Makassar adalah kota kedua di Sulawesi yang gue kunjungi setelah Palu. Sebelumnya gue gak tau apa-apa tentang ibukota Sulawesi Selatan ini. Satu hal yang bisa gue bilang disini adalah : Cuaca di Makassar itu nyaman banget…buat kaktus.

Entah kenapa, mungkin Matahari lagi buka cabang di Makassar sehingga panasnya gak ketulungan. Tapi buat gue, hal itu gak menjadi penghalang untuk mengelilingi Makassar.

Hari pertama di Makassar gue habiskan dengan wisata kuliner. Urusan perut emang gak bisa ditunda. Tujuan pertama adalah Konro Karebosi, yang berdasarkan hasil googling gue, adalah konro paling terkenal di Makassar.

Sebelum itu, gue harus kasi tau sesuatu kepada kalian. Pengetahuan gue tentang Makassar itu nol besar. Sejauh ini cuma berita-berita tentang tawuran dan demo anarkis yang gue dengar dari berita tentang Makassar.

Ternyata begitu nyampe disana, bayangan gue tentang Makassar yang gue dapat dari televisi gak benar. Orang Makassar memang cara ngomongnya agak keras dan cuek, jadi kesannya marah-marah.

Hal ini kejadian waktu gue makan di Konro Karebosi. Pelayannya ngomong ke gue kayak marah-marah sambil mencatat pesanan.

NASI?! DUA?! ES JERUK?!

Mendengar pertanyaan-pertanyaan interogasi itu membuat gue rasanya pengen sungkeman dulu ama mbak pelayannya.

“Mbak, minal aidin walfaidzin dulu mbak, biar gak selek. Saya kesini mau makan mbak, jangan dimarahin.”

Tapi harus gue akui, orang Makassar itu jagonya kalo masak daging! Konro Bakar itu endang bambang alias enak banget! Daging iganya yang besar dan empuk dilumuri semacam kuah kacang dan ditemani oleh sup beraroma rempah yang menghangatkan. Nasi putih yang disediakan pun terasa seperti basa basi.

Makan Konro Karebosi bukan makan nasi pake daging, tapi makan daging pake nasi.

Lanjut dari sana, gue nyobain makanan khas Makassar lainnya.

Es Palubutung.

Es Palubutung

Gambar diambil di sini. Terima kasih.

Es palubutung itu adalah es khas Makassar, semacam es pisang ijo yang gak berwarna hijau. Gue sendiri gak sempet nyobain es pisang ijo, karena gue rasa gue bisa nyobain makanan ini di Jakarta. Dan tampilannya sendiri mirip sekali dengan Es Palubutung kecuali pisangnya yang berwarna hijau.

Es Pisang Ijo

gambar diambil di sini. Terima kasih

Mungkin di jaman dulu, orang Makassar sudah kehabisan ide untuk membuat makanan dan terjadi diskusi diantara mereka.

Alright Gentlemen!

Alright Gentlemen!

Buat rasanya sendiri, enak! Campuran potongan pisang yang telah dikukus, sirup merah dan potongan es cocok sekali menghalau panas Makassar yang menyengat.

Di Makassar sendiri banyak sekali makanan berbahan baku pisang, selain es Palubutung yang menggunakan pisang, ada es pisang ijo dan Pisang Epe.

Selain pisang?

Selain pisang?

Pisang epe adalah pisang bakar yang setelah dipanggang, digencet dengan suatu alat sehingga gepeng. Lalu akan dibumbui dengan coklat, keju atau bahkan durian sesuai keinginan

Di Makassar gue menemukan suatu masjid yang namanya lumayan aneh.

Masjid H.M ASYIK

Kebayang gak betapa epic nya nama masjid ini? Jemaah disana pasti asyik asyik

“Bro, shalat yuk bro? Ah, gak asyik lo bro”

Anyway, setelah menghabiskan waktu dengan kondisi perut kenyang, gue memutuskan untuk menunggu sunset di spot paling terkenal di Makassar, Pantai Losari.

Pantai Losari adalah pantai di kota Makassar yang menjadi tempat rekreasi umum warga Makassar ketika sore tiba. Sejauh ini, sunset paling bagus yang pernah gue liat ada di pantai Losari ini. Matahari kemerahan yang tenggelam tepat di atas permukaan air.

Waiting for sunset in Losari

Waiting for sunset in Losari

Duduk menikmati angin sore, menyesap Sarabba (bandrek khas Makassar), ditemani pisang epe dengan taburan coklat dan durian. Menikmati hidup.

Next stop : Tanjung Bira!