Seumur hidup gue, gue nggak pernah dapat yang namanya lotere, undian, kuis atau doorprize. Baik itu hadiahnya mobil, motor atau sekadar payung cantik.

Nggak pernah.

Kan sering tuh di pameran-pameran, kita disuruh meletakkan kartu nama trus diundi. Atau di acara outing kantor, lalu dipilih nomor secara acak buat dapetin hadiah.

Gue nggak pernah dapat begituan. Ntah karena sial atau tangan gue bau aja untuk urusan begituan. Kenapa gue cerita ini sebagai awal? Well, keep reading.

Kembali ke cerita penyakit gue.

Jika semua lancar dan tidak ada masalah, hari ini adalah hari terakhir gue di rumah sakit. Iya, setelah dua bulan bersarang di rumah sakit akibat GBS ini, besok gue sudah bisa keluar dan melanjutkan pengobatan rawat jalan.

Untuk yang penasaran kondisi gue seperti apa, gue sekarang sudah jauh lebih baik. Kaki kanan dan kiri sudah mulai ‘nyambung’ lagi dan sudah bisa digerakkan. Proses yang harus dilakukan sekarang hanyalah fisio terapi untuk mengembalikan kekuatan otot.

Sejak gue menuliskan cerita tentang penyakit gue di sini, banyak sekali ucapan doa yang masuk baik melalui komentar di blog, twitter, ask.fm atau pun pesan secara personal.

Untuk itu, gue berterima kasih.

Di antara semua ucapan yang masuk, banyak pula yang berbagi cerita tentang penyakit GBS yang mereka (atau teman mereka) derita.

Tapi harus diakui, beberapa cerita yang masuk emang nggak enak untuk dibaca.

“Kak, temen aku ada yang kena GBS beberapa tahun yang lalu..”

Oh, okay..

“….tapi sekarang udah meninggal, Kak!”

“……”

Gue menyadari kalau gue nggak bisa melarang untuk orang-orang bercerita tentang pengalaman GBS mereka. Dan memang, untuk beberapa kasus GBS, prognosis (diagnosa akhir) nya berakhir buruk.

Tapi ketika membaca komentar-komentar seperti ini, sebagai seorang penderita, otomatis mental gue langsung jatuh.

Makanya di minggu-minggu awal, gue sangat menghindari membaca cerita apapun tentang GBS dan hanya fokus ke proses penyembuhan. Berusaha sekuat mungkin menjaga pikiran agar tetap positif.

Karena menyerang mental ini lah, di luar negeri, pasien GBS juga diwajibkan memiliki seorang psikolog (selain dokter saraf dan dokter-dokter lain tentu saja) yang mendampingi dan menjadi tempat curhat ketika pasien sedang merasa down.

Namun ketika gue angkat masalah ini ke orangtua gue,

“Yah, apa abang nggak perlu dapet psikolog nih dalam masa penyembuhan?”

“Buat apa?”

“Ya buat curhat aja kalau lagi stress”

“Aduh, buat apa? Curhat aja ama Allah. Mengadu ama Yang Di Atas”

“…….”

Baiklah. Sekarang gue tau kenapa psikolog susah laku di Indonesia.

Di antara semua cerita tentang cerita GBS yang masuk, satu menjadi favorit gue. Cerita gue dapat ketika salah satu GBS survivor datang menjenguk gue.

Dia adalah suami dari salah satu kolega di kantor. Namanya Mas Jay.

“Iya, saya juga kena dulu.” katanya beberapa saat setelah memasuki kamar rumah sakit.

“Wah, iya Mas? Sekarang gimana?” gue melihatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, karena dia terlihat biasa-biasa saja.

“Udah balik sih semua sih, cuma sensorik aja belum 100%.”

“Sensorik gimana, Mas?” gue nggak mengerti

“Ya kalau gue masukin tangan gue ke dalam oven, lama baru nyadar kalau itu panas.”

“…..”

“Saya sih nggak ada niat masukin tangan saya ke oven, Mas.” lanjut gue.

“Hahaha..”

“Wah, jarang nih saya ketemu sesama penderita GBS.” kata gue bersemangat.

“Oh iya, ini lotere nih. Hanya orang-orang beruntung yang dapat ngerasain GBS.” katanya sambil tertawa.

Gue hanya tersenyum kecut. Betapa hebatnya orang di depan gue ini. Di saat gue udah nangis-nangis darah, orang ini masih menganggap GBS adalah lotere. Lotere apaan nggak enak begini?!

Gue kembali mengingat pengalaman gue yang nggak pernah menang lotere apapun.

Sometimes if we think about it, it is funny how our lives treat us.

Lotere yang gue pengen dapetin, malah nggak dapet. Dan kali ini, gue malah menang lotere yang sebenarnya nggak pengen gue alami.

Sebuah lotere bernama Guillian Barre Syndrome.

“Tenang lah, lo udah kuat ini. Itungannya lo cepet ini recovery-nya” kata Mas Jay sambil melihat kaki kanan gue yang sudah bergerak-gerak.

Mas Jay lalu bercerita tentang pengalaman GBS nya. Berapa lama proses recovery-nya, dokter rekomendasinya hingga tips dan trik selama proses penyembuhan.

“Gue dulu targetnya biar bisa naik motor lagi.” kata Mas Jay bersemangat.

“Kalau saya pengen main bola lagi, Mas.”

“Nah itu, jadi kan pemicu semangat. Tapi bisa lah lo. Bentar lagi juga main bola lagi.” dia kembali menyemangati gue.

“Sering sharing tentang GBS kayak gini, Mas?”

“Udah beberapa kali lah. Karena gue tau, GBS ini menyerang mental juga.”

Gue mengangguk setuju.

“…Ada yang pasien terakhir gue jenguk, cewek, udah kena mentalnya jadi udah males latihan. Sembuhnya lama. Dia mengeluh nggak bisa gerak, nggak bisa kerja, nggak bisa ngerawat anak. Sedih melulu. Jadi ya gitu, recovery nya lama.”

Suara pendingin ruangan menjadi selingan di antara jeda kalimat Mas Jay.

“Ini tuh the power of will sih, Ta. Cuma lo yang bisa menentukan sejauh apa lo pengen sembuh, Karena proses penyembuhannya emang menyakitkan dan melelahkan. Belajar berjalan lagi. Belajar berlari lagi. Ya nanti lo kayak anak bayi sih.” ujar Mas Jay.

“…cuma lo bisa lah. Masih muda ini. Kata dokter gue, yang mudanya kena GBS biasanya terhindar dari penyakit tulang pas tua nya. Kayak osteoporosis gitu. Jadi angap aja lo ambil penyakitnya di depan. Hahaha.”

 “Wah serius, Mas?” gue setengah gak percaya.

“Kata dokter gue sih, gue yaaa… aminin aja.”

Setelah satu jam bercakap-cakap di kamar rumah sakit, Mas Jay dan istrinya pamit pulang.

Di antara deru pendingin ruangan, ucapan dan dorongan semangat dari Mas Jay terus terngiang di kepala gue.

Gue pengen kayak Mas Jay. Suatu saat nanti ketika sembuh, gue akan menjenguk pasien-pasien GBS untuk sharing dan memberikan mereka semangat untuk sembuh. Sama seperti yang sudah Mas Jay lakukan ke gue.

“GBS itu lotere. Dengan perbandingan 1:100.000, lo cukup beruntung dipilih untuk mengalami penyakit ini.”

Padahal di minggu-minggu awal gue sakit, gue sempat mempertanyakan penyakit gue. Kenapa gue yang harus mengalami ini?

“God, why me?”

And I think, probably, God answered “Why not?”

Seumur hidup, gue nggak pernah menang lotere. Dan kali ini, gue cukup beruntung untuk dapat dan (semoga) kuat bertahan dari lotere itu.

Dan sepertinya, gue harus memanfaatkan lotere itu dengan cara yang hebat.