a character.

At first, maybe her beauty that caught my eyes. But now, it’s her attitude that stole my heart.

Suapan terakhir memasuki mulut ketika gue meliriknya. Saat pandangan kami bersatu, ada yang aneh terasa di perut gue. Mengaduk perlahan seperti adonan dan mulai mengembang sempurna memenuhi hati yang bertindak sebagai wadahnya.

Sesuatu yang lembut dan menyenangkan. Seperti krim yang terasa samar di sebuah potongan mango cake di sebuah kedai kopi sederhana.